Oleh: Khalil Dewan
Allahu Akbar!
Matilah Amerika,
Matilah Israel,
Terkutukla orang-orang Yahudi
Kemenangan untuk Islam!
Demikian teriakan yang dikumandangkan oleh milisi pemberontak Syiah al-Houthi ketika rudal balistik mereka ditembakkan ke Arab Saudi, sebagai yang menarget mereka ke Yaman oleh koalisi internasional pimpinan Arab Saudi.
Miliri pemberontak Syiah al-Houthi, sebelum ini telah melancarkan lebih dari 34 rudal ke Arab Saudi sejak menyebarkan konflik ke daratan Kerajaan itu pada 2015.
Abdul Malik Al-Houthi, pemimpin kelompok itu, mengumumkan strategi militer terbaru menggunakan serangan-serangan rudal, menyebut itu kampanye militer “pasca-Riyadh” yang dimulai dengan serangan atas infrastruktur energi dan perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco.
Pada 23 Juli, kilang minyak Aramco di Yanbu, lepas pantai barat Arab Saudi menjadi target sebuah rudal Burkan-2. Rudal tersebut menempuh jarak dibawah 1.000 kilometer melalui negara itu tanpa dicegat oleh sistem pertahanan Saudi. Sebuah ledakan besar dan api di komplek kilang minyak itu dilaporkan terlihat oleh warga setempat, yang butuh semalaman penuh hingga benar-benar dapat dipadamkan oleh para pemadam kebakaran.
Gambar-gambar satelit kilang minyak Aramco tidak memperlihatkan kerusakan besar, meskipun laporan warga setempat di sosial media berupa rekaman video yang menunjukkan sebuah kebakaran besar yang tidak terkendali.
Operasi militer pasca-Riyadh Houthi
Operasi militer serangan rudal “pasca-Riyadh” merujuk pada serangan 19 Mei yang dilakukan beberapa jam menjelang kedatangan Presiden Amerika Donald Trump ke Arab Saudi. Diumumkan di aplikasi-aplikasi sosial media, termasuk Telegram, kelompok itu memasukan kilang-kilang minyak sebagai target militer resmi dan baru.
Dalam dokumen yang disebarkan di sosial media itu, mereka memperingatkan perusahaan-perusahaan internasional yang beroperasi di wilayah itu untuk mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan dan secara efektif segera berkemas dan pergi. Dengan mendeklarasikan target barunya, milisi Houthi telah menguraikan sebuah strategi yang jelas untuk menandingi serangan udara Arab Saudi atas benteng-benteng Houthi, dari Sana’a hingga Saada.
Baca: Pemberontak Syiah Houthi Lontarkan Rudal ke Makkah dari Yaman
Meskipun begitu, kemampuan rudal balistik telah didemonstrasikan oleh Houthi dengan meluncurkan rudal Burkan dan Qaher, yang mereka katakan sebagai dukungan eksternal yang mereka terima. Jauh sebelum konflik itu meletus, Yaman tidak diketahui dapat menghasilkan sistem rudal dan dengan demikian satu-satunya penjelasan ialah mereka dipasok secara langsung.
Pada Januari 2015, milisi pemberontak Syiah al-Houthi mengambil alih pangkalan militer Faj Attan di Sana’a, yang menyimpan rudal balistik Yaman. Hal itu memicu kekhawatiran besar Arab Saudi.
Tiga bulan kemudian, Kerajaan Saudi memimpin sebuah koalisi internasional dan melancarkan operasi militer bernama “Aashifatul Hazm” (Operasi Penghancur) melawan milisi Syah al-Houthi. Tujuannya ialah untuk menekan perkembangan militer yang dibuat oleh milisi itu dari Saada hingga Sana’a, di mana Houthi berniat memperluas tujuan mereka hingga ke Aden – Yaman selatan.
Arab Saudi menghujani pangkalan udara itu dengan bom, dan mengklaim bahwa area penyimpanan rudal telah dihancurkan. “Aashifatul Hazm” (Operasi Penghancur) berakhir pada 21 April 2015, disebut-sebut merupakan kesuksesan koalisi Saudi.
Namun, kemenangan itu patut dipertanyakan karena para anggota koalisi itu masih terus bertempur hingga hari ini, membuat konflik itu menjadi buntu.
Baca: Hizbullah Terbukti Beri Bantuan pada Pemberontak Syiah Houthi
Kandidat yang paling mungkin memasok persenjataan itu ke kelompok bersenjata Houthi ialah Iran. Sekretaris Negara AS, Rex Tillerson, menyatakan bahwa koalisi Saudi yang beroperasi di Laut Merah telah membongkar dan “mengungkap sebuah jaringan rumit Iran dalam mempersenjatai Houthi”.
Sentimen ini telah digaungkan oleh koalisi Saudi dan Sekretaris Pertahanan AS Jim Mattis yang memperingatkan bahwa Iran sedang memicu perang sektarian.
Persenjataan disalurkan ke kelompok milisi pemberontak Syiah al-Houthi melalui pelabuhan Hudaydah, yang membuat koalisi Saudi harus melakukan pengawasan ekstra. Mengambil alih pelabuhan strategis Hudaydah merupakan salah satu tujuan militer koalisi. Pelabuhan Laut Merah merupakan sebuah jalan masuk penting bagi bantuan kemanusiaan ditengah-tengah kelaparan dan wabah kolera di Yaman.
Ancaman Keamanan Nasional
Selain ancaman keamanan domestik yang timbul dari kelompok-kelompok sektarian dan sel-sel militan, pada tahun lalu juga terjadi bom mobil yang gagal di luar masjid paling suci kedua umat Islam di kota Madinah. Juga terdapat ancaman keamanan langsung dari rudal-rudal balistik milisi Syiah al-Houthi.
Fakta bahwa Arab Saudi gagal mencegat rudal yang menarget Aramco di provinsi Yanbu, 1.000 kilometer diluar perbatasannya, menunjukkan tanda kekurangan dalam menghadapi ancaman fatal.
Di balik kesepakatan jual-beli senjata AS-Saudi, sepertinya akan terlihat pergeseran besar kemampuan pertahanan terhadap ancaman-ancaman asimetris. Namun, Arab Saudi harus menyadari bahwa serangan membabibuta yang mereka lakukan di Yaman, khususnya di Saada dan Sana’a, telah membuat Houthi memutuskan untuk menyerang di dalam kerajaan. Ini menyebabkan konflik di Yaman meluas hingga melampaui perbatasan selatan Saudi.
Baca: Iran Akui Bekali Senjata Milisi Syiah Houthi Serang Arab Saudi
Seringkali serangan-serangan kelompok Houthi yang menggunakan taktik perang gerilya telah beberapa kali berhasil: mengambil alih barak-barak militer, penyergapan dan serangan roket darat-ke-udara.
Ibadah tahunan Islam, Haji, dimulai pada bulan ini dengan dua juta Muslim diperkirakan berada di Arab Saudi. Ini menjadi sebuah dilema keamanan besar yang harus di netralisir, secepatnya. Untungnya, Kepala Komite Revolusi Yaman, Mohammed Ali Al-Houthi, meminta Arab Saudi untuk menunda peperangan selama musim Haji sebagai bentuk penghormatan ibadah suci Islam. Seruan genjatan senjata itu termasuk penghentian pertempuran di Yaman.
Melihat ke depan
Sebuah kesempatan untuk melakukan genjatan senjata selama Haji dan mengurangi resiko dua juta Muslim yang akan berada di Makkah, serta penduduk Arab Saudi sendiri, seharusnya tidak dihindari.
Dengan 670.000 pekerja asing diperkirakan meninggalkan Arab Saudi pada 2020, sangatlah penting untuk memastikan Aashifatul Hazm tidak menimbulkan konsekuensi yang disengaja oleh Arab Saudi. Jika genjatan senjata sukses dilakukan, tanpa ada yang melanggar, hal itu akan menjadi jalan bagi dialog antar pihak-pihak yang berkonflik.
Arab Saudi perlu mewaspadai ancaman balik dari serangan-serangan udara yang mereka lakukan di Yaman, khususnya ketika perang berada dalam jalan buntu yang dinamis. Penting pula untuk mencari solusi politik di tengah-tengah krisis kemanusiaan dan wabah kolera yang makin memburuk. Jika tidak, ancaman-ancaman asimetris dari kelompok Houthi akan meningkat dan semakin dalam mencapai Arab Saudi – yang akan berdampak pada industri perdagangan, keagamaan dan warga – khususnya sektor energi dan pariwisata.*
Memiliki ketertarikan khusus pada hukum internasional, hak asasi manusia dan keamanan nasional. Bekerja pada kebijakan kontra-terorisme internasional. Artikel ini dimuat di Middle East Monitor (MEMO)