Sambungan artikel PERTAMA
Bersamaan dengan survei tersebut, para responden memberikan sejumlah rekomendasi untuk menyelesaikan isu yang sedang terjadi. Beberapa diantaranya adalah perlunya diadakan penyuluhan, pengampunan dari para Muslim, public relation yang lebih baik serta usaha peningkatan kesadaran terhadap isu tersebut, bahkan perlu adanya aksi dari pemerintah, penegak hukum, media, serta para aktor.
IHRC memiliki usulan tersendiri tentang bagaimana menanggulangi masalah tersebut.
Mereka menyarankan berakhirnya standart ganda yang diterapkan terhadap masalah-masalah islamophobia, prasangka anti-Muslim, dan rasisme.
Mereka juga menyarankan sejumlah pemikiran ulang secara radikal terhadap strategi pemerintah dalam menghadapi para Muslim di Inggris, dimana wacana ini muncul karena adanya laporan yang menyebutkan bahwa strategi pertahanan pemerintah Inggris malah mensosialisasikan kebencian, terutama dalam lingkup sistem pendidikan.
Dr. Rowan Williams, mantan Archbishop of Canterbury dan dosen di Cambridge University menyatakan bahwa berdasarkan studi yang telah dilakukan, telah ditemukan kemerosotan terhadap kualitas kehidupan sehari-hari sejak laporan yang terdahulu.
Adanya peningkatan dalam tindakan yang didasari kebencian di dunia politik dan media, serta tindakan serupa di jalan, di bursa kerja, bahkan dalam dunia pendidikan adalah petunjuk bahwa aksi anti-Muslim meningkat.
“Membuka wadah politik melalui perserikatan dan menciptakan koalisi antar-bangsa, antar-kelas, lintas-ras dan beragam gender diperlukan untuk menyelesaikan masalah ini,” imbuhnya.
Tidak hanya IHRC yang menemukan ‘barang busuk’ tersebut. Tell Measuring Anti-Muslim Attacks (Tell MAMA), sebuah proyek yang bertujuan mereka seluruh insiden anti-Muslim di Inggris Raya, mengungkapkan bahwa setelah peristiwa di Paris, hanya dalam 36 jam selanjutnya, jumlah kasusnya meningkat tajam. Salah satu hal yang paling menonjol adalah bahwa tindak kejahatan tersebut didasari oleh gender. Kebanyakan insiden terjadi dengan pelakunya adalah pria kulit putih dengan korban para perempuan Muslim.
Seorang pelapor yang mengontak Tell MAMA menceritakan, “Aku melihat seorang pria bertindak tidak sopan dan membuat komentar rasis terhadap seorang wanita muda di kereta bawah tanah, dimana seorang pria kulit putih menolak duduk di sebelah gadis berhijab. Dia berkata-kata tidak sopan dan meminta gadis tersebut kembali ke Suriah karena cewek-cewek tidak ada yang pakai hijab di Inggris. Aku ingin mengatakan sesuatu tapi aku takut. Orang-orang di kereta juga tidak menyatakan apa-apa dan hanya menoleh ke arah lain. Gadis tersebut dengan sopan membalas pria tersebut bahwa dia adalah orang Inggris keturunan Pakistan dan tidak memaksakan agamanya kepada pria itu ataupun orang lain.”
“Pria tersebut masih terus mengomel dan kemudian duduk di tempat lain. Aku ingin melaporkan hal ini karena aku sangat marah gadis tersebut menjadi korban, dan aku merasa sangat lemah karena aku tidak dapat membantunya,” demikian ujarnya.*