Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Menjadi Manusia Bermartabat dengan Puasa

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 27 April 2021 14:10 2:10 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 27 April 2021 14:10
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | DALAM majalah Serial Khutbah Jum’at No. 2 (1978: 10-15), ada khutbah menarik yang disampaikan oleh Buya M. Natsir terkait al-Qur`an dan bulan Ramadhan. Judulnya, Al-Qur`an Penuntun Rohani Umat Manusia. Meski khutbahnya hanya 6 halaman, namun secara nilai masih relevan untuk diangkat dalam tulisan ini.

Ada banyak panggilan dalam al-Qur`an yang ditujukan kepada orang-orang beriman. Termasuk dalam ayat puasa (QS. Al-Baqarah [2]: 183), juga ada panggilan seperti ini. Panggilan seperti ini, tandas Natsir, tentunya tertuju pada manusia benar-benar hidup.

Apa yang dimaksud dengan manusia yang benar-benar hidup? Kata beliau adalah manusia yang bukan sekadar bernafas sebagaimana hewan, tapi adalah manusia bermartabat yang jika dipanggil oleh Allah dan Rasulnya segera memenuhinya. Ini tercermin dalam firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS: Al-Anfal [8]: 24).

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

Lebih lanjut Natsir semakin memperjelas, “Hidup artinya berkembang maju, maka seorang mukmin dipanggil oleh Al-Qur`an dan dipanggil oleh Sunnah Rasul. Jawablah panggilan-panggilan dan seruan daripada Al qur`an itu dengan amalmu.” Artinya, hidup akan berarti jika mau memenuhi panggilan Allah dan Rasulnya dengan amal nyata, bukan sekadar retorika.

Baca: Inilah Amalan-amalan Pendamping Puasa

Setelah membaca keterangan Buya Natsir, penulis jadi ingat pesan Ibnu Mas’ud Ra. kepada orang yang meminta nasihat kepada beliau. Pesannya ringkas, namun bernas:

إِذَا سَمِعْتَ اللَّهَ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا فَأَرْعِهَا سَمْعَكَ فَإِنَّهُ خَيْرٌ يَأْمُرُ بِهِ أَوْ شَرٌّ يَنْهَى عَنْهُ.

“Jika engkau mendengar Allah berfirman: ‘Wahai orang-orang beriman!’, maka perhatikan dengan saksama, karena setelah itu ada kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang.” Jadi, kadar martabat kita sebagai umat Islam bisa dilihat dari seberapa antusias respon dan perhatian kita pada panggilan Allah.

Ketika orang mukmin memenuhi panggilan Allah dan mengejawantahkannya dengan amal, maka dia akan menjadi mukmin yang maju. Al-Qur`an yang diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan, membimbing manusia ke arah kemajuan.

Tutur Natsir, “Al-Quran diturunkan Allah s.w.t. untuk menjadikan umat manusia dari tahap ke tahap kata orang sekarang meningkat maju selangkah demi selangkah, maju dalam arti lahir dan bathiniyah.”

Dengan demikian, dalam konteks perintah puasa bagi orang-orang beriman, maka itu sejatinya merupakan suatu proses yang membuat manusia bertambah maju dan bermartabat. Tentu ketika panggilan itu dipenuhi dengan baik dan direalisasikan dalam wujud amal nyata.

Setelah itu, M. Natsir fokus pada penjelasan hikmah ibadah puasa. Nilai puasa adalah agar membentuk pribadi takwa. Yaitu yang pandai mengendalikan diri atau menjaganya dari nafsu yang tak terkendali. Kepiawaian dalam mengendalikan diri ini, tutur Natsir bisa meninggikan martabat orang Islam.

Terkait hal ini beliau menjelaskan, “Ibadah puasa adalah satu panggilan Allah yang harus disambut dengan amal untuk keperluan kita sendiri, supaya berkembang dan tumbuh menjadi manusia lebih baik dari sebelumnya kita berpuasa.”

Kata kunci yang bisa diambil dari penjelasan Buya Natsir ialah bahwa ibadah puasa merupakan panggilan Allah Ta’ala  yang harus dipenuhi. Ketika dipenuhi, maka akan membuat manusia menjadi maju bermartabat. Meminjam bahasa surah Al-Baqarah 183, menjadi orang yang berada pada level takwa.

Menariknya, ujung ayat itu menggunakan fi’il mudhari’ (kata kerja yang menunjukkan waktu sekarang dan yang akan datang). Artinya apa? Takwa harus terus diupayakan. Batasnya adalah sepanjang hayat.

Selagi nyawa masih dikandung badan, maka upaya untuk menjadi manusia maju bermartabat pada tataran takwa, harus terus diusahakan.Ini tidak akan tercapai bagi orang yang berpikir sempit.

Misalnya hanya memandang Ramadhan, ibadah puasa serta amalan-amalan yang ada di dalamnya hanya dikerjakan saat itu juga. Tapi, spirit dan nilai Ramadhan harus tetap dipegang sepanjang hayat.

Baca: Manfaat Psikis Ibadah Puasa

Penulis jadi teringat salah seorang generasi saleh terdahulu yang menandaskan bahwa seburuk-buruk kaum adalah yang hanya menegenal hak Allah hanya pada bulan Ramadhan. Artinya, orang yang memperlakukan Ramadhan hanya sebagai ibadah musiman dan nilai-nilainya tidak dijalankan pada bulan-bulan lain, maka dia termasuk manusia yang buruk.

Menurut catatan Ibnu Rajab Al-Hanbali, menukil sebuah riwayat yang beliau katakan Marfu’, seandainya orang mengetahui kandungan Ramadhan, maka dia pasti akan berharap sepanjang tahun dijadikan sebagai Ramadhan. Memang kesadaran semacam ini tidak banyak yang memikirkannya.

Umur umat Islam, kata Nabi, antara 60-70. Itu artinya sangat singkat dibanding umat-umat terdahulu misalnya zaman Nabi Adam atau Nuh yang sampai seribu tahun. Namun, dengan adanya bulan Ramadhan, umat Islam bisa mendapatkan kualitas dan ketinggian martabat melebihi umat-umat sebelumnya.

Dalam bulan Ramdhan ada malam kemulian (lailatul qadar) yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Dan masih banyak fasilitas mewah yang disediakan Allah pada bulan yang penuh dengan ampunan, rahmat dan berkah ini.

Hanya saja, itu berlaku bagi orang yang sungguh-sungguh dengan landasan iman dan ketulusan harapan kepada Allah. Masalahnya kemudian, maukah kita menjadi orang yang maju, bermartabat hingga pada level takwa, sebagaimana penjelasan Natsir tadi? Setiap orang secara lisan sangat mudah menjawab mau. Tapi, yang benar-benar akan sukses menggapainya adalah orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasulnya dengan amal nyata, bukan hanya kata-kata.

Semoga, kita tak masuk dalam kategori orang celaka yang dibahasakan Nabi, “mendapati hadirnya bulan Ramadhan, tapi saat Ramadhan usai, tak mendapat ampunan Allah.” Artinya, bukan malah menjadi manusia maju dan bermartabat, tapi menjadi manusia yang gagal dan celaka.*/Mahmud Budi Setiawan, LC

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:PuasaPuasa RamadhanRamadhan 2021
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bernyanyi Dianggap Terapi Manjur untuk Pasien, Bagaimana dengan Bacaan Al-Quran?
Tulisan selanjutnya Investigasi KRI Nanggala 402 TNI AL Pastikan Bakal Investigasi Tenggelamnya KRI Nanggala-402

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?