Ngabuburit bukan sekadar soal menunggu buka puasa. Di dalamnya terkandung pesan nilai kegembiraan yang dinanti orang berpuasa yang berdimensi dunia-akhirat (saat berbuka dan saat bersua Allah di surga).
Hidayatullah.com | SESEORANG bermaksud bercanda dengan Nashruddin Juha sesaat sebelum waktu maghrib di salah satu hari bulan Ramadhan. Ia meminta Juha untuk menunjukkan jam kepadanya. Karena ingin tahu seberapa lama lagi waktunya berbuka.
Saat itu, sang Syekh sedang tenggelam dalam lautan pikirannya, sehingga ia merasa terganggu dengan pertanyaan itu dan bermaksud membalas kelakar orang tersebut. Maka terjadilah dialog berikut:
Laki-laki : “Jam berapa sekarang, wahai Tuanku Syekh?”
Juha : “Aku hanya punya satu jam.”
Laki-laki : “Bukan itu maksudku! Tapi, sudah sampai berapa (jamnya)?”
Juha : “Demi Allah, harganya beserta rantainya dan upah perantaranya sudah mencapai 180 piaster.”
Laki-laki : “Subhanallah! Sepertinya aku belum bisa membuatmu paham. Berapa (waktu) yang tersisa menuju matahari terbenam, wahai Tuan?”
Juha : “Apakah kamu ingin berbuka puasa di tempat kami? Kamu datang di waktumu dan juga waktuku, padahal pikiranku sedang sibuk dengan hal itu. Biar kusebutkan menu makanannya: roti gandum kualitas tinggi, daun bawang, melon, mentimun, dan mungkin ada sedikit nasi bulgur yang gurih.”
Laki-laki : “Tidak, wahai Syekh, sepertinya Anda sengaja bercanda. Maksudku, kita sekarang berada di zaman (waktu) apa?”
Juha : “Kita sekarang berada di pertengahan musim panas, tepat di musim yang terik.”
Laki-laki : “Demi Allah, sepertinya aku sudah jadi bahan tertawaan bagi Syekh Nasruddin, dan inilah yang aku khawatirkan. Wahai pria, aku bertanya kepadamu: Zaman (masa) apakah sekarang?”
Juha : “Wahai anakku, apakah ada orang yang tidak tahu bahwa kita sekarang berada di akhir zaman?” (Dr. Darwisy Juwaidi, Nawādir Juhā al-Kubrā, 171)
Juha dengan sengaja memutarbalikkan pertanyaan si pria dari makna “waktu saat ini” menjadi makna fisik atau makna eskatologis (akhir zaman) untuk mengerjai balik orang yang mengganggunya saat sedang lapar menunggu berbuka.
*****
Bagi umat Islam di Indonesia, di beberapa wilayah, ada tradisi di bulan Ramadhan yang khas disebut ngabuburit. Saat menunggu waktu buka puasa dengan berburu takjil, sekadar jalan-jalan, ngobrol santai dan semacamnya. Rasa asyik saat menunggu beduk itu ternyata bukan sekadar perasaan biasa.
Islam memandang momen berbuka bukan hanya soal urusan perut yang kembali terisi. Ada dimensi spiritual yang membuat detik-detik menjelang Magrib terasa begitu sakral. Rasulullah SAW bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam buku “Syarh Jawāmi’ al-Akhbar” (VI/8), Syaikh Abdul Karim al-Khudhair menjelaskan bahwa kegembiraan saat berbuka adalah sesuatu yang bersifat Jibiliyah (fitrah manusiawi). Secara alamiah, manusia pasti senang saat apa yang ia butuhkan setelah tertahan lama akhirnya kembali diizinkan.
Namun, Syaikh memberikan perspektif yang sangat tajam: Seandainya tidak ada hadits ini, kita mungkin akan menganggap rasa senang saat berbuka adalah hal yang buruk. Mengapa? Karena dikhawatirkan rasa senang itu muncul karena kita “merasa lepas dari beban ibadah” yang berat.
Beliau menekankan, agar kegembiraan ini bernilai pahala, kita harus mengarahkan niatnya. Pertama, Bahagia karena kesempurnaan ketaatan. Bersyukur bahwa Allah telah menjaga kita seharian penuh tanpa ada halangan (seperti sakit) yang memaksa kita berbuka. Kedua, Bahagia karena menikmati pemberian Allah. Kembali menikmati apa yang Allah halalkan bagi kita sebagai bentuk syukur atas karunia-Nya.
Tipe Orang Saat Menunggu Berbuka (Ngabuburit)
Syaikh al-Khudhair memberikan perbandingan menarik tentang bagaimana orang menghabiskan waktu sorenya:
Tipe Pertama: Orang yang terus-menerus melihat jam, menghitung menit demi menit karena merasa terbebani dengan puasanya. Jika ia merasa sesak dengan puasa, tentu kegembiraannya tidak bernilai pahala.
Tipe Kedua: Orang yang justru “lupa” dengan waktu berbukanya karena asyik berzikir atau membaca Al-Qur’an. Baginya, waktu azan atau tidak terasa sama saja karena ia sedang menikmati ibadah.
Tentu, tipe kedua adalah yang paling sempurna kedudukannya. Namun, bagi kita yang merasakan lapar (terutama di hari yang terik), merasa senang saat waktu berbuka tiba adalah hal yang dimaafkan dan manusiawi, selama hati tetap ikhlas menjalani puasa.
Jika kegembiraan di dunia adalah saat berbuka, maka kegembiraan hakiki adalah saat bertemu Allah kelak. Syaikh menjelaskan bahwa saat itulah seorang hamba akan melihat ganjaran yang tak terbayangkan. Salah satunya adalah pintu Ar-Rayyan, pintu eksklusif di surga yang hanya boleh dilewati oleh mereka yang sanggup menahan haus dan lapar demi Allah.
Ngabuburit mengajarkan kita tentang sabar. Kita belajar bahwa segala sesuatu ada waktunya. Meski makanan sudah tersaji di depan mata sejak pukul lima sore, kita tetap memilih untuk menanti perintah-Nya melalui suara azan.
Di sela-sela penantian itu, indahnya berbagi juga makin terasa. Lihatlah bagaimana takjil gratis dibagikan di pinggir jalan, atau bagaimana keluarga berkumpul kembali di meja makan; momen yang mungkin jarang terjadi di bulan-bulan lainnya.
Rasulullah SAW mencontohkan bahwa puncak kegembiraan ini tidak harus dirayakan dengan kemewahan yang berlebihan. Cukup dengan beberapa butir kurma atau seteguk air, sesuai tuntunan beliau:
إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ، فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ، فَإِنَّهُ طَهُورٌ
“Apabila salah seorang di antara kamu berbuka, hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena kurma itu keberkahan. Jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu menyucikan.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kesederhanaan inilah yang menjaga agar kegembiraan berbuka tetap bernilai ibadah, bukan sekadar ajang “balas dendam” atau pelampiasan nafsu di meja makan. (MBS)




