Kisah ini mengingatkan kita di bulan Ramadhan : jangan sampai saking semangatnya membagikan momen ibadah di media sosial, kita jadi seperti si Badui yang membatalkan kekhusyukan demi sebuah “Like” atau pujian “Masya Allah, saleh sekali”.
Hidayatullah.com | Ibadah seharusnya menjadi rahasia antara hamba dan Sang Pencipta. Sayangnya, bagi sebagian orang, godaan untuk dipuji terkadang jauh lebih berat daripada menahan haus dan lapar. Salah satu kisah klasik yang paling menggelitik mengenai fenomena ini terekam dalam sebuah anekdot tentang seorang Arab Badui yang tertangkap basah sedang berusaha keras menjaga citra kesalehannya.
Suatu hari, ada seorang Arab Badui yang sedang melaksanakan shalat dengan begitu khusyuk. Di sekitarnya, sekelompok orang memperhatikan gerak-geriknya. Karena melihat gerakan shalatnya yang begitu tenang dan tampak sangat spiritual, orang-orang tersebut mulai berbisik-bisik memujinya.
“Lihatlah orang itu, betapa khusyuk shalatnya,” kata salah satu dari mereka.
“Benar, dia tampak seperti orang yang sangat saleh dan ahli ibadah,” sahut yang lain.
Mendengar pujian yang mengalir deras ke telinganya, konsentrasi si Badui mulai goyah. Bukannya semakin khusyuk, hatinya justru berbunga-bunga. Ia merasa pujian tentang “saleh” saja tidak cukup untuk menggambarkan betapa luar biasanya dia hari itu.
Saking inginnya menambah daftar alasan agar orang-orang semakin kagum, si Badui melakukan hal yang tak terduga. Di tengah-tengah shalatnya, ia tiba-tiba berhenti, membatalkan shalatnya dengan sengaja, lalu menoleh ke arah kerumunan orang tadi dengan wajah serius.
Tanpa rasa berdosa, ia berkata: “Dan di samping itu (saleh), ketahuilah bahwa sesungguhnya aku juga sedang berpuasa!” Kisah ini bisa dibaca dalam buku “Akhbāru al-ḥumqā’ wa al-mughafalīn” (1990: 126) karya Al-Hafizh Ibnu Jauzi.
*****
Kisah ini merupakan sindiran tajam namun jenaka tentang sifat riya (pamer). Si Badui tersebut begitu haus akan pengakuan sampai-sampai ia rela merusak ibadah yang sedang ia lakukan (shalat) hanya untuk memamerkan ibadah lainnya (puasa).
Alih-alih mendapatkan pahala dari keduanya, ia justru kehilangan pahala shalatnya karena berhenti di tengah jalan, dan kemungkinan besar kehilangan pahala puasanya karena niat yang sudah bergeser menjadi ingin dipuji manusia.
Lebih dari itu, kisah ini mengingatkan kita di bulan Ramadan ini: jangan sampai saking semangatnya membagikan momen ibadah di media sosial, kita jadi seperti si Badui yang membatalkan kekhusyukan demi sebuah “Like” atau pujian “Masya Allah, saleh sekali”.
Dalam menjalankan ibadah, landasan utama yang harus dipegang oleh setiap Muslim adalah pemurnian tauhid sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 110 yang berbunyi:
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.”
Syarat diterimanya amal bukan sekadar melakukan perbuatan baik, melainkan harus memenuhi dua rukun, yakni sesuai dengan syariat Nabi Muhammad SAW dan bersih dari segala bentuk kesyirikan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.
Keseriusan dalam menjaga keikhlasan ini menjadi sangat krusial karena Allah SWT adalah Zat yang sama sekali tidak membutuhkan sekutu dalam ibadah hamba-Nya. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits Qudsi di mana Allah Ta’ala berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku adalah Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa yang beramal suatu amalan lantas ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku dalam amalan tersebut, maka Aku akan meninggalkan dia dan syiriknya.” (HR. Muslim)
Ketika riya atau niat selain Allah menyusup ke dalam amal, maka Allah akan berlepas diri dari amal tersebut dan membiarkannya sia-sia, karena Allah hanya menerima apa yang dikerjakan murni demi wajah-Nya.
Lebih jauh lagi, riya dikategorikan sebagai ancaman yang sangat halus namun mematikan bagi keimanan seseorang, yang sering disebut sebagai syirik khafi atau syirik yang tersembunyi. Rasulullah SAW bahkan mengungkapkan kekhawatiran yang luar biasa terhadap penyakit hati ini melalui hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ قَالُوا: بَلَى، قَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ
“Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang lebih aku takuti menimpa kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal?” Para sahabat menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Syirik yang tersembunyi”. Hal ini menunjukkan bahwa riya bisa lebih berbahaya daripada fitnah Dajjal karena sifatnya yang samar dan seringkali tidak disadari oleh pelakunya saat sedang beribadah.
Sebagai ilustrasi nyata dari syirik yang samar tersebut, Rasulullah SAW memberikan contoh perilaku seseorang yang memperbagus lahiriah ibadahnya hanya demi pandangan manusia, sebagaimana lanjutan hadits di atas:
يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
“Seseorang berdiri lalu mengerjakan shalat, kemudian ia memperbagus salatnya karena ia melihat ada orang lain yang memperhatikannya”. Dalam konteks ini, motivasi untuk mendapatkan pujian, kedudukan, atau rasa hormat dari sesama makhluk telah menggeser tujuan utama ibadah.
Oleh karena itu, menjaga hati agar tetap lurus hanya kepada Allah merupakan perjuangan konstan yang harus dilakukan agar amal yang kita kerjakan tidak berubah menjadi debu yang beterbangan di akhirat kelak. (MBS)




