Hidayatullah.com–Bergulat dengan upah yang belum dibayar dan kondisi ekonomi yang buruk, keluarga-keluarga Palestina memiliki sedikit bahan makanan yang bisa dinikmati selama Ramadhan tahun ini.
Di atas meja jamuan Sahur keluarga Abu Amin Abu Shawish hanya tersedia empat mangkuk sup maloukhieh, dua piring nasi putih, dan beberapa lemon dan paprika hijau.
“Daging sudah dimakan kemarin. Ini sisa hari sebelumnya,” kata Abu Amin (50 tahun) yang menyediakan makanan untuk keluarga besarnya yang berjumlah 14 orang, semua tinggal di sebuah rumah sementara di Kota Gaza tenggara. Situasi ekonomi di bulan Ramadhan ini “sangat buruk” dibanding tahun-tahun sebelumnya, kata Abu Amin dirilis Aljazeera.
Dulu ia mendistribusikan semen ke beberapa tempat pengerjaan bangunan dan proyek di Jalur Gaza setiap hari. Semen, seperti kebanyakan bahan bangunan lainnya, pada waktu itu diselundupkan ke wilayah Palestina dari Mesir.
Musim panas lalu, tentara Mesir menutup sebagian besar terowongan penyelundupan yang berarti memotong jalur kehidupan. Padahal terowongan penyelundupan itu telah mampu menyelamatkan perekonomian Gaza yang hampir hancur total. Lebih dari 50.000 orang yang bekerja di industri-industri yang terkait dengan terowongan, dan lebih dari 150.000 profesional dan pengrajin yang pekerjaannya mengandalkan bahan bangunan, kini telah bergabung dengan jajaran warga Gaza yang tidak memilki pekerjaan.
Pada kuartal pertama 2014, sekitar 180.000 warga Gaza menganggur, naik dari sekitar 160.000 orang di kuartal terakhir 2013.
“Dulu penghasilan saya 100-150 shekel [$ 29-44] dengan mendistribusikan semen per hari, dan anak saya bekerja menarik gerobak kuda juga dalam pendistribusian, penghasilannya 50 shekel [$ 15],” kata Abu Amin, yang rumahnya terbuat dari batu bata beton yang dipungut dari rumah yang hancur dan telah berwarna coklat, dengan atap dari aluminium bergelombang.
“Dulu kami memiliki makanan yang baru setiap hari. Tapi sekarang, kami tidak dapat memperoleh pendapatan 15 shekel [$ 4] yang hanya cukup untuk memberi makan kuda,” lanjutnya.
Sementara itu, keluarga Abu Amin hanya menerima satu paket makanan dari sebuah badan amal yang beroperasi di Gaza – kacang-kacangan, minyak goreng, beras, gula, dan bahan makanan pokok lainnya – untuk keperluan Ramadhan ini, sementara di Ramadhan tahun lalu ia memperoleh empat paket. Badan-badan amal di Gaza berjuang lebih keras sebab permintaan bantuan mengalami peningkatan, kata Ahmed al-Kurd, koordinator bantuan kemanusiaan bagi beberapa organisasi lokal di Gaza.
Tahun lalu, organisasi-organisasi yang ada mampu membantu 60.000 keluarga. Tahun ini, jumlah keluarga yang mengajukan permohonan bantuan makanan meningkat drastis menjadi 100.000, sedangkan badan amal-badan amal memiliki dana hanya cukup untuk 30.000 keluarga, kata al-Kurd.
Karena tekanan politik internasional, ratusan transfer uang dari para donator Muslim dan Arab tidak sampai, katanya kepada Aljazeera.
“Kami tidak bisa melaksanakan pekerjaan kami sebagaimana mestinya.
“Tingginya harga dan kurangnya daya beli juga berarti bahwa banyak orang berjalan di pasar-pasar di Gaza, tetapi hanya sedikit yang benar-benar membeli.
“Harga-harga naik tahun ini, Saya datang ke sini untuk membeli barang untuk keperluan di bulan Ramadhan untuk keluarga saya dan keluarga putri saya yang telah menikah, tapi saya rasa saya tidak akan bisa membeli semua yang saya inginkan”, kata Mohammad Qanit (44 tahun) yang bekerja sebagai tukang listrik.
Di pasar al-Zawya di bagian kota tua di Kota Gaza, sedikit hiasan-hiasan Ramadhan yang terlihat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan meskipun pasar ramai, mayoritas orang tidak membeli.
Alaa Masud, yang menjual keju, selai, tahini halva, dan kebutuhan pokok lain di Ramadhan, mengatakan bahwa dengan penutupan terowongan antara Gaza dan Mesir, banyak barang yang harus diimpor melalui Erez, titik penyeberangan komersial yang dikuasai Israel.
“Ini telah naik dari 18 menjadi 23 shekel [$ 5-7], ” katanya sambil menunjuk ke keju Gouda kuning. Sebuah keju feta buatan Mesir yang naik enam shekel [$ 1,75].
“Orang-orang tidak punya uang, para pekerja diberhentikan, penyeberangan ditutup, tidak ada gaji,” kata Masud.
“Tahun lalu, penghasilan saya 100.000 shekel [$ 29.250] sehari. Tapi sekarang, hanya 60.000 shekel [sekitar $ 17.500].” Krisis Gaji Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat belum membayar gaji 70.000 pegawai di Jalur Gaza. Para pegawai Otoritas Palestina biasanya dibayar minggu pertama setiap bulan, namun Otoritas Palestina mengatakan gaji akan terlambat dibayarkan, karena Israel belum mentransfer pendapatan pajak Palestina.
Selama delapan bulan terakhir, pemerintah Hamas, yang dibubarkan pada bulan Juni dan selanjutnya dibentuk pemerintah konsensus nasional Palestina, telah membayar sebagian kecil dari gaji pokok para pegawainya.
Para pegawai pemerintah Hamas yang berkuasa sebelum ini, diperkirakan sekitar 42.000 orang yang masih belum memperoleh gaji untuk bulan April dan Mei.
“Kami mencari segala cara, setidaknya membayar mereka dengan pendapatan minimum. Ada upaya untuk membayar gaji pegawai dengan jumlah yang lebih kecil daripada yang diberikan oleh badan amal-badan amal dan para dermawan. Ini yang bisa kami lakukan untuk mereka di bulan Ramadhan,” kata Salah al-Bardaweel, seorang pejabat senior Hamas di Gaza, kepada Al Jazeera.
Sementara Abu Salim, seorang polisi lalu lintas (35 tahun), belum dibayar gajinya lebih dari 50 hari, dan ia masih bekerja di bawah terik matahari .
“Saya punya empat anak dan hak mereka untuk menikmati makanan seperti anak-anak dari keluarga lain,” katanya kepada Aljazeera, tanpa menyebut nama lengkapnya. Abu Salim menambahkan bahwa ia tidak akan mampu membeli daging segar, ayam, qatayef, dan manisan untuk Ramadhan.
Maher al-Tabba, seorang ekonom yang berkantor di Gaza, mengatakan bahwa kedua kelompok pegawai negeri Palestina – di Tepi Barat dan Jalur Gaza – memegang sebagian besar daya beli.
“Pasar sering mengandalkan gaji dari [Otoritas Palestina] dan para karyawan di Gaza.” Dia mengatakan kepada Al Jazeera bahwa keterlambatan pembayaran gaji para pegawai menyebabkan penurunan tajam dalam penjualan. “Kita berbicara sekitar 180.000 hingga 200.000 orang yang tidak memiliki pekerjaan … Ini adalah situasi yang buruk,” katanya.*