Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Pelanduk di Antara Dua Gajah

Bambang S
Terakhir diupdate: 8 Desember 2015 11:41 11:41 am
Bambang S
Dipublikasikan 8 Desember 2015 10:20
Bagikan
Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud
Bagikan

DALAM gerakan islamisasi ilmu, orang tak bisa melupakan nama Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud. Dialah salah satu pelopornya, setelah tokoh utamanya, Prof Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Ada yang menarik dari cendikiawan asal negeri jiran ini. Ia pernah penjadi murid dua cendikiawan besar yang alirannya berlawanan. Mereka adalah Prof Dr Fazlur Rahman dan Prof Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas. Dua pemikiran ini saling “bertarung” meperebutkan pengaruh.

Lalu, bagaimana dengan Wan Daud? Apakah ia “mati” seperti pepatah gajah bertarung dengan gajak, pelanduk mati di tengah-tengah?

Fazlur Rahman dikenal sebagai tokoh utama pemikiran Neomodernisme. Pemikiran ini kemudian melahirkan gerakan sekulerisasi dan liberalisasi dalam Islam. Di Indonesia pemikiran Fazlur Rahman sudah dikenal sejak awal 1980. Ia sering menjadi rujukan para aktivis liberal. Salah satu murid langsung adalah Nurcholis Madjid dan Syafi’i Maarif. Nurcholis populer sebagai lokomotif liberalisasi Islam di Indonesia.

Pria kelahiran 23 Desember 1955 di Kelantan ini, pertama kali bertemu dengan Fazlur pada awal Februari 1979. Ketika itu Wan hendak mengambil S3 mengkaji sistem pendidikan Islam di Universtiy of Chicago, AS. Sedangkan Fazlur adalah pengampu studi Islam di universitas yang terkenal di negeri Paman Sam itu.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Pada akhirnya, Wan tak hanya menjadi mahasiswa pemikir kelahiran Pakistan itu. Mereka bergaul akrab. Wan cukup mengenal kehidupan pribadi gurunya itu. “Kesan saya, beliau seorang yang ramah dan baik hati. Tidak pernah menunjukkan rasa marah, benci, dan dendam kepada seseorang,” tulis Wan Mohd Nor Wan Daud dalam buku Rihlah Ilmiah Wan Mohd Nor Wan Daud: Dari Neomodernisme Ke Islamisasi Ilmu Kontemporer.

Yang agak aneh, sebelumnya Wan mengaku tidak tahu reputasi negatif Fazlur. Gara-gara pandangan yang kontroversial soal Islam, Fazlur pernah diusir dari Pakistan. Wan mengenal Fazlur dari koleganya di Malasyia. Dan koleganya itu tak bercerita hal-hal yang negatif. “Andai tahu, mungkin saya tidak akan berani, terutama karena saya aktivis Muslim,” aku pria yang menyelesakan S2-nya di NIU (Northern Illinosis University), AS ini.

Tetapi tidak seperti murid Fazlur, yang biasanya mengekor pada gurunya. Wan justru tampil menjadi pengkritik Fazlur. Soal ini, anak sulung dari 13 bersaudara ini menjawab diplomatis, “Fazlur Rahman sendiri menganjurkan murid-muridnya agar berpikir kritis.”

Wan, antara lain mengkritik hermeneutika yang diusung Fazlur. Wan dengan tegas menolak hermeneutika digunakan sebagai metode untuk menafsirkan al-Qur`an. “Itu berbahaya,” katanya.

Letak bahayanya, lanjut Wan, utamanya adalah penolakan hermeneutika terhadap penafsiran final terhadap suatu masalah. Bukan hanya masalah agama dan akhlak, malah juga masalah-masalah keilmuan lainnya. “Keadaan ini dapat menimbulkan kekacauan nilai, akhlak dan ilmu pengetahuan,” tegas Wan.

Sekalipun  berselisih pendapat, Wan tetap mengakui Fazlur sebagai ilmuwan ulung. “Saya juga menyanjungnya sebagai seorang yang baik dan berdedikasi,” katanya. *(Bersambung)

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamliberalpemikiranProf Dr Fazlur RahmanProf Dr Syed Muhammad Naquib al-AttasProf Dr Wan Mohd Nor Wan DaudRihlah Ilmiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya [Foto] Ribuan Muslimah Gaza Pawai Dukung Intifada Al Quds
Tulisan selanjutnya KH.Athian Ali M. Dai: “Saya Bingung Dituduh Wahabi dan ISIS” [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap

Berita
31 Agustus 2026 17:47
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?