Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ramadhan di Mancanegara

Kursi Kosong di Meja Iftar: Duka Warga Gaza di Bulan Ramadhan [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Juni 2018 09:41 9:41 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Juni 2018 09:15
Bagikan
Keluarga Ibrahim Altobasi
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Kejutan ulang tahun yang tidak pernah ada

Alaa mengatakan dia berusaha selama sembilan tahun untuk mendapatkan anak,”namun akhirnya anak kami, Abdullah, lahir dan membuat dunia kami lebih cerah pada 14 Mei, 2017 jam 1 malam. Satu tahun kemudian, di hari dan jam yang sama dengan kelahiran Abdullah, Shaher meninggalkan dunia ini.”

Masih menjadi seorang pelajar yang ingin mendapatkan gelar sarjana jurusan media, kekuatan, kesabaran dan kemauan Alaa membantunya membesarkan bayi kecilnya sendiri.

Baca Juga

Gadis Timor Leste Masuk Islam, Direstui Kedua Orang Tuanya yang Katolik
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Di Pasar Amal Kiswa Warga Saudi Dapat Baju Lebaran Gratis
Seluruh Sopir Taksi Dubai Diberi Uang Bonus Ramadhan

Satu-satunya pencari nafkah di keluarga, al-Madhoun membuka usaha foto kopi di rumahnya untuk mendapatkan penghasilan.

Sehari sebelum dia terbunuh, dia mengatakan pada istrinya bahwa dia telah mengatur sebuah kejutan untuknya dan dia memintanya untuk mempersiapkan ulang tahun pertama bayi mereka.

Istrinya belum tahu apa yang dia rencanakan untuknya, setelah peluru merobek lambung kirinya dan menusuk lambung kanan.

“Abdullah biasanya langsung lari ke pelukan ayahnya ketika ayahnya tiba di rumah. Mereka akan bermain hingga mereka lelah dan ketiduran,” kenang Alaa.

Baca: Inilah Nama-nama Warga Palestina yang Dibunuh Israel Sejak Senin

Dalam sebuah postingan di Facebook, Alaa menulis: “Pada fajar pertama setelah kematianmu, O Abu Abdullah, bayi kita membuatku sangat lelah dengan berulangkali memukul tempatmu di tempat tidur dengan tangan kecilnya, meneriakkan ‘Baba, Baba.’ Dia menangis hingga jam 8 pagi… Abdullah menangis setiap hari di waktu biasanya dia bermain denganmu.”

Ibu Al-Madhoun, Halima, membesarkannya sendiri setelah ayahnya meninggal karena serangan jantung ketika dia berumur 11 tahun. Dia ingat kebaikan Al-Madhoun padanya.

“Shaher akan memeriksaku setiap malam untuk memastikan Saya tidur dan apa Saya sudah meminum obat.” Halima menambahkan bahwa cucunya, seperti anak laki-lakinya itu, akan tumbuh tanpa seorang ayah.

‘Ramadhan kehilangan Yazan’

Ayah Yazan Altobasi, Ibrahim, ingin sekali berbuka puasa dengan anak laki-lakinya setiap hari pada tahun ini.

Yazan Altobasi dan Shaher al-Madhoun menjadi martir dalam aksi ‘Kembali ke Palestina’ yang terjajah

Bagi Ibrahim, sebagian alasan mengapa Ramadhan sangat spesial baginya dan tidak seperti bulan lain ialah ketika keluarganya meliputi dua anak laki-laki dan tiga anak perempuan berkumpul bersama untuk berbuka puasa dan setelah itu melakukan sholat tarawih.

“Tahun ini, Ramadhan kehilangan Yazan,” kata Ibrahim.

Pada 14 Mei 2018, satu peluru ke arah mata sudah cukup untuk mengakhiri nyawa Yazan. Peluru itu menerjang mata kanannya dan menembus kepalanya.

Baca: Presiden Erdogan Mengutuk Keras Tragedi Kemanusiaan di Gaza

Khawatir akan keamanannya, Ibrahim ingin anak laki-laki berumur 23 menghindari demonstrasi Great March of Return.

Sebelumnya Yazan pernah ikut serta dalam demonstrasi, pada 11 Mei 2018. Di hari dia ditembak, dia bersikeras untuk ikut aksi, jadi Ibrahim menemani Yazan dan saudara laki-lakinya, untuk memastikan mereka tidak terancam bahaya. Sampai di sana, sejumlah demonstran meyakinkan Ibrahim dan demonstrasi itu cukup damai baginya untuk pergi.

Dua saudara itu terpisah dan Yazan tertembak. Keluarganya menerima berita kematiannya pada jam 5.30 sore.

‘Hanya dengan satu peluru’

Yazan dilahirkan di Jordania, dibesarkan di Tepi Barat dan menjalani sisa hidupnya di Gaza. Keluarganya, yang berasal dari sebuah desa kecil di Jenin,  terusir dari rumah mereka pada perang enam hari Arab-Israel pada tahun 1967.

Mereka pindah ke Jordan, di mana Yazan akhirnya dilahirkan. Waktunya di sana tidak lama, karena keluarganya pindah sebentar ke Gaza pada 1994, sebelumya ayahnya mendapatkan pekerjaan di Tepi Barat pada tahun yang sama dan kemudian mereka pindah lagi. Pada tahun 2002, mereka termasuk keluarga yang diusir ke Gaza pasca pengepungan Gereja Kelahiran (Church of the Nativity).

“Saya menghabiskan 23 membesarkan anak saya, namun satu peluru cukup mengakhiri hidupnya… ambulans dihalangi dari menyelamatkannya [dengan peluru-peluru Israel]. Yazan jatuh dan terus di sana 10 menit hingga kehabisan darah,” kata Ibrahim.

Baca: Turki Umumkan 3 Hari Berkabung Nasional

“Saya sangat khawatir akan kehilangan dia. Sayangnya, kami kehilangannya, meninggalkan anak laki-laki berumur 2 tahun yang tidak pernah dia temui karena dia dan ibu anaknya bercerai.”

Ayahnya menjelaskan bahwa Yazan menghabiskan hampir seluruh waktunya bekerja sebagai tukang bersih-bersih, demi mencari nafkah. Dia ingat makanan terakhir yang mereka makan bersama seharis sebelum anaknya dibunuh, ketika Yazan membawa beberapa hummus dan falafel untuk berbuka.

Ibunya, Manal, mengenal perjuangan anak laki-lakinya. “Dia selalu berkeliling setiap jalanan dan gang di Gaza mencari pekerjaan dan akhirnya mendapat sebuah pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih lima bulan lalu.”

Ibrahim mengatakan Yaza sangat baik pada saudara, tetangga dan temannya. Mengatakan dia telah menerima panggilan telepon dari teman-temannya di negara berbeda, menyampaikan belasungkawa.

“Saya harap dia akan lebih bahagia di akhirat, karena dia menjalani kehidupan yang keras,” ujarnya.*/Nashirul Haq AR

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Baitul Maqdisbencanabuka puasaBulan RamadhangazaGreat Return MarchiftarisraeljerusalemKedubes ASKembali ke Palestina yang terjajahKursi KosongNakbapalestinaRamadhanYerusalemZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ‘Edukasi dan Sosialisasi Soal Palestina Ibarat Kerja-kerja Kebangsaan’
Tulisan selanjutnya Kursi Kosong di Meja Iftar: Duka Warga Gaza di Bulan Ramadhan [1]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Ramadhan di Mancanegara

70.000 Jamaah Berkumpul di Masjid Al-Aqsha untuk Shalat Jumat Terakhir di Bulan Ramadhan

9 Mei 2021 11:22
Ramadhan di Mancanegara

Hadapi Gelombong Kedua Covid-19, Mesir Melakukan Penguncian jelang Hari Raya Idul Fitri

6 Mei 2021 14:00
Ramadhan di Mancanegara

Usia 72 Tahun Tak Halangi Nenek Ini Khatam Al-Quran Meski Gunakan Kaca Pembesar

30 April 2021 10:59
Ramadhan di Mancanegara

Bek Leicester City Berterima Kasih pada Lawan Main setelah Diizinkannya Berbuka Puasa

28 April 2021 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?