Pakar Timur Tengah Universitas Oklahoma, menyebut Abu Mohammed al-Jaulani lebih pintar dari Bashar al-Assad, terbukti ikut memberi jaminan keamanan kelompok Kristen dan minoritas Suriah
Hidayatullah.com | HARI AHAD (8/12/2024) secara resmi kekuasaan rezim tangan besi Bashar al-Assad runtuh. Di balik jatuhnya sang tiran, ada nama ketua pejuang oposisi Suriah, Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), Ahmed Al-Sharaa atau lebih dikenal Abu Mohammed al-Jaulani.
Siapa Abu Muhammed al-Jaulani? yang berhasil memimpin serangan kilat menggulingkan Bashar al-Assad?
***
Hubungan Hay’at Tahrir Syam dengan Al-Qaeda
Jatuhnya Bashar al-Assad menjadikan nama Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) dan Abu Mohammed Al-Jaulani menjadi perbincangan. Posisi mereka yang sangat berpengaruh berpotensi menjadi bagian menentukan masa depan Suriah saat ini.
HTS sempat bernama Jabhah Nusrah (JN), yang merupakan afiliasi Al-Qaeda, dan kemudian berpisah dengan gaya yang lebih moderan dan toleran.
Al-Jaulani bergabung dengan al-Qaeda di Iraq setelah invasi Amerika di Iraq.Ia ditangkap pasukan AS di Iraq pada tahun 2006, ditahan selama lima tahun, dan dipenjarakan Amerika di sana.
Ia lahir dengan nama Ahmed Hussein al-Sharaa pada tahun 1982 di Riyadh, Arab Saudi, tempat ayahnya bekerja sebagai insinyur perminyakan. Keluarga itu kembali ke Suriah pada tahun 1989 dan menetap di dekat Damaskus.
“Saya berusia 18 atau 19 tahun. Saya mulai berpikir saat itu bagaimana saya bisa mengemban tugas bela negara yang sedang dianiaya oleh penjajah dan penjajah (AS, red),” ujarnya.
Al-Jaulani diyakini memimpin sekitar 15.000 pejuang dan diperkirakan akan fokus membangun pemerintahan lokal di kota-kota yang baru direbut, termasuk ibu kota Damaskus, Aleppo, Hama dan Homs.
Kelompok yang didukung Turki, yang diperkirakan akan bergabung dengan HTS adalah Front Pembebasan Nasional (FSA).
Meskipun kelompoknya menjadi faksi paling kuat yang menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad, Al-Jaulani adalah salah satu pemimpin yang misterius dan selalu menghindari sorotan publik.
Sejak memutuskan hubungan dengan al-Qaeda pada tahun 2016, ia adalah tokoh paling terkenal di Suriah, dan menjadi sorotan publik saat ini. AlIa pernah menghabiskan beberapa tahun di penjara AS, lalu kembali ke Suriah saat Revolusi Suriah bermula.
Pada 2020, HTS menutup basis al-Qaeda di Idlib, merebut persenjataan, dan memenjarakan sejumlah pemimpinnya
“Masa depan kini menjadi milik kita,” kata al-Jaulani, dalam pernyataan yang disiarkan di televisi lokal, di mana ia juga menekankan peran kunci yang akan ia mainkan setelah lebih 50 tahun di bawah kepemimpinan keluarga Al-Assad yang tiran.
Sebagai upaya untuk memastikan transisi Suriah yang tertib, ia menyatakan bahwa lembaga-lembaga negara yang berada di bawah kendali Assad yang ditunjuk sebagai perdana menteri masih berjalan sampai transisi terjadi.
Mengenakan seragam militer, Ahmed al-Sharaa sempat mengunjungi Masjid Umayyah abad kedelapan di kota tua Damaskus, ditemani oleh para pendukungnya yang merekam momen tersebut sambil meneriakkan “Allahu Akbar”.
Sebelum muncul sebagai pahlawan sebagai pemimpin Hayiat Tahrir Al-Sham (HTS), sebuah kelompok yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah, ia pernah menjadi komandan cabang al-Qaeda dalam perang saudara di Suriah.
Sebagai jaminan terhadap kelompok minoritas Suriah yang selama ini khawatir berada di bawah kepemimpinan kelompok-kelompok pembebasan, baru-baru ini al-Jaulani mengeluarkan beberapa pernyataan yang menjamin perlindungan bagi warga minoritas.
“Al-Jaulani lebih pintar dari Assad. Dia telah mengubah citranya, menjalin hubungan dengan sekutu baru, dan melakukan kampanye untuk memenangkan kelompok minoritas,” kata pakar Suriah dan kepala Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Oklahoma, Joshua Landis.
Abu Mohammad Al-Jaulani dan syariat Islam
Sebagaimana biasanya, para pejuang pembebasan dinyatakan oleh Amerika dan penjajah ‘Israel’ sebagai kelompok “teroris”. Amerika Serikat (AS) pada tahun 2013 menyatakan Al-Jaulani sebagai “teroris” karena masa lalunya di Jabhah Nusrah dan Al-Qaeda, tentang tujuannya menggulingkan pemerintahan Assad dan gagasannya menegakkan Islam.
Departemen Luar Negeri AS, bahkan pernah menawarkan hadiah hingga US$10 untuk informasi tentang keberadaan al-Jaulani.
“Saya ulangi sekali lagi – keterlibatan kami dengan al-Qaeda telah berakhir, dan bahkan ketika kami masih bersama al-Qaeda, kami menentang operasi di luar Suriah.”
Aron Lund, peneliti di lembaga think tank Century International, mengatakan al-Jaulani dan HTS jelas sudah berubah dan tidak keras lagi, sebagaimana Al-Qaeda atau ISIS.
“Ini jelas merupakan taktik humas, namun fakta bahwa mereka melakukan semua upaya ini menunjukkan bahwa mereka tidak sekeras kepala sebelumnya,” ujarnya.
Ia melakukan wawancara dengan media untuk pertama kalinya pada tahun 2013, di mana ia tampil dengan seluruh wajahnya ditutupi syal berwarna gelap dan hanya punggungnya menghadap kamera.
Dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera, al-Jaulani menyerukan agar Suriah diatur dengan cara islami.
Tujuan HTS adalah untuk membebaskan Suriah dari pemerintahan otokratis Assad, “mengusir milisi Iran” dari negara tersebut dan mendirikan negara sesuai dengan “hukum Islam”, menurut lembaga pemikir Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington, DC.
Sekitar delapan tahun kemudian, al-Jaulani diwawancarai oleh program FRONTLINE Layanan Penyiaran Publik Amerika Serikat, di mana dia menghadap kamera dan mengenakan jaket dan kemeja.
Al-Jaulani mengatakan menyebut dirinya “teroris” adalah tindakan yang tidak adil. Dia bahkan keberatan dengan aksi-aksi pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak bersalah.
Pernyataan ini menjawab stigma dirinya dan HTS oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), AS, dan Uni Eropa, sebagai bantahan atas masal lalunya yang telah ditinggalkan demi kesetiaan nasional.
Abu Mohammed Al-Jaulani dan minoritas Kristen
Saat kelompok ISIS runtuh di wilayah yang dikuasainya di Suriah dan Iraq, Al-Jaulani mengkonsolidasikan kendali HTS di wilayah Idlib di barat laut Suriah, di mana ia mendirikan pemerintahan sipil yang disebut Bala Keselamatan.
Dengan berkuasanya kelompok pembebasan Muslim Sunni, pemerintahan HTS telah mengeluarkan pernyataan untuk meyakinkan kelompok Alawi, Kristen, dan kelompok minoritas lainnya.
Sebuah pernyataan mendesak suku Alawi untuk menjadi bagian dari Suriah baru yang “tanpa sektarianisme”.
Al-Jaulani telah berbicara kepada penduduk Aleppo, rumah bagi minoritas Kristen yang cukup besar, dalam upaya untuk meyakinkan mereka bahwa mereka tidak akan menghadapi bahaya di bawah rezim barunya.
Ia juga meminta para pejuangnya untuk menjaga keamanan di wilayah yang telah mereka “bebaskan” dari kekuasaan Assad.
“Saya pikir itu terutama hanya politik yang baik,” kata Aron Lund, peneliti di lembaga pemikir Century International.
“Semakin sedikit kepanikan lokal dan internasional yang Anda alami dan semakin Jaulani tampak seperti aktor yang bertanggung jawab alih-alih ekstremis jihad yang beracun, semakin mudah pekerjaannya. Apakah itu benar-benar tulus? Tentu saja tidak,” katanya.
“Tetapi itu hal yang cerdas untuk dikatakan dan dilakukan saat ini.”
Terlepas gagasan domestik al-Jaulani, sebagai kepala kelompok bersenjata oposisi terbesar di Suriah, dampaknya terhadap negara akan bergema secara nasional dan internasional. *