Hidayatullah.com | Mantan presiden Mesir Hosni Mubarak meninggal di usia 91 tahun. Ia adalah profil penguasa terlama, memimpin selama tiga dekade, dengan berbagai jejaknya. Namun ia jatuh dalam perlawanan rakyat tahun 2011 melalui Musim Semi Arab.
Pada 6 Oktober, 1981, dalam sebuah parade memperingati Perang Oktober 1973, para tentara turun dari truk tentara dan membunuh Presiden Mesir Anwar Sadat dalam rentetan tembakan dan ledakan granat. Wakil presidennya, Hosni Mubarak, yang berdiri di sampingnya dan terluka dalam serangan itu, menjadi presiden satu pekan kemudian.
Mubarak adalah presiden selama hampir 30 tahun. Menjadi penguasa terlama Mesir sejak Muhammad Ali Pasha – tokoh era Utsmaniyah yang dianggap sebagai pendiri negara Mesir modern.
Pondasi kepresidenan Mubarak mulai retak di tahun-tahun akhir dia menjadi penguasa dan pada akhirnya runtuh dalam perlawanan rakyat 18 hari yang dimulai pada 25 Januari, 2011.
Mubarak, yang meninggal dunia pada Selasa (25/2), meninggalkan warisan yang rumit. Pemerintahannya sebagai diwarnai oleh korupsi, kebrutalan polisi, penindasan politik dan masalah ekonomi yang mengakar.
Militer, Kebangkitan politik
Mubarak dilahirkan di sebuah desa di Delta Nil pada tahun 1928. Setelah menyelesaikan studinya di Akademi Militer Mesir setelah sekolah menengah, ia bergabung dengan angkatan udara Mesir pada tahun 1949, lulus sebagai pilot setahun kemudian. Pangkatnya naik menjadi panglima angkatan udara Mesir pada tahun 1972.
Mubarak menjadi pahlawan nasional pada tahun berikutnya. Banyak laporan bahwa angkatan udara Mesir memberikan pukulan besar pada pasukan Israel di Sinai selama Perang Oktober. Sadat mengangkat Mubarak menjadi wakil presidennya pada 1975.
Sadat dibunuh oleh anggota militer yang marah karena Perjanjian Camp David 1978 dengan Israel. Mubarak menanggapi pembunuhan itu dengan memberlakukan hukum darurat, yang memberinya kekuasaan besar – langkah yang tidak pernah dicabutnya. Dia menindak keras kelompok-kelompok Islam, dan menangkap ribuan orang. Mubarak telah menjadi sasaran dalam beberapa upaya pembunuhan.
Sikap keras Mubarak pada kelompok Islam memungkinkannya mempertahanan kesepakatan damai dengan Israel. Sehingga Mesir terus menjadi sekutu utama AS di kawasan itu – menerima 1,3 miliar AS dolar setahun dalam bantuan militer AS pada tahun 2011. Surat telegram kedutaan AS yang dibocorkan ke publik oleh WikiLeaks menyebut Mubarak sebagai “seorang yang benar-benar realis, berhati-hati dan konservatif, [yang] memiliki sedikit waktu untuk tujuan idealis”.
Beberapa berpendapat bahwa pengaruh regional Mesir berkurang selama kepresidenan Mubarak ketika negara-negara Arab lain memperluas pengaruh mereka sedangkan dia sebagian besar berfokus pada hubungan dalam negeri.
Bagian dari fokus dalam negeri Mubarak adalah memperluas perangkat keamanan represif yang dibentuk di bawah mantan Presiden Gamal Abdel Nasser dan dipertahankan oleh Sadat. Semua kekuatan oposisi dimata-matai dan diteror dan dipenjarakan. Kebrutalan polisi dan penyiksaan dalam tahanan “rutin dan pervasif”. Pemilu ditandai dengan kecurangan luas yang mendukung Partai Demokrat Nasional Mubarak. Media berada di bawah kontrol ketat dan sensor.
Sepanjang kepemimpinan Mubarak, ide-ide Islamis semakin mendapat perhatian. Dalam upaya meredakan tuntutan Islamis yang luas. Mubarak memberikan Ikhwanul Muslimin sedikit kebebasan. Meskipun organisasi itu secara teknis dilarang, anggota-anggota mereka sering diizinkan untuk mencalonkan diri sebagai anggota parlemen independen.
John R Bradley, dalam bukunya berjudul Inside Egypt, berpendapat bahwa Ikhwanul Muslimin di bawah Mubarak merupakan “pilar penting bagi otoritas bukan musuh bebuyutannya”, tindakan menenangkan Ikhwanul Muslimin itu datang dengan mengorbankan kelompok oposisi sekuler, yang sangat ditekan.
Mesir menjalani proses liberalisasi dan privatisasi ekonomi yang relative di bawah Mubarak. Pada tahun-tahun terakhi pemerintahan Mubarak, banyak indikator ekonomi makro terlihat sehat: pertumbuhan ekonomi rata-rata antara lima sampai enam persen, nilai tukar yang stabil, dan Mesir menikmati peringkat keuangan yang sehat. Tahun 2010 adalah tahun puncak Mesir untuk wisatawan asing.
Namun, indikator luas ini menutupi sejumlah masalah sosial kronis yang mencakup inflasi tinggi, angka pengangguran mencapai dua digit, dan kemiskinan yang parah, dan mengakar. Para kritikus berpendapat bahwa reformasi ekonomi memperkaya kelompok elit pengusaha dan pejabat militer, yang mengarah pada meluasnya ketimpangan dan korupsi.
Era Mubarak juga dianggap era pemimpin tangan besi. Ini ditandai kebrutalan polisi hingga penganiayaan terhadap minoritas. Penangkapan jurnalis hingga penindasan perbedaan politik. Mubarak dianggap menjadi ‘negara polisi’. Selama 30 tahun, kemarahan dan frustrasi di antara rakyatnya, muncul dan ditutup dengan rasa takut.
Selama tiga dekade terakhir, Mubarak tidak secara pribadi menyiksa penjahat atau memukuli pengunjuk rasa di jalanan. Tetapi seperti yang dikatakan Joe Stork, Wakil Direktur Divisi Timur Tengah dan Afrika Utara dari Human Rights Watch, represi Mubarak hanya “didelegasikan ke Kementerian Dalam Negeri dan berbagai layanan keamanan.” Pada akhirnya, ia adalah alamat terakhir untuk semua ini, kata Elizabeth Dickinson dalam Foreign Policy.
Revolusi
Sejak tahun 2006 dan seterusnya, mogok kerja telah menjadi fenomena yang biasa. Ketika populasi Mesir hampir menjadi dua kali lipat di bawah kepemimpinan Mubarak, demografi orang-orang muda yang berkembang menjadi semakin frustasi karena kurangnya kesempatan kerja.
“Rata-rata warga negara mendengar kebijakan yang diumumkan oleh pemerintah, dan [menemukan] kenyataan di lapangan sama sekali berbeda”, professor ekonomi di Universitas Amerika di Kairo (AUC), Tarek Selim, mengatakan pada September 2013. “Ini sebenarnya [salah satu] pemicu revolusi 25 Januari,” dikutip Al Jazeera.
Pada 25 Januari, 2011 – hari libur tahunan untuk memperingati kepolisian Mesir – para pendemo memenuhi jalanan, menyerukan turunnya pemerintahan Mubarak dengan slogan : “Roti, kebebasan dan keadilan sosial”.
Mubarak kemudian berpidato, yang diberinya label “Dialog seorang ayah dengan putra dan putrinya”, menyerukan diakhirinya protes dan menjanjikan reformasi terbatas. Di lapangan, preman dan pasukan keamanan menyerang demonstrasi tetapi para pendemo tidak dapat digoyahkan. Mubarak mengundurkan diri dari kepresidenan pada 11 Februari, 2011.
Banyak pengunjuk rasa, yang pada awalnya bersuka cita dan tidak percaya, dengan cepat menyadari bahwa meskipun mereka menggulingkan Mubarak, sistem yang dipimpinya sebagian besar masih utuh.
Tahun-tahun pasca penggulingan Mubarak bergolak ketika para aktivis memprotes kepemimpinan militer langsung, dan kemudian, terhadap Mohamad Morsi, yang terpilih secara demokratis pada Juni 2010 dan digulingkan setahun kemudian oleh kepala militer, Abdul Fattah Al-Sisi, kepala intelejen di bawah Mubarak.
Banyak orang yang mengalami kekacauan perlawanan rakyat memutuskan mereka lebih menyukai penguasa yang kuat. El-Sisi terpilih sebagai presiden pada Mei 2014.
Pengadilan, penjara, pembebasan
Selama masa ini, Mubarak, keluarganya dan pejabatnya menghadapi serangkaian dakwaan di pengadilan. Mubarak pertama kali ditahan pada April 2011. Dalam sesi pengadilan, dia menampakkan diri sebagai sosok yang lemah: biasanya menggenakan kacamata hitam, berbaring di atas brankar. Hukuman seumur hidup pada tahun 2012, dengan dakwaan terkait dengan pembunuhan ratusan demonstran, dibatalkan pada banding dan dilakukan pengadilan ulang.
Pemahaman tentang korupsi pribadinya muncul tidak lama setelah itu. Pada Mei 2014, Mubarak dan anak laki-lakinya Gamal dan Alaa dinyatakan bersalah karena menggelapkan dana negara sebesar 17,6 juta dolar AS. Mubarak dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dan kedua anaknya empat tahun.
Pada Novemper 2014, dakwaan menghasut pembunuhan dan klaim korupsi lain terhadap Mubarak diberhentikan oleh seorang hakim karena masalah teknis hukum. Tanggapan terhadap putusan itu sebagian besar berhasil diredam, meskipun seribuan demonstran anti-Mubarak berkumpul di Lapangan Tahrir. Para demonstran dengan cepat dibubarkan, yang ini menunjukkan daya tahan institusi yang semakin otoriter dan represif yang telah diperluas oleh Mubarak.
“Apa yang nampaknya terjadi di Mesir adalah reproduksi dari rezim Mubarak – tentu saja tanpa Mubarak, tetapi dengan peran sentral negara sebagai fitur utama dari proses reproduksi,” Walid Kazziha, profesor ilmu sosial politik di AUC, setelah vonis Mubarak.
Beberapa orang mengklaim bahwa peran Mubarak paling baik dipahami sebagai figur pemimpin yang mengatur sumber kekuatan sesungguhnya: militer.
Ketika protes keras meletus terhadapnya, beberapa berpendapat bahwa militer mengorbankan Mubarak, yang memungkinkan pemerintahan militer, tersembunyi di balik layar, untuk bertahan hidup.
Dalam kematiannya, Nasser dan Sadat terus menghantui Mesir – gambar mereka tetap di depan umum. Mubarak tidak memiliki karisma dan popularitas dari para pemimpin itu, tetapi ia jauh melampaui mereka dalam umur.
Beberapa aktivis dan analis mengklaim Mubarak akan terus menjadi simbol spektral dari revolusi yang frustrasi yang tidak hanya berusaha untuk menggulingkannya. Tapi juga bertujuan untuk reformasi sistemik yang lebih luas, perjuangan yang berlanjut bertahun-tahun setelah penggulingannya. Lembaga dan sistem keamanan yang dipelihara Mubarak – dan yang mengorbankannya – telah bertahan. Mubarak meninggalkan istrinya, Suzanne, dan putranya, Gamal dan Alaa.* (berbagai sumber)