BANYAK yang bilang, saat ini kita berada di zaman Abad 21 yang disebut juga Abad Milenium, di mana semua alat-alat serba canggih, hampir semua menggunakan mesin, contohnya memasak nasi, pemanas air sampai media komunikasi. Hal ini memberikan efek positif yakni mempermudah/mempercepat proses tersebut. Tetapi, di sisi lain bisa memberi efek negatif, contoh apabila alat komunikasi seperti handphone tidak di gunakan dengan benar bisa merusak generasi anak-anak kita.
Diperlukan metode khusus mendidik generasi Islam di Abad 21 yang penuh tantangan, dilema, dan banyak faktor yang akan menjauhkan mereka dari agamanya, terutama paham liberal/kebebasan dalam bersikap dan berpendapat tanpa aturan menjadi kepribadian anak-anak kita.
Selain itu, evolusi materi yang meniadakan Tuhan harus dijauhkan karena sebagai contoh, mana mungkin sebuah batu bisa berevolusi menjadi sebuah rumah tanpa ada tangan-tangan manusia yang mengerjakan.
Di sinilah perlu dilakukan berpikir kritis dengan cara menguji setiap hal yang di hadapi termasuk di dalam nya yang diuji mengenai fakta permasalahan, informasi/sumber berita, dan pemikiran/solusi agar bisa di buktikan kebenarannya.
Islam mengajarkan berfikir mendalam/kritis atas setiap persoalan,tidak boleh taqlid dan sekedar mengikuti pendapat kebanyakan orang.
Baca: Orangtua Harus Mendidik Anak Takut Allah, Bukan Mendahulukan Percaya Diri
Mengajarkan anak untuk berfikir sebelum berbuat diawali dengan penanaman aqidah Islam, yang mampu menuntun mereka dalam membedakan yang hak dan batil, terutama mengenalkan keberadaan Allah Subhanahu Wata’ala adalah nyata yang bisa diperkenalkan dari ciptaan-ciptaan-Nya.
“Wahai Kaum Muslim,” didiklah anak-anak mu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu, demikian kata Alibin Abi Thalib. Di zaman ilmu pengetahuan yang semakin maju yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita yang paling utama adalah keimanan dan ketaqwaan (IMTAQ) kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Jadikan Halal dan Haram sebagai tolak ukur dalam perbuatan, meraih Ridho Allah Subhanahu Wata’ala sebagai tujuan hidupnya, agar generasi anak-anak kita menjadi generasi umatan wasathan (umat yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu Wata’ala) serta mempunyai kepribadian Islam yang utuh, (baca surat 2:143). Aamiin…Aamiin…yarobbal A’lamiin…..*
Ibu Eli Maryati | Kabupaten Bandung