Jangan lagi melihat sahur sebagai beban yang memutus mimpi indah di penghujung malam. Lihatlah ia sebagai momen di mana Anda menjadi pusat perhatian penghuni langit. Di balik segelas air yang Anda teguk, ada rahmat Tuhan yang mengalir dan doa malaikat yang membubung tinggi.
Hidayatullah.com | Sahur sering dianggap rutinitas biasa di bulan Ramadhan: sekadar melawan kantuk dan mengisi perut agar kuat berpuasa. Padahal, Nabi SAW menekankan bahwa di dalam aktivitas sahur ada keberkahan, bahkan Allah dan malaikat pun bershalawat untuk orang yang sedang bersahur. Ia bukan hanya soal makanan, tapi tanda ketaatan, penguat niat, dan pembeda umat Islam dari ibadah puasa lainnya.
Dalam kitab syarah “Faidh al-Qadir Syarh al-Jāmi’ ash-Shaghīr” (IV/137) karya Imam Abdur Ra’uf al-Munawi, kita akan mendapatkan informasi menarik bahwa meja makan sahur sebenarnya adalah panggung terjadinya dialog kosmis antara bumi dan langit. Sahur bukan sekadar urusan metabolisme atau strategi bertahan hidup, ia adalah undangan eksklusif yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:
السُّحُورُ كُلُّهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
“Makan sahur itu seluruhnya adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah seorang di antara kalian hanya meminum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang melaksanakan sahur.”
Imam al-Munawi menjelaskan bahwa kata kunci dalam sahur adalah berkah, yang secara etimologis berarti ziyādah atau tambahan yang terus tumbuh. Al-Munawi membedah bahwa tambahan ini bersifat multidimensi.
Pertama, adanya dimensi ketahanan fisik di mana sahur memberikan tambahan kekuatan agar tubuh tidak tumbang, yang merupakan bentuk kasih sayang Islam agar penganutnya tidak menyiksa diri.
Kedua, dimensi legalitas yang dicintai, di mana sahur adalah perayaan atas kemurahan hati Tuhan yang memberikan izin makan hingga fajar, dan Dia senang jika hamba-Nya mengambil keringanan tersebut.
Ketiga, dimensi eskatologis berupa tambahan pahala yang tidak terlihat oleh mata namun tercatat di sisi-Nya. Bahkan, saking krusialnya momen ini, seteguk air pun sudah cukup untuk mengaktifkan protokol keberkahan tersebut. Ini membuktikan bahwa yang diburu bukan kenyangnya perut, melainkan hadirnya jiwa di waktu tersebut.
Puncak dari kemuliaan sahur terletak pada janji shalawat Allah dan malaikat, sebuah keistimewaan yang jarang disadari. Al-Munawi merinci bahwa shalawat Allah kepada orang yang bersahur bermakna pemberian rahmat. Ketika Anda duduk dengan mata mengantuk di depan piring sahur, Allah sedang memandang Anda dengan tatapan kasih sayang yang menenangkan jiwa dan mempermudah segala urusan di hari itu.
Sementara itu, shalawat malaikat bermakna istighfar atau permohonan ampunan. Di saat Anda sibuk mengunyah, makhluk-makhluk suci yang tidak pernah bermaksiat justru sibuk membisikkan nama Anda di hadapan Sang Pencipta untuk memohonkan ampunan atas dosa-dosa Anda. Ini adalah motivasi maha dahsyat yang seharusnya membuat kita malu jika melewatkan sahur hanya karena alasan malas bangun.
Lebih dalam lagi, al-Munawi menyebut sahur sebagai waktu untuk menambah nikmat dan menolak petaka. Dengan menjalankan sunnah ini, seseorang sebenarnya sedang membangun benteng spiritual karena sahur melatih ketaatan dalam kelembutan dan mengubah aktivitas biologis makan menjadi aktivitas teologis ibadah.
Keberkahan ini mencakup peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan, di mana orang yang bersahur dianggap menghargai waktu-waktu mustajab karena saat itu bertepatan dengan waktu turunnya Tuhan ke langit dunia untuk mengabulkan doa.
Secara transmisi hadits, meski terdapat diskusi mengenai perawi bernama Ibnu Rifa’ah, namun mayoritas ulama tetap memegang teguh hadits ini sebagai motivasi amal yang kuat, terutama karena sahur adalah pembeda identitas puasa umat Islam dengan ahli kitab.
Oleh karena itu, jangan lagi melihat sahur sebagai beban yang memutus mimpi indah di penghujung malam. Lihatlah ia sebagai momen di mana Anda menjadi pusat perhatian penghuni langit. Di balik segelas air yang Anda teguk, ada rahmat Tuhan yang mengalir dan doa malaikat yang membubung tinggi.
Sahur adalah cara paling sederhana dan indah untuk dicintai oleh semesta, mengubah rutinitas dini hari menjadi limpahan ampunan yang tak terhingga. Dengan memahami hakikat ini, setiap suapan di waktu sahur bukan lagi sekadar pengganjal lapar, melainkan jembatan menuju ridha Illahi. (MBS)




