JIKA ada seorang murid datang ke sekolah dengan tepat waktu, apakah Anda akan terheran-heran mendengar berita itu dan kagum kepada murid tersebut?
Kemungkinan besar Anda akan mengatakan, “Tidak!” Bahkan mungkin Anda akan mengatakan, “Apa yang istimewa dari berita itu?” karena ada banyak sekali murid yang Anda ketahui datang ke sekolah tepat pada waktunya. Lagipula, datang tepat waktu bagi anak sekolah adalah sesuatu yang sudah seharusnya kan?
Tapi jika selama ini kenyataannya kebanyakan murid datang terlambat ke sekolah, kemudian ada seorang murid yang datang tepat waktu, tentu tak ada salahnya jika orang salut kepada si murid itu kan?
Pernah ada seorang karyawan yang mendapat acungan jempol dari teman-temannya hanya lantaran setiap harinya dia bisa datang ke kantor sebelum jam 8 pagi, sedangkan karyawan lainnya datang setelah jam 9.
Biasa-biasa saja karyawan datang jam 8 pagi? Tapi dia menjadi istimewa hanya karena banyak karyawan yang lain datang terlambat.
Jadi sebenarnya yang luar biasa adalah para karyawan yang terlambat itu. Tapi karena kebanyakan karyawan biasa terlambat, maka yang terlambat jadi dianggap biasa, sedang yang tepat waktu jadi luar biasa.
Sekarang soal pemimpin. Jika ada pemimpin yang sederhana, merakyat, suka blusukan, meninjau langsung kondisi rakyatnya di lapangan, apakah pemimpin seperti itu istimewa?
Sebenarnya tidak istimewa kan? Karena seharusnya demikianlah gaya setiap pemimpin. Kalau dia menyadari dirinya adalah pelayan umat, pelayan rakyat, maka begitulah yang harus berlaku. Dia harus sederhana dan merakyat.
Tapi pemimpin demikian akan terasa istimewa jika para pemimpin yang lain suka bermegah-megahan dengan kekuasaannya dan punya gaya jumawa.
Jadi, seperti pada kasus murid dan karyawan yang diceritakan di atas, ternyata penilaian masyarakat kepada seseorang tergantung pada kebiasaan yang ada pada lingkungannya. Jika banyak orang bertindak sebagaimana seharusnya, maka satu orang yang bertindak mengikuti kelaziman itu tidak menjadi orang istimewa. Tapi jika banyak orang berlaku menyimpang, maka satu orang yang berjalan lurus menjadi terasa istimewa. Dengan kata lain, di tengah masyarakat yang anomali, orang biasa jadi seperti luar biasa.*