Sambungan artikel PERTAMA
Hidayatullah.com–Ada ‘keajaiban’ begitu Suwardi mengamalkan dua hadits. Jika semula ia dikejar-kejar hutang, kali ini ia dikejar-kejar orang yang ingin memanfaatkan keahliannya berdagang. “Banyak investor yang datang mengajak kerja saya,” katanya. Tentu saja ia menyambut gembira ajakan itu. Lalu, apakah Suwardi memutuskan bersyahadat?
Belum juga. Tapi ada yang aneh. Setiap ada azan, Suwardi selalu datang ke masjid. Ia hanya duduk-duduk di belakang. Ketika shalatnya bubar, Suwardi juga ikut bubar. Begitu terus hingga beberapa bulan. “Saya tidak ikut shalat karena belum tahu tata cara dan bacaannya,” katanya.
Makin lama Suwardi makin yakin dengan Islam. Hingga pada 2000, tanpa keraguan lagi ia mengikrarkan diri sebagai seorang Muslim. Ketika ditanya mengapa mesti bersyahadat, toh tanpa masuk Islam pun ia sudah memetik hasilnya. Jawabnya, “Saya ingin masuk Islam secara kaffah.” Ia juga meyakini, siapa saja bersungguh-sungguh mencari Tuhan, pasti ketemunya Islam.
Setelah masuk Islam, Suwardi kian bersamangat belajar Islam. Ada satu amanah dari gurunya. Sederhana saja. Ia diminta menegakkan azan sehari lima kali. Ingin menjadi santri yang baik, ia berusaha keras menjalankan amanah itu.
Tak jauh dari rumahnya ada sebuah mushalla. Sesibuk apapun Suwardi, sepuluh menit sebelum masuk waktu shalat, ia sudah ada di mushalla itu. Pas waktu shalat tiba, ia pun mengumandangan azan. Sesuatu yang biasa sebenarnya.
Tapi tidak di lingkungan Suwardi. Mushalla itu tak biasa digunakan shalat lima waktu. Entah mengapa. “Biasanya shalatnya hanya Magrib, Insya dan Subuh,” kata Suwardi kepada wartawan majalah Suara Hidayatullah pada suatu kesempatan.
Karena kebiasaannya seperti itu, ia mendapat teguran dari salah seorang tokoh. Suwardi menjawab enteng teguran itu. “Saya hanya menjalankan perintah guru,” ujarnya. Hari-hari berikutnya Suwardi tetap azan seperti biasa. Sering kali ia yang azan, ia yang qamat, ia pula yang menjadi imam merangkap makmum alias shalat sendirian.
Suwardi tak putus asa. Ia terus adzan. Kegigihan Suwardi akhirnya berbuah. Setelah berbulan-bulan, mushalla itu menjadi ‘hidup’. Sehari dipakai shalat berjamah lima kali, bahkan hingga kini.
Selain menghidupkan mushalla, ia juga membuat majelis taklim. Di antaranya majelis taklim di rumahnya sepekan sekali. Setidaknya ada 500 orang hadir pada majelis itu.
Makin dalam mempelajari Islam, Suwardi melihat kesenjangan di tubuh umat Islam. Kesenjangan antara ajaran dan praktek. Misalnya, katanya, Islam memerintahkan shalat berjamaah di masjid lima kali sehari, namun nyatanya lebih banyak yang mengabaikan perintah itu. Umat Islam banyak yang memilih shalat di rumahnya sendiri-sendiri.
Jika kita menomor satukan Allah dan sungguh-sungguh menjalankan perintah-nya, masih kata Suwardi, kita akan mudah minta pertolongan kepada Allah. “Bahkan belum minta pun Allah sudah kasih,” katanya. Dalam hal ini ia punya pengalaman banyak.
Di antaranya saat tokonya terbakar. Seluruh barang hangus. Sisa uangnya tinggal Rp 60 juta. Dalam keadaanya seperti itu, ia diminta menjadi ketua pembangunan sebuah masjid. Karena uang kas masjid hanya 14 juta, ia mengalami dilema. Antara membangun toko baru atau menggunakan uangnya untuk memperbaiki rumah Allah. “Akhirnya saya memilih mendahulukan rumah Allah,” tegas Suwardi.
Tak lama kemudian keajaiban terjadi. Rezekinya mengalir deras. Dalam sebulan omset penjualannya bisa mencapai 3-4 ribu ton. Tidak hanya itu. Toko Suwardi juga diganti oleh Allah. “Besarnya 20 kali lebih dari toko lama,” kata suami Amin Sumaryani ini. Nah, belum yakin juga dengan janji Allah?*