Hidayatullah.com—Ngabu burit adalah istilah yang biasa digunakan untuk menunggu buka puasa. Banyak hal yang biasanya dilakukan selama menunggu buka puasa. Ada yang berkumpul dengan keluarga, mengadakan silaturrahim, reuni, halalbihalal, buka puasa bersama, pengajian dan lain sebagainya.
Bagi sebagian anak muda, kadang ngabu burit dihabiskan dengan jalan-jalan sore. Wisata kuliner mungkin salah satu jalan-jalan ngabu burit yang cukup positif dan bermanfaat. Tapi terkadang ada juga anak-anak muda yang menghabiskan waktunya itu hanya dengan nongkrong di alun-alun, mal, atau tempat-tempat lainnya.
Kegiatan ngabu burit yang bermanfaat sebenarnya memiliki banyak alternatif daripada. Jadi tidak ada alasan lantas ngabu burit diisi dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Salah satunya alternatif kegiatan ngabu burit positif adalah yang biasanya dilakukan mahasiswa Indonesia di Mesir atau yang kuliah di Universitas Al-Azhar.
Bulan Ramadhan bagi kebanyakan mahasiswa Indonesia di Mesir—yang biasanya disebut dengan Masisir—adalah ajang untuk silaturrahim, peningkatan ibadah, dan pendalaman keilmuan. Oleh karenanya, biasanya Masisir mengadakan buka puasa bersama sebagai ajang silaturrahim, baik sesama daerah dalam lingkup organisasi kekeluargaan maupun dalam lingkup antardaerah atau antarorganisasi kekeluargaan.
Sebagai bagian dari peningkatan atau pendalaman keilmuan, acara buka puasa bersama itu diisi dengan kajian-kajian keagamaan. Salah satu contohnya adalah acara yang bertajuk “Ramadhan Bahagia” yang diadakan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul Ulama (PCINU) Mesir. Dalam acara ini, PCINU menggandeng 11 organisasi Masisir.
Acara “Ramadhan Bahagian” ini bentuk silaturrahim antarorganisasi ini yang diisi dengan kajian atau talkshow keilmuan Islam. Tujuannya untuk menjalin silaturrahim antarorganisasi Masisir, dan sharing ilmu sesama mahasiswa.
“Ini adalah agenda tahunan di bulan Ramadhan yang diadakan oleh PCINU Mesir. Di antara tujuannya adalah untuk menjalin silaturahim antarorganisasi Masisir dan sharing keilmuan,” tutur Abdul Ghani, ketua panitia kepada Hidayatullah.com.
Masih banyak lagi acara sejenis yang sering diadakan oleh Masisir menjelang buka puasa. Kegiatan-kegiatan seperti ini selalu menjamur dan sudah menjadi budaya di tengah Masisir setiap tahunnya di bulan Ramadhan. Bahkan kegiatan seperti ini terus dilestarikan sebagai upaya mentradisikan kajian keilmuan Islam.
Inilah salah satu kegiatan alternatif yang positif dan bermanfaat untuk ngabu burit. Menunggu berbuka puasa pun bisa menjadi sebuah tradisi positif, jika diisi dengan kegiatan-kegiatan positif.
Bulan Ramadhan seharusnya tidak saja menjadi bulan meningkatkan ibadah, tetapi juga menjadi bulan yang tepat untuk meningkatkan keilmuan dan mentradisikan keilmuan Islam.8