Oleh: Tasnim Nazeer
Hidayatullah.com | YAMAN sedang menghadapi tingkat malnutrisi tinggi pada anak-anak yang belum pernah terjadi sebelumnya dikarenakan kekurangan pasokan makanan, sebagai akibat langsung dari perang dan pandemi virus corona baru. Survei terbaru Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) terbaru memperkirakan 100.000 anak-anak di bawah usia 5 tahun di Yaman beresiko meninggal.
Yang memilukan, Yaman bisa kehilangan seluruh generasi anak-anak akibat krisis kelaparan. Kecuali jika diambilnya tinggakan segera untuk memfasilitasi lebih banyak akses ke bantuan kemanusiaan dan persediaan makanan.
Yang mengkhawatirkan juga, diperkirakan ada 1,5 juta anak tinggal di daerah yang terdampak paling parah di Yaman Selatan yang dikelola oleh pemerintah Yaman. Negara itu telah mengalami konflik selama lima tahun sejak koalisi pimpinan Saudi melancarkan serangan terhadap pemberontak Syiah Houthi.
Namun, korban sesungguhnya dari perang ini adalah warga sipil tak berdosa dan anak-anak yang harus menghadapi kondisi yang mengerikan. Intervensi Saudi yang dipimpin oleh Putra Mahkota Saudi Mohamad Bin Salman, Uni Emirat Arab (UEA) dan sekutunya, telah memperpanjang konflik dan menyebabkan apa yang digambarkan oleh PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia di negara termiskin di Timur-Tengah.
Dilaporkan bahwa lebih dari 100.000 orang telah tewas dalam perang tersebut, menurut Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata (ACLED), termasuk 12.000 warga sipil. Selain itu, Program Pangan Dunia memperkirakan bahwa 24 juta orang Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan, sementara 20 juta tidak memiliki keamanan pangan dan tidak tahu kapan makanan mereka berikutnya akan datang. Dengan tingkat kemiskinan yang mengejutkan ini, membuat frustasi para pemimpin dunia yang terus menutup mata terhadap konflik.
Saya telah lama menyerukan agar perang di Yaman segera diakhiri dan bagi mereka yang berkuasa untuk membuka jalan dalam mengambil sikap tegas untuk tidak mendukung Arab Saudi dalam serangannya di Yaman. Namun hingga saat ini, hanya ada sedikit kemajuan dalam memfasilitasi perdamaian dan segera mengakhiri pertumpahan darah.
Jens Laerke dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di Jenewa menyatakan: “Kami telah memperingatkan selama beberapa bulan hingga sekarang bahwa Yaman sedang menuju ke jurang. Kami sekarang melihat orang pertama yang jatuh dari tebing itu – mereka adalah anak-anak di bawah usia lima tahun. Hampir 100.000 dari mereka berisiko meninggal.”
Sungguh mengerikan bahwa anak-anak di bawah usia lima tahun terkena dampak paling parah dari perang, ketidakstabilan ekonomi, dan kekurangan gizi. Sekutu di Barat seperti Inggris dan AS telah memainkan peran dalam perang brutal ini dan telah membantu Arab Saudi dalam menyediakan senjata yang telah menewaskan ratusan dan ribuan warga sipil, dan berdampak pada banyak anak kecil yang seharusnya mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Putra Mahkota Saudi Mohamed Bin Salman harus menghadapi tindakannya dan menilai kembali apakah tindakannya sejalan dengan ajaran Islam. Perang yang membawa Yaman ke jurang kelaparan dan kematian seharusnya menjadi penyesalan putra mahkota Saudi dan tentunya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dalam menjaga saudara kita dalam Islam dan masyarakat luas.
Sayangnya, seruan untuk mengakhiri perang dan memfasilitasi langkah-langkah untuk membangun kembali dan merehabilitasi negara telah diabaikan. Satu-satunya sinar harapan adalah bantuan kemanusiaan dan lembaga yang bekerja di lapangan untuk membantu mereka yang membutuhkan, tetapi sekarang bahkan mereka tidak berdaya untuk dapat mendukung mereka yang paling rentan karena kurangnya dana.
Situasi serius seharusnya tidak pernah terjadi, dan sekarang tergantung pada masyarakat internasional untuk berbicara dan menekan mereka yang berkuasa untuk bertindak sekarang untuk menyelamatkan rakyat Yaman dari penderitaan yang lebih parah.*
Dimuat di Middle East Monitor (Memo), 12 November 2020