Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman

Mahmud
Terakhir diupdate: 16 Maret 2026 05:01 5:01 am
Mahmud
Dipublikasikan 16 Maret 2026 16:00
Bagikan
Bagikan

Ngabuburit bukan sekadar soal menunggu buka puasa. Di dalamnya terkandung pesan nilai kegembiraan yang dinanti orang berpuasa yang berdimensi dunia-akhirat (saat berbuka dan saat bersua Allah di surga).

Hidayatullah.com |  SESEORANG bermaksud bercanda dengan Nashruddin Juha sesaat sebelum waktu maghrib di salah satu hari bulan Ramadhan. Ia meminta Juha untuk menunjukkan jam kepadanya. Karena ingin tahu seberapa lama lagi waktunya berbuka.

Saat itu, sang Syekh sedang tenggelam dalam lautan pikirannya, sehingga ia merasa terganggu dengan pertanyaan itu dan bermaksud membalas kelakar orang tersebut. Maka terjadilah dialog berikut:

Laki-laki          : “Jam berapa sekarang, wahai Tuanku Syekh?”

Juha                 : “Aku hanya punya satu jam.”

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Jubah 1.000 Dirham: Totalitas Tamim Ad-Dary Menjemput Lailatul Qadar
Bulan Puasa Melatih Pola Hidup Sederhana

Laki-laki          : “Bukan itu maksudku! Tapi, sudah sampai berapa (jamnya)?”

Juha                 : “Demi Allah, harganya beserta rantainya dan upah perantaranya sudah mencapai 180 piaster.”

Laki-laki          : “Subhanallah! Sepertinya aku belum bisa membuatmu paham. Berapa (waktu) yang tersisa menuju matahari terbenam, wahai Tuan?”

Juha                 : “Apakah kamu ingin berbuka puasa di tempat kami? Kamu datang di waktumu dan juga waktuku, padahal pikiranku sedang sibuk dengan hal itu. Biar kusebutkan menu makanannya: roti gandum kualitas tinggi, daun bawang, melon, mentimun, dan mungkin ada sedikit nasi bulgur yang gurih.”

Laki-laki          : “Tidak, wahai Syekh, sepertinya Anda sengaja bercanda. Maksudku, kita sekarang berada di zaman (waktu) apa?”

Juha                 : “Kita sekarang berada di pertengahan musim panas, tepat di musim yang terik.”

Laki-laki          : “Demi Allah, sepertinya aku sudah jadi bahan tertawaan bagi Syekh Nasruddin, dan inilah yang aku khawatirkan. Wahai pria, aku bertanya kepadamu: Zaman (masa) apakah sekarang?”

Juha                 : “Wahai anakku, apakah ada orang yang tidak tahu bahwa kita sekarang berada di akhir zaman?” (Dr. Darwisy Juwaidi, Nawādir Juhā al-Kubrā, 171)

Juha dengan sengaja memutarbalikkan pertanyaan si pria dari makna “waktu saat ini” menjadi makna fisik atau makna eskatologis (akhir zaman) untuk mengerjai balik orang yang mengganggunya saat sedang lapar menunggu berbuka.

*****

Bagi umat Islam di Indonesia, di beberapa wilayah, ada tradisi di bulan Ramadhan yang khas disebut ngabuburit. Saat menunggu waktu buka puasa dengan berburu takjil, sekadar jalan-jalan, ngobrol santai dan semacamnya. Rasa asyik saat menunggu beduk itu ternyata bukan sekadar perasaan biasa.

Islam memandang momen berbuka bukan hanya soal urusan perut yang kembali terisi. Ada dimensi spiritual yang membuat detik-detik menjelang Magrib terasa begitu sakral. Rasulullah SAW bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam buku “Syarh Jawāmi’ al-Akhbar” (VI/8), Syaikh Abdul Karim al-Khudhair menjelaskan bahwa kegembiraan saat berbuka adalah sesuatu yang bersifat Jibiliyah (fitrah manusiawi). Secara alamiah, manusia pasti senang saat apa yang ia butuhkan setelah tertahan lama akhirnya kembali diizinkan.

Namun, Syaikh memberikan perspektif yang sangat tajam: Seandainya tidak ada hadits ini, kita mungkin akan menganggap rasa senang saat berbuka adalah hal yang buruk. Mengapa? Karena dikhawatirkan rasa senang itu muncul karena kita “merasa lepas dari beban ibadah” yang berat.

Beliau menekankan, agar kegembiraan ini bernilai pahala, kita harus mengarahkan niatnya. Pertama, Bahagia karena kesempurnaan ketaatan. Bersyukur bahwa Allah telah menjaga kita seharian penuh tanpa ada halangan (seperti sakit) yang memaksa kita berbuka. Kedua, Bahagia karena menikmati pemberian Allah. Kembali menikmati apa yang Allah halalkan bagi kita sebagai bentuk syukur atas karunia-Nya.

Tipe Orang Saat Menunggu Berbuka (Ngabuburit)

Syaikh al-Khudhair memberikan perbandingan menarik tentang bagaimana orang menghabiskan waktu sorenya:

Tipe Pertama: Orang yang terus-menerus melihat jam, menghitung menit demi menit karena merasa terbebani dengan puasanya. Jika ia merasa sesak dengan puasa, tentu kegembiraannya tidak bernilai pahala.

Tipe Kedua: Orang yang justru “lupa” dengan waktu berbukanya karena asyik berzikir atau membaca Al-Qur’an. Baginya, waktu azan atau tidak terasa sama saja karena ia sedang menikmati ibadah.

Tentu, tipe kedua adalah yang paling sempurna kedudukannya. Namun, bagi kita yang merasakan lapar (terutama di hari yang terik), merasa senang saat waktu berbuka tiba adalah hal yang dimaafkan dan manusiawi, selama hati tetap ikhlas menjalani puasa.

Jika kegembiraan di dunia adalah saat berbuka, maka kegembiraan hakiki adalah saat bertemu Allah kelak. Syaikh menjelaskan bahwa saat itulah seorang hamba akan melihat ganjaran yang tak terbayangkan. Salah satunya adalah pintu Ar-Rayyan, pintu eksklusif di surga yang hanya boleh dilewati oleh mereka yang sanggup menahan haus dan lapar demi Allah.

Ngabuburit mengajarkan kita tentang sabar. Kita belajar bahwa segala sesuatu ada waktunya. Meski makanan sudah tersaji di depan mata sejak pukul lima sore, kita tetap memilih untuk menanti perintah-Nya melalui suara azan.

Di sela-sela penantian itu, indahnya berbagi juga makin terasa. Lihatlah bagaimana takjil gratis dibagikan di pinggir jalan, atau bagaimana keluarga berkumpul kembali di meja makan; momen yang mungkin jarang terjadi di bulan-bulan lainnya.

Rasulullah SAW mencontohkan bahwa puncak kegembiraan ini tidak harus dirayakan dengan kemewahan yang berlebihan. Cukup dengan beberapa butir kurma atau seteguk air, sesuai tuntunan beliau:

إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ، فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ، فَإِنَّهُ طَهُورٌ

“Apabila salah seorang di antara kamu berbuka, hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena kurma itu keberkahan. Jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu menyucikan.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kesederhanaan inilah yang menjaga agar kegembiraan berbuka tetap bernilai ibadah, bukan sekadar ajang “balas dendam” atau pelampiasan nafsu di meja makan. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlinejenakangabuburitRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bulan Puasa Melatih Pola Hidup Sederhana
Tulisan selanjutnya Jubah 1.000 Dirham: Totalitas Tamim Ad-Dary Menjemput Lailatul Qadar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal

Berita
9 Juli 2026 18:04
Kisah Yono, Tangan Kanan Ustadz Adi Hidayat yang Ogah Jadi Komisaris
Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
Amnesty Kecam Pemberian Tanda Kehormatan pada Modi karena Rekam Jejak HAM
Bakomubin Tolak Normalisasi dan Legalisasi LGBT di Indonesia

Terbaru

  • Waketum PBNU KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa Jelang Muktamar PBNU ke 35
  • Waketum MUI: Penulis Muslim Harus Jadi Penjaga Otoritas Ilmu di Era Digital
  • MUI Gelar IACFS ke-10, Perkuat Peran Fatwa dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia
  • MUI Matangkan Persiapan Kongres Umat Islam Indonesia VIII, Bahas Isu Strategis Keumatan dan Kebangsaan
  • BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal
  • Hampir 6.000 Awak Kapal Masih Tertahan di Teluk Arab
  • Kisah Yono, Tangan Kanan Ustadz Adi Hidayat yang Ogah Jadi Komisaris
  • Amnesty Kecam Pemberian Tanda Kehormatan pada Modi karena Rekam Jejak HAM
  • Seorang Dokter Jerman Bunuh Sedikitnya 15 Pasien
  • TikTok Laporkan Penonaktifan 1,7 Juta Akun Anak ke Komdigi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaInspirasi Ramadhan

Dapur Ramadhan Hammad: 500 Ifthar Harian Plus 50.000 Dirham Lebaran

15 Maret 2026 17:00
Ramadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 8 : Saat Hitungan Sebulan Ramadhan Jadi 120 Hari

15 Maret 2026 11:30
KajianRamadhan

Selain yang Iktikaf, Siapa Saja yang Berpeluang Mendapat Lailatul Qadar?

15 Maret 2026 05:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa

14 Maret 2026 16:15
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?