Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Surat Pembaca

Wahabi Antara Syiah dan Stigma Kolonial

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Desember 2014 09:00 9:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Desember 2014 09:00
Bagikan
Bagikan

ORANG-orang Barat telah semakin jauh dari fitrah mereka sebagai manusia. Oleh sebab itu, mereka menjadi sukar memahami sifat-sifat Orang Timur yang cenderung menjunjung nilai-nilai klasik. Kesulitan memahami Timur itu ditandai antara lain oleh kecenderungan mereka memberi stigma atau stempel tertentu dan dilegalisasi melalui kajian-kajian bercitra ilmiah dan disebarluaskan melalui media, sehingga menciptakan dan menularkan fobia ke seluruh pelosok dunia.

Kajian semacam ini pada dasarnya adalah produk yang didesain dalam rangka kolonialisme dengan pengetahuan sebagai alat kekuasaan, untuk memecah belah dan mengadu domba Muslim di dunia.

Kajian semacam ini pernah mendapat kritik tajam dari Edward Said dan Homi Bhabha melalui kajian antitesa terhadap Kolonialisme-Orientalisme, yang disebut dengan “Teori Poskolonial”.

Teori ini menunjuk pada segolongan kajian terhadap dampak kolonialisme terhadap masyarakat terjajah, secara fisik dan terutama mental, baik semasa maupun sesudah penjajahan berlangsung.

Di antara stigma atau stempel Barat terhadap Timur di mana Timur adalah dunia Islam, ialah stigma Wahabi. Terma ini pernah digunakan dan disebarluaskan Barat dengan sangat didukung oleh Iran (Syiah). Oleh sebagian besar masyarakat dunia yang tidak mengetahui hakikatnya, terma ini lebih dimaknai secara konotatif daripada denotatif.

Baca Juga

22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Harga Telur Melambung Tinggi, Bagaimana Islam Mengatasi?
Lemahnya Agama, Penyebab Munculnya Pergaulan Bebas
Uang Kripto sebagai ‘People Money’
Hari HAM Sedunia, Muslim Thailand Selatan Masih dalam Tekanan dan Diskriminasi

Munculnya istilah “takfiri” juga makin menguat ketika munculnya kasus Syiah di Sampang, Madura. Di mana kaum Syiah menebar opini (untuk memecah kaum Sunni) dengan menyebut lawan-lawannya “Wahabi –Takfiri”.

Istilah itu mulai disampaikan Haidar Bagir, CEO Mizan dalam acara Indonesian Lawyers Club (ILC) TV One, Selasa 25 Juni 2013, saat menjadi salah satu narasumber. Belakangan, semua media Syiah (baik dari pusatnya di Iran dan Indonesia) serentak menggunakan bahasa sama, “Wahabi-Takfiri”, seolah menjadi biang anti Syiah.

Sementara kalangan NU mulai terpancing menggunakan istilah “Wahabi”. Di kalangan NU sendiri istilah ini mulai dimarakkan lagi setelah banyaknya ‘serangan-serangan’ terhadap amaliyah NU oleh seperti; ziarah kubur, tahlil dan sebagainya.

Wahabi secara konotatif awalnya diasosiasikan dengan gerakan memurnikan Islam dengan menegakkan kembali dua pedoman utama dalam Islam, ialah Al-Qur’an dan As sunnah. Sebagaimana pernah dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah di Yogya pada 1912) ia berusaha memberantas kemusyrikan berupa tahayul, bid’ah dan churafat (atau sering disingkat TBC). Juga pernah dilakukan Ahmad Hassan (Persis) di Bangil.

Namun dalam perkembangan saat ini, penyebutkan “Wahabi” saat ini lebih banyak unsur kepentingan politik. Inilah yang saat ini menjadi suatu paradoksi.

Paradoksi ini merupakan bentuk ambivalensi diametral. Berbagai bentuk sikap ambivalen seperti ini merupakan stereotip dan ciri perilaku kolonial. Akibatnya adalah tumbuhnya karakter paradoksi atau ambivalens pada si terjajah. Di mana masyarakat terjajah cenderung mengembangkan sifat terombang-ambing, gamang atau merasa serba-salah dalam sesuatu.

Paradoksi bukan hanya terjadi secara kolektif, tetapi juga menimpa individu. Nah sejatinya terdapat partentangan di sini. Apalagi pihak Barat mengnambil alih dan menghegemoni pengertian “pembaruan” Islam yang awalnya pemurnian ajaran Islam menjadi gerakan yang mengarah lebih kompromi, permisi atau baha lugasnya; liberalisme.

Ibarat pohon, sumber kekuatan itu adalah akar; ibarat bangunan, tumpuannya adalah pondasi. Sebaliknya, proses melemah menunjuk pada proses menjadi lebih rapuh, rentan atau labil, sehingga ibarat pohon, arahnya menjauh dari akar menuju pucuk daun yang mudah digoyang angin; menjauh dari pondasi menuju ujung genting yang mudah diporakporanda badai.

Berada dalam kecenderungan ini adalah gerakan-gerakan yang justru arahnya meninggalkan nilai-nilai yang mengakar atau fondasional (Barat menyebutnya nilai puritan atau konservatif), menuju nilai-nilai nilai-nilai kompromis (lugasnya: nilai-nilai liberal) yang sangat karet, dan oleh sebab itu rentan, rapuh dan labil.

Nah akhirnya jika nanti ada orang berkata imannya menguat tetapi pada saat yang sama pandangan-pandangannya cenderung liberal, boleh jadi ini merupakan stereotip karakter yang terhegemoni atau terkolonialisasi.*

Ahmad Antawirya

Penulis magister dengan konsentrasi Teori Poskolonial

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:syiahwahabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PKS Kecewa Rencana Evaluasi Doa Di Sekolah, Anis Anggap Baru Wacana
Tulisan selanjutnya Luncurkan Sosial Media Development Project, Aktivis Dakwah Kampus Juga Perlu Kelola Isu

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

Surat Pembaca

Racun LGBT Makin Meluas, Jaga Ketahanan Keluarga Indonesia

28 Mei 2022 12:30
cerita
Surat Pembaca

Pentingnya Memilih Cerita Sebagai Hiburan

26 November 2021 13:37
Surat Pembaca

Tanggapan atas Pernyataan Bahwa Semua Agama itu Benar

22 September 2021 15:00
Surat Pembaca

Nasyid untuk Wahdah Islamiyah

8 September 2021 07:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?