Hidayatullah.com–Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Seluruh lapisan umat Islam tentu merasakan berkahnya tersebut. Baik itu berkah dari sisi ruhani maupun jasmani. Baik itu berkah secara individual maupun sosial masyarakat.
Di Mesir contohnya, berkah Ramadhan dalam kehidupan sosial masyarakat sungguh sangat terasa sekali. Di bulan suci Ramadhan ini, tenda-tenda jamuan berbuka puasa terbentang luas.
Biasanya disebut dengan istilah maidah ar-rahman. Tidak hanya di masjid-masjid, di pingiran jalan raya pun tidak jarang akan kita temui jamuan ini. Siapa saja boleh ikut berbuka puasa di sana, tak terkecuali kita orang pendatang.
Hidangan yang disediakan di maidah ar-rahman juga tidak tergolong biasa-biasa saja. Makanan pokok Mesir, ‘isy atau seperti roti gandum sudah terhidang di depan kita sebelum adzan Magrib. Terkadang juga dihidangkan nasi yang dimasak ala Mesir. Lauknya juga tidak kalah menggodanya. Agar orang yang berbuka itu enak, maka ayam panggang juga turut disajikan. Ditambah lagi dengan pelengkap lainnya seperti buah, minuman, dan lain sebagainya. Begitulah umumnya hidangan yang disajikan di maidah ar-rahman.
Suatu hari di bulan Ramadhan, saya dan seorang teman kepepet untuk berbuka puasa. Senja sudah mulai menampakkan batang hidungnya. Ketika itu kami berdua baru selesai membeli sesuatu di pusat pertokoan elektronik. Apa boleh buat, waktu tuk pulang ke rumah juga sudah tidak sempat lagi karena tinggal beberapa menit lagi adzan Magrib akan berkumandang. Akhirnya kami putuskan tuk berjalan saja, menyusuri tepi jalan raya.
Setelah beberapa langkah menyurusi jalan itu, alhamdulillah ternyata dari jarak beberapa meter tampak di mata kami sebuah tenda yang di terdapat sekumpulan orang di sana. Kami menemukan maidah ar-rahman. Awalnya kami ragu untuk ikut berbuka di sana. Tapi akhirnya hati kecil kami sepakat memutuskan untuk mendekati tenda itu, hitung-hitung mencari pengalaman baru.
Begitu mudah memang mendapatkan buka puasa gratis di Mesir. Kita tidak perlu takut jika sedang dalam perjalanan, meski tidak membawa bekal untuk buka puasa.
Ketika itu, saya perhatikan orang Mesir di sekeliling sangat lahap sekali menyantap hidangan di atas meja. Sementara saya, belum sempat habis makan ayam bakar sudah keburu kenyang duluan. Dari pada mubazir, saya coba tawarkan sisa makanan saya itu kepada anak kecil di depan saya. Akhirnya dengan cepat dia mengiakannya. Tapi ternyata sisa saya tersebut tidak langsung dimakan. Rupanya dia bawa pulang. Begitulah memang gambaran orang-orang yang kurang mampu di Mesir, sangat membutuhkan uluran dermawan sekali. Syukurnya tidak sedikit juga dermawan yang ada di Mesir.
Itu baru salah satu contoh indahnya suasana sosial di Mesir di bulan suci Ramadhan. Maidah ar-rahman memang sudah menyatu dengan masyarakat Mesir menjadi budaya yang selalu ada di bulan Ramadhan. Mungkin ini sama halnya dengan budaya pasar wadai di benua kita.
Selain itu, jika kita tengah berada di jalan saat menjelang berbuka puasa, kita juga tidak perlu khawatir tidak dapat berbuka atau ta’jil. Pasalnya, di jalan-jalan juga akan banyak kita temui orang-orang yang membagikan makanan untuk sekedar ta’jil, seperti buah kurma dan minuman tamar hindi.
Bagitulah sekelumit nuansa sosial masyarakat dan keagamaan di Mesir yang mungkin patut kita contoh. Semua orang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, baik itu untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Suasan bulan Ramadhan di Negeri Kinanah ini memang sangat berbeda sekali dari biasanya. Wibawa Ramadhan beserta barokahnya sungguh sangat terasa dan kental sekali.*
Foto: Iftar di kota Kairo (by Ahmad Sadzali)