Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Inspirasi RamadhanRamadhan

Bulan Puasa Melatih Pola Hidup Sederhana

Mahmud
Terakhir diupdate: 16 Maret 2026 05:02 5:02 am
Mahmud
Dipublikasikan 16 Maret 2026 05:00
Bagikan
Bagikan

Ramadhan adalah momentum menahan diri, melatih kesederhanaan, dan mengendalikan hawa nafsu. Justru dengan menahan sebagian keinginan, kita belajar arti syukur dan menghindari sikap berlebihan.

Hidayatullah.com | JIKA kita menilik sejarah para ulama besar terdahulu, kesederhanaan adalah mahkota kemuliaan yang menjaga kejernihan akal dan kebersihan hati mereka. Di antara  potret keteladanan yang luar biasa, datang dari sosok Imam Ibrahim bin Ishaq Al-Harbi, seorang ulama hadits dan fiqih terkemuka yang kisahnya bisa dibaca dalam kitab “Shifatu ash-Shafwah” (I/512-513) karya Al-Hafizh Ibnu Jauzi.

Melalui cuplikan riwayat hidupnya, kita diajak untuk merefleksikan kembali makna ibadah, khususnya di bulan puasa, sebagai momentum untuk mengatur ulang pola hidup kita menuju arah yang lebih bersahaja namun kaya secara spiritual.

Dalam catatan sejarah, Ibrahim Al-Harbi menjalani hidup dengan sangat qana’ah. Ia pernah berkata, “Aku menghabiskan tiga puluh tahun umurku hanya dengan dua potong roti. Jika ibuku atau saudara perempuanku membawakannya, aku makan. Jika tidak, aku tetap lapar dan haus sampai malam berikutnya.”

Hal ini bukan sekadar cerita tentang kemiskinan materi, melainkan tentang keteguhan prinsip. Beliau mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjaga agama dan menjaga sunnah Rasulullah SAW. Bagi beliau, urusan perut hanyalah sarana untuk bertahan hidup demi ilmu, bukan tujuan hidup itu sendiri.

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Jubah 1.000 Dirham: Totalitas Tamim Ad-Dary Menjemput Lailatul Qadar
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman

Di sinilah relevansi Ramadhan muncul. Puasa adalah latihan teknis untuk mencapai derajat pengendalian diri tersebut. Saat kita berpuasa, kita belajar bahwa tubuh kita sebenarnya tidak membutuhkan konsumsi yang berlebihan untuk tetap berfungsi dengan baik.

Pola Makan Sederhana di Bulan Puasa

Ibrahim Al-Harbi juga menceritakan bagaimana ia membagi porsi makannya dengan sangat terukur: setengah potong roti dan beberapa butir kurma. Bahkan, ia mengisahkan masa sulit ketika putrinya sakit dan istrinya harus menetap di sana.

Biaya hidup yang ia keluarkan untuk seluruh keperluan rumah tangga selama bulan Ramdhan hanya satu dirham dan beberapa daniq (satuan uang kecil saat itu). “Maka biaya nafkah seluruh bulan Ramadhan hanyalah satu dirham dan empat setengah daniq.”

Jika dikonversi menggunakan harga perak saat ini (asumsi Rp18.000/gram), total pengeluaran Ibrahim Al-Harbi sebesar 1,75 dirham (setara 5,2 gram perak) hanya berkisar Rp. 93.700 untuk kebutuhan rumah tangga selama satu bulan penuh. Angka ini menunjukkan pola hidup yang sangat asketis, di mana biaya hidup hariannya hanya sekitar Rp3.100, sebuah nominal yang bahkan di masa kini hampir tidak cukup untuk membeli satu liter air mineral, namun bagi beliau cukup untuk menyambung hidup dengan setengah potong roti dan beberapa butir kurma.

Data sejarah ini memberikan tamparan keras bagi budaya “balas dendam” saat berbuka puasa di zaman sekarang. Sering kali, pengeluaran konsumsi di bulan Ramadhan justru membengkak dua kali lipat dibanding bulan biasa karena keinginan untuk menyantap berbagai hidangan mewah. Padahal, esensi puasa adalah memindahkan fokus dari meja makan ke hamparan sajian ilmu dan ibadah.

Sahabat beliau, Abu al-Qasim bin Bukair, memberikan kesaksian bahwa mereka tidak mengenal kemewahan makanan. Menu mereka sering kali hanyalah terong bakar, sedikit lemak, atau seikat lobak (Ibnu Jauzi, al-Muntazham fī Tārīkh al-Mulūk wa al-Umam, II/382). Bahkan, ada kutipan menarik saat Ibrahim Al-Harbi berkata kepada seorang penjahit, “Wahai Abu Ali, pergilah bekerja, karena aku punya lobak yang kemarin telah aku makan bagian hijaunya, dan hari ini aku akan makan bagian akarnya.” (Al-Khathib Al-Baghdadi, Tārikh Baghdād, VI/5270

Kesederhanaan menu ini memiliki korelasi langsung dengan ketajaman intelektual. Dalam tradisi Islam, perut yang terlalu kenyang dianggap dapat menumpulkan kecerdasan dan membuat tubuh malas untuk beribadah. Dengan menyederhanakan pola makan −terutama di bulan puasa− energi tubuh yang biasanya habis untuk proses pencernaan yang berat dapat dialihkan untuk aktivitas kognitif dan spiritual seperti membaca Al-Qur’an, menelaah ilmu, dan salat malam.

Strategi Melatih Pola Hidup Sederhana di Bulan Ramadhan

Berdasarkan inspirasi dari kisah Ibrahim Al-Harbi, berikut adalah langkah praktis yang bisa kita terapkan untuk melatih kesederhanaan selama bulan suci:

Pertama, Menerapkan Penghematan Makanan: Alih-alih membeli banyak jenis takjil, fokuslah pada makanan yang memberikan nutrisi esensial seperti kurma dan air putih, sesuai sunnah.

Kedua, Membatasi Anggaran Konsumsi: Coba tetapkan anggaran makan yang lebih rendah dari bulan biasanya, lalu alokasikan selisihnya untuk sedekah. Ini adalah cara konkret mengubah nafsu menjadi amal.

Ketiga, Menghindari Pembuangan Makanan: Kisah Ibrahim yang membagi lobak menjadi dua bagian (daun dan akar) untuk dua waktu makan berbeda mengajarkan kita untuk menghargai setiap butir makanan.

Keempat, Fokus pada Esensi, Bukan Prestise: Seringkali kita berbuka di tempat mewah hanya untuk status sosial. Cobalah untuk lebih sering berbuka dengan menu sederhana di rumah bersama keluarga atau di masjid.

Bulan puasa adalah semacam sekolah tahunan yang melatih kita untuk melepaskan keterikatan pada benda-benda duniawi. Jika kita mampu melewati Ramadhan dengan pola hidup yang lebih sederhana sebagaimana yang dicontohkan para ulama seperti Ibrahim Al-Harbi, maka kita telah memenangkan inti dari perjuangan melawan hawa nafsu. Kesederhanaan bukanlah tentang hidup menderita, melainkan tentang merasa cukup dengan apa yang ada sehingga hati kita bebas untuk terbang menuju rida-Nya.

Sebagai penutup, riwayat dari Umar kepada ‘Āshim bin ‘Umar berikut ini juga mengandung pelajaran penting bagi kita, khususnya di bulan Ramadhan agar menjaga pola hidup sederhana.

Suatu hari, Umar menegur putranya yang makan daging hanya karena “ingin” atau “terlalu rindu” pada makanan itu. Teguran beliau:

وَكُلَّمَا قَرِمْتَ إِلَى شَيْءٍ أَكَلْتَهُ، كَفَى بِالْمَرْءِ سَرَفًا أَنْ يَأْكُلَ كُلَّ مَا اشْتَهَى

“Apakah setiap kali engkau ingin sesuatu lalu engkau memakannya? Cukuplah seseorang dianggap berlebih-lebihan bila ia makan setiap apa yang ia inginkan.” (Ibnu Al-Mubarak, az-Zuhd, 266)

Pesan utamanya jelas: tidak semua keinginan harus dipenuhi, apalagi di bulan puasa. Ramadhan adalah momentum menahan diri, melatih kesederhanaan, dan mengendalikan hawa nafsu. Justru dengan menahan sebagian keinginan, kita belajar arti syukur dan menghindari sikap berlebihan. Wallāhu a’lam bi ash-Shawāb. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bulan puasaHeadlinehidup sederhanaRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Iran akan Terus Buru Benjamin Netanyahu kalau Masih Hidup
Tulisan selanjutnya Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan

Berita
12 Juni 2026 21:48
Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
Vape Piu Piu Bikin Pengguna Seperti Zombie, Kata Kepolisian Malaysia

Terbaru

  • Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
  • Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli
  • UEA Bantah Laporan Transfer $3 Miliar ke Iran
  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaInspirasi Ramadhan

Dapur Ramadhan Hammad: 500 Ifthar Harian Plus 50.000 Dirham Lebaran

15 Maret 2026 17:00
Ramadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 8 : Saat Hitungan Sebulan Ramadhan Jadi 120 Hari

15 Maret 2026 11:30
KajianRamadhan

Selain yang Iktikaf, Siapa Saja yang Berpeluang Mendapat Lailatul Qadar?

15 Maret 2026 05:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa

14 Maret 2026 16:15
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?