Sambungan artikel PERTAMA
Sebaliknya Kristen telah banyak mengalah dan mengadopsi aspek-aspek ajaran pagan didalam pokok ajaran Kristen. Trinitas sendiri adalah contoh paling nyata dari akomodasi Kristen terhadap ajaran pagan.
Trinitas dewa-dewi sangat mudah dijumpai di kepercayaan Mesir kuno, India, Jepang, Babilonia, dan lainnya. Ditambah pula dengan berbagai perayaan pagan yang diadopsi Kristen seperti Natal pada 25 Desember (yang diyakini sebagai hari lahir Dewa Mithra yang disembah militer Romawi), Hari Paskah (Easter), Hari Helloween dan lainnya.
Akomodasi yang luar biasa terhadap ajaran paganisme ini mungkin dapat dipahami sebagai faktor yang mendorong kesuksesan Kristen memikat kekaisaran Romawi dimulai dari Ratu Helena dan Kaisar Konstantin. Meski kaum pagan Romawi membenci Kristen, namun aksi persekusi terhadap kaum Kristen tidaklah sebesar dan sistematis sebagaimana sejarah upaya Romawi Kristen untuk melenyapkan paganisme dan melakukan pembantaian terhadap kaum pagan.
Kembali ke Kota Roma dengan berbagai peninggalan monumen sejarahnya, saksi pergulatan paganisme dan christiniaty (kekristenan) dalam kurun sejarah panjang Kota ini mungkin terilustrasikan dengan sangat sempurna oleh monumen Trevi Fountain (atau Air Mancur Trevi).
Dahulunya air mancur ini bukan dimaksudkan sebagai air mancur melainkan diawali untuk membuat sebuah saluran air yang dapat menghantarkan air ke Pantheon dan pemandian air panasnya. Rencana pembangunan saluran air (aquaduct) yang terletak di tengah Kota Roma ini awal mulanya diperintahkan oleh Jendral Agrippa (64SM-12M) yang merupakan menantu Kaisar Romawi Augustus.
Menurut legenda, saluran air ini awal mulanya dinamai dengan ‘Aqua Virgo’ karena seorang gadis memabntu pasukan Romawi untuk mencari sumber air bagi saluran air ini. Lokasi saluran air yang terletak diantara tiga jalan (Trivia) membuat saluran ini sekarang disebut dengan Trevi Fountain (Fontana di Trevi).
Saluran air ini sendiri telah dirombak berulan kali pada Abad Pertengahan untuk perbaikan sebagai akibat serangan dari musuh-musuh Romawi.
Uniknya, perbaikan-perbaikan yang dilaksanakan terhadap Trevi Fountain selalu dipimpin oleh Paus-Paus dengan menugaskan kepada para arsitek-arsitek Itali.
Paus Nicholas V sekitar 1400M menugaskan Diovan Battista Alberti untuk memperbaikinya agar dapat mengalirkan air lagi dari Sungai Tiber sebagaimana telah bermanfaat bagi Kota Roma selama tiga abad.
Di tahun 1625 Paus Urban VIII menugaskan Gian Lorenzo Bernini untuk merekonstruksi ulang dengan desain baru. Namun karena kekurangan dana, proyek ini akhirnya terhenti.
Baru setelah 90 tahun kemudian akhirnya, Paus Clement XII memulai sayembara untuk menentukan seniman (artist) yang ditugaskan membangun kali ini sebagai sebuah fountain atau air mancur.
Adalah Niccolo Salvi yang mendesain ulang air mancur itu. Meski kredit terbesar diberikan kepada Niccolo namun beberapa seniman yang datang kemudian-lah yang menyempurnakan hingga seperti saat ini termasuk dengan konstruksi patung dewa Neptunus, yang merupakan dewa laut dalam agama mitos Romawi. Dalam mitologi Yunani, ia dikenal sebagai Dewa Poseidon.
Ornamen Trevi Fountain juga dilengkapi oleh patung dua kuda yang melambangkan air laut yang bergolak dan air tawar yang tenang. Disisi kiri dan kanan patung Neptunus terdapat dua wanita yang melambangkan kesuburan dan kesehatan untuk melambangkan manfaat meminum air segar dari tugu ini. Juga dua ukiran diatas patung neptunus yang melambangkan penugasan Agrippa untuk membuat air mancur tersebut dan bantuan gadis muda untuk mencari sumber mata airnya. Dilegendakan pula menurut takhayul (mitos) bahwa siapapun yang melemparkan koin kedalam air mancur itu akan ditakdirkan kembali berkunjung ke Roma.
Sejarah pergulatan Kristen dan paganisme dalam kekaisaran Romawi, dan sejarah konstruksi Trevi Fountain dengan simbol patung pagan, Dewa Neptunus, yang dilaksanakan oleh para paus/uskup agung sedikit banyak mengisahkan kepada kita bagaimana pergulatan antara dua musuh bebuyutan (Kristen dan paganisme) dan juga ‘melunaknya’ Kristen terhadap simbol-simbol paganisme.
Tidaklah mengherankan bahwa beberapa penulis Barat dengan yakin menyatakan bahwa selama 1500 tahun belakangan agama Kristen telah berubah dari monotheistik menjadi politheistik.*/Ady C. Effendy, kandidat doktor, pemerhati peradaban dan agama. Bahan diambil dari berbagai sumber