Hidayatullah.com–Pimpinan AQL Islamic Center, Ustadz Bachtiar Nasir mengapresiasi keinginan masyarakat untuk beri’tikaf pada bulan Ramadhan, terutama di sepuluh malam terakhir.
Namun jika dengan alasan i’tikaf dan tilawah Al Quran, membuat umat Islam melupakan saudara seiman di belahan bumi lainnya, hal tersebut, kata Bachtiar, hanya mencerminkan keegoisan diri.
“Pemuda Islam, kalian tidak dimaafkan dengan ibadah kalian ketika kalian egois dengan ibadah sendiri tapi tidak mau memikirkan umat. Tidak mau memberikan yang terbaik untuk umat !”ujarnya pada jamaah shalat Tarawih di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta, belum lama ini.
Palestina adalah bagian dari umat Islam di belahan bumi manapun. Melihat kondisi umat yang sedang bergolak, Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) itu mendorong pemuda Indonesia untuk bergerak dan berbuat sesuatu.
“Mereka menjadi korban karena kita yang diam. Mereka diserang karena kita yang pelit. Kita merasa nyaman dengan semua rukuk, sujud. Siapa yang tidak nyaman? Gratis! Nggak bayar. Tanpa resiko nyawa,”katanya yang beberapa hari lalu meluncurkan lembaga pengumpul infaq, Tabung Infaq.
Sangat menyedihkan ketika orang-orang non Islam justru lebih peduli daripada umat Islam sendiri. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Raja dan Ratu Swedia yang langsung turun ke lapangan menggerakkan penggalangan dana untuk Palestina.
Kemudian, Bachtiar menceritakan ungkapan pilu seorang intelektual keturunan Arab yang meminta warga Amerika untuk ikut menekan pemerintahannya menghentikan serangan Israel ke Gaza. Jawaban warga Amerika yang diceritakan pria Arab itu lebih menohok.
”Sebelum meminta saya peduli dengan Palestina, tanyakan dulu pada orang-orang Islam di negaramu, pada Raja-Raja Arab, pada umat Islam diseluruh dunia, dimana kepedulian kalian terhadap Palestina?” jawabnya.
Memenuhi kebutuhan orang lain sama pentingnya dengan ritual ibadah personal. Hal itu seperti yang dilakukan Ibnu Abbas yang pernah meninggalkan i’tikaf di masjid untuk menolong sahabatnya. Padahal Ibnu Abbas adalah orang yang berkomitmen tinggi terhadap ibadah di setiap Ramadhan. Tapi orang sekalibernya tetap mau memperhatikan orang lain. Rasulullah mengatakan, apa yang dilakukan Ibnu Abbas itu lebih baik dari i’tikaf di masjid Nabawi selama setahun, ujarnya.*