Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tajuk

Jangan Salahkan Alam, Jangan Ratapi Nasib!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Oktober 2011 08:47 8:47 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Oktober 2011 08:47
Bagikan
Bagikan

KITA tentu masih ingat pelajaran di sekolah dasar tentang ilmu bumi. Di sekolah, para murid sering menerima penjelasan guru tentang angin Bohorok. Di sana ada bab mengenal jenis angin lokal di daerah pegunungan. Nama “angin Bohorok” pasti dikenal oleh semua siswa yang rajin belajar.

Angin Bohorok, sejenis angin “jatuh”, yang bergerak dari bawah satu sisi gunung, lalu naik ke puncak, lalu turun kembali ke bawah di sisi lain gunung dengan kecepatan tinggi. Ia menerjang apapun yang dilaluinya. Angin yang “jatuh” di daerah pengunungan Bohorok itulah yang sering berhembus di sekitar lokasi jatuhnya pesawat Nusantara Buana Air (NBA).

Pesawat maskapai Nusantara Buana Air (NBA) pada 29 September 2011 bertolak dari Bandara Polonia Medan pukul 07.28 WIB. Menurut jadwal, pesawat jenis Casa 212 itu akan tiba di Kutacane, Banda Aceh, 35 menit kemudian. Namun pada pukul 12.00 siang, ternyata pesawat berisi 14 penumpang dan 4 kru itu diketahui jatuh tersangkut di pepohonan hutan pegunungan Bohorok.

Hutan tropis asli, “ditakuti” bahkan oleh para petualang sejati. Bukan hanya karena pepohonannya yang lebat dan binatang liarnya, tapi juga karena cuacanya yang sering berubah. Di hutan tropis, hujan bisa turun kapan pun alam mau. Tidak ada yang tahu kapan hujan atau angin kencang akan turun dan berhembus, meski banyak orang bisa mengenali tanda-tandanya.

Memahami kondisi

Baca Juga

“Jangan Curigai Sumbangan Kami!”
Pak Presiden, Dengarkanlah Kata Ulama!
Hormati Orang yang Sedang Berpuasa!
Jurnalisme Takwa
Bijak di Kabinet Baru

Kebanyakan dari kita, memang tidak mengetahui kondisi riil tempat kejadian jatuhnya pesawat kecil bermesin turbo propeler, di mana diberitakan dalam posisinya tersangkut di atas pohon itu. Namun, dengan menggunakan sedikit pengetahun yang didapat dari bangku sekolah dulu, kita akan memahami bahwa tempat itu memang bukanlah tempat “yang biasa”.

Hutan, lokasi di mana pesawat jatuh adalah hutan asli, yang terbentuk oleh alam. Seperti kebanyakan hutan tropis asli, sebagian besar pepohonan yang ada bisa tumbuh menjulang tinggi melebihi 15 meter. Katakanlah ada korban yang hidup ketika itu, pastinya, ia tidak akan bisa turun ke tanah dengan leluasa. Melompat dari ketinggian seperti itu setelah mengalami shock berat adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin akan dilakukan.

Bagaimanapun, kita semua memahami kerja keras Tim SAR (Search and Rescue), aparat, yang telah sangat berusaha luar biasa meengvakuasi korban apalagi melihat lokasi dan kendala cuaca yang sulitnya. Toh mereka sudah berusaha, tapi baru bisa mencapai lokasi pada hari ke-3 setelah kejadian.

Hanya saja kita boleh membandingkan, kita pasti iri, melihat kesigapan dan tekad Presiden Chile Sebastian Pinera untuk menyelamatkan 33 penambang emas yang terjebak di bawah tanah selama 69 hari, akibat dinding lokasi pertambangan runtuh pada tahun 2010 lalu.

Ketika itu, operasi penyelamatan sejak 5 Agustus hingga 13 Oktober 2010 yang heroik tersebut disiarkan televisi ke seluruh penjuru dunia.

Pinera menyatakan tidak akan meninggalkan lokasi hingga semua korban bisa dievakuasi. Ia juga tidak peduli berapa pun ongkos yang akan dikeluarkan untuk menyelamatkan korban.

Akhirnya, setelah seluruh daya dan upaya dikerahkan, satu per satu korban bisa diangkut keluar dengan menggunakan “kapsul” buatan lembaga antariksa Amerika Serikat NASA.

Lokasi kecelakaan pesawat NBA di Bohorok memang berbeda dengan lokasi kecelakaan tambang di Chile itu. Satu di atas pohon wilayah hutan di pegungan, satu di bawah tanah sedalam 700 meter.

Tapi untuk kebaikan ke depan, rasanya kita boleh iri dengan Chile atau Tim “K-9 ONE Search dan Rescue”, kelompok relawan yang terdiri dari anjing dan manusia berbasis di Michigan. Mereka dikenal sangat berdedikasi bekerja bersama dengan polisi, pemadam kebakaran dan penanggap darurat lainnya untuk melindungi dengan menghargai nyawa manusia. “K-9 ONE Search dan Rescue”, bahkan menyediakan layanan gratis 24 jam sehari, tujuh hari seminggu dan 365 hari setahun. Bahkan Tim ini dilatih khusus secara khusus untuk misi di area hutan belantara dan bekerja di semua jenis kondisi cuaca.

Satu hal yang pasti, bahwa kita manusia yang hidup, berkewajiban memberi pertolongan kepada korban semaksimal mungkin. Apapun caranya dan bagaimanapun tekniknya.

Indonesia, sebagai negara yang sangat rawan bencana terkait kondisi geografis wilayahnya, karenanya dituntut memiliki kesigapan, keterampilan khusus dan dana yang luar-biasa untuk menanggulangi berbagai musibah. Toh APBN telah menganggar masalah bencana!

Kita juga memahami kegeraman pihak keluarga yang terkena musibah. Terlebih keluarga yang mengaku sempat melakukan kontak dengan salah satu korban hidup pada hari kejadian.

“Kalau saja, kalau saja mereka bergerak cepat, tentu korban akan bisa diselamatkan,” begitu ujar mereka.

Alhasil, penanganan evakuasi korban kecelakaan pesawat NBA di Bohorok ini, seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Pejabat dan pemerintah –sebagai lembaga pengelola negara– seharusnya memberikan sarana dan prasarana yang memadai dalam urusan ini. Tirulah Presiden Chile dan mulailah berlatih mengucapkan sekedar kata bela sungkawa. Tunjukkan bahwa setiap nyawa warga negara Indonesia adalah berharga, sehingga patut untuk diupayakan semaksimal mungkin keselamatannya.

Di sisi lain, walau bagaimanapun, peristiwa ini adalah musibah, – sekuat apapun kita usahakan dan seluas apapun kita berandai-andai – yang pasti, peristiwa ini adalah sesuatu yang telah dikehendaki Sang Maha Kuasa.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ) (الحديد:22)

Artinya: “Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. 57:22)

Marilah kita semua mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap musibah yang kita alami. Tidak ada gunanya menyalahkan alam dan tidak ada gunanya meratapi nasib. [*]

Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Netanyahu Abaikan Permintaan Abbas Pembekuan Pemukiman
Tulisan selanjutnya Bandara Internasional Lombok Beroperasi, Banyak Pedagang Asongan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Tajuk

Pemimpin Biasa, Di Tengah Masyarakat yang Anomali

24 Oktober 2014 08:30
Tajuk

Aria dan Perang Opini Media AS

1 Oktober 2014 01:39
Tajuk

10 Tahun Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini

9 April 2013 23:44
Tajuk

Kekerasan Atas Nama Agama, Don’t Worry

20 September 2012 16:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?