Hidayatullah.com | DI Kamp Moria, sebuah kamp pengungsi di Pulau Lesbos, Yunani yang berdekatan dengan pantai Turki, segala sesuatunya kacau. Di tengah itu semua, penghuni anak-anak tidak punya banyak kegiatan untuk dilakukan, dan beberapa dari mereka mengais-ngais di antara tumpukan sampah, di manapun penuh dengan kerumunan orang. Penyakit menyebar ke mana-mana dan sampah menumpuk tinggi.
Menurut perhitungan resmi, lebih dari 20.000 pengungsi tinggal di Kamp Moria di tenda darurat dan bangunan semi-permanen. Pengungsi lain di luar kamp – yang tidak kami ketahui berapa jumlahnya – bertahan hidup di tenda-tenda di hutan dan jalan. Sejumlah besar orang juga tinggal di bangunan terbengkalai di sepanjang pulau itu.
Di tengah kekacauan ini, perempuan dan wanita dengan anaknya memiliki kisah tersendiri untuk diceritakan.
Bagian untuk perempuan berada di sebelah kanan tepat setelah anda memasuki Kamp Moria. Ribuan pengungsi perempuan, sendiri atau dengan anak-anak perempuan mereka, tinggal di tempat ini, yang dirancang hanya untuk 200 orang. Kepadatan yang ekstrem telah memaksa banyak dari mereka tinggal di bagian laki-laki atau di bawah tenda di hutan ada di sekitar kamp. Mereka juga bernaung di reruntuhan bangunan, dan kebanyakan dari mereka lebih suka di Kamp Moria.
Menurut organisasi hak asasi manusia, bencana kemanusiaan telah terjadi di kamp. Siapapun yang mengalaminya, baik pengungsi maupun pengunjung, setuju bahwa itu terasa seperti berada di neraka dunia.
Saya melangkah masuk ke dalam bagian perempuan di tengah keributan yang seperti tidak pernah surut. Seorang perempuan yang tinggal sendiri menceritakan kisah pelecehan seksualnya kepada saya. Dia telah tinggal di kamp selama setahun tanpa kejelasan dan terbangun oleh mimpi buruk setiap malam.
Suatu malam, ketika dia dalam perjalanan kembali ke kamp dari kota sendirian, beberapa pria menyerangnya dan berupaya memperkosanya. Dia berteriak keras dan untungnya sekelompok orang mendengar itu dan menyelamatkannya. Sekarang dia menyebut insiden tersebut sebagai “kengerian itu” dan tidak pernah meninggalkan kamp sendirian.
Kami mulai berjalan di sekitar kamp dengan beberapa perempuan lain sehingga mereka dapat memberitahu saya tentang lingkungan kamp yang tercemar dan kehidupan para pengungsi lain. Namun setiap jalan yang kami lewati, sekelompok pria akan meneriaki kami dengan hinaan seksual. Mustahil untuk diabaikan.
Pengungsi dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Sebagian besar pengungsi perempuan Iran yang tinggal di bagian perempuan Kamp Moria, dan banyak seperti mereka yang tinggal di Athena atau Turki atau negara lain yang menerima pengungsi, telah melarikan diri dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) – jenis kekerasan yang tidak dianggap kejahatan di Iran. Tidak ada hukum yang memadai di sana.
Pada kunjungan ini, saya berbicara kepada seorang perempuan yang mengatakan dia terpaksa meninggalkan Iran karena KDRT. Perempuan lain mengatakan bahwa keluarganya memaksa dia untuk menikahi laki-laki yang tidak inginkan sehingga ia mengemasi barangnya dan mencapai pulau ini tanpa sepengetahuan keluarganya.
“Saya ingin bunuh diri di Iran dan di sini saya juga pernah sekali mencoba bunuh diri,” dia mengatakan sementara kita berjalan. “Jadi mereka memberi saya obat penenang.” Dia merogoh tasnya dan menunjukkan botol plastik berisi pil. Dia tidak tahu nama pil itu, namun pil itu membuat seluruh rambut di badannya rontok. Tetap saja, saya bisa melihat bayangan senyum di wajahnya dan dia berbicara dengan tenang.
Seorang perempuan yang tiba di Lesbos dengan anak laki-laki dan perempuannya dan tinggal di salah satu tenda di luar kamp memberitahu saya bahwa dia telah terjebak di pulau itu selama lebih dari 13 bulan. “Suami saya terus-menerus memukuli kami,” katanya.
“Dia bahkan akan memukuli anak saya. Dia seorang pecandu obat-obatan dan dia ingin kami memberikannya obat-obatan. Saya membawa anak-anak dan datang ke Yunani demi masa depan mereka, namun di sinilah kami berakhir.” Apakah dia memiliki perwalian anak-anaknya? Tanya saya. “Membutuhkan bertahun-tahun untuk dapat bercerai,” jawabnya. “Dia (suaminya) menolak untuk menceraikan saya jadi saya melarikan diri.”
Di tenda lain seorang perempuan Afghanistan memberitahu saya penyakit yang dia dan anaknya derita. “Anak perempuan saya memuntahkan darah namun dokter mengatakan dia baik-baik saja,” kisahnya. “Ginjal saya sakit dan dokter mengatakan saya mungkin menderita batu ginjal, tetapi mereka tidak memberi kami pengobatan apapun. Mereka hanya menyuruh kami minum air.”
Perempuan lain yang tinggal di sebuah tenda baru saja melahirkan. “Selama sebulan penuh, baik aku maupun bayiku belum mandi,” katanya.
Tidak ada air panas. Jika beruntung, mereka mendapat air hangat. Tetapi seringkali terputus, dan begitu pula dengan listrik. Tempat-tempat mencuci tangan dan toilet kotor dan hanya ada satu jalur makanan untuk lebih dari 20.000 pengungsi. Perkelahian dan bentrokan adalah hal yang biasa dan senjata seperti pisau dan parang dapat dibeli dan dijual dengan mudah. Obat-obatan terlarang tersedia. Semua kekerasan dan kejahatan terjadi tepat di depan mata anak-anak, serta orang dewasa, banyak dari mereka rentan. Kebakaran, perkelahian, kelaparan, kemiskinan, penantian panjang dan masa depan yang tidak pasti telah mendorong angka upaya bunuh diri.
Tak ada obat dan uang, Tak cukup dokter
Banyak orang di kamp menderita penyakit yang semua orang sebut “gatal”. Bisul busuk muncul di kulit dan ketika penderita menggaruknya, bisul akan menyebar ke seluruh tubuh, termasuk alat kelamin. Tetapi tidak ada obat, tidak ada uang dan tidak ada cukup dokter. Organisasi HAM dalam kondisi primitif ini berupaya keras membagikan tampon, popok, pakaian dan terkadang obat-obatan. “Satu-satunya hal yang kita inginkan adalah dibebaskan dari neraka ini.” Dan semua orang di dalam atau di dekat kamp merasakan hal sama.
Ada banyak juga perempuan di kamp yang tinggal bersama keluarga mereka, tetapi ini tidak serta merta membuat kehidupan mereka jauh lebih baik. Satu perempuan mengatakan pada saya bahwa suaminya menghilangkan rasa frustasi tinggal di Kamp Moria dengan memukulinya. Perempuan lain meminta bantuan untuk mendapatkan surat yang menyatakan suaminya menderita “penyakit gugup” sehingga mereka mungkin diizinkan meninggalkan pulau itu. Dan seorang wanita yang tiba di Lesbos dengan satu-satunya anak perempuannya memohon kepada saya, “Bisakah Anda mengajari saya semua yang Anda ketahui? Saya berjanji untuk mempelajarinya dengan baik dan bekerja untuk Anda.”
Hampir semua perempuan yang terjebak di pulau ini yang menceritakan kisah mereka dengan berlinang air mata. Mereka mulai berbicara, tetapi tak lama kemudian dagu mereka mulai bergetar dan mata mereka berkaca-kaca. Mereka semua berharap menemukan “malaikat penyelamat.” Seperti pengungsi lain yang terperangkap di Yunani, mereka mengeluh tentang para politisi. Mereka tidak mengerti mengapa mereka harus menderita kondisi ini selama berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun.
Pada tahun 2016, Uni Eropa, Yunani, dan Turki menandatangani perjanjian yang menetapkan bahwa pengungsi yang tiba di pulau-pulau negara Yunani harus tetap di sana sampai permohonan suaka mereka diproses. Jika permohonan mereka ditolak, mereka harus dikembalikan ke Turki dan, sebagai gantinya, Uni Eropa akan memberikan suaka kepada jumlah pengungsi yang sama yang diterima oleh Turki. Namun, Turki telah menolak rencana tersebut dalam praktiknya dan perjanjian ini belum dilaksanakan.
Di sisi lain, menurut polisi dan aktivis hak-hak pengungsi, jumlah pengungsi di kedua pulau ini dan di Athena, yang semuanya berusaha mencapai Eropa Barat, meningkat dari hari ke hari. Beberapa kehilangan nyawa di sepanjang perjalanan mereka, beberapa hanya kehilangan arah dan beberapa ditangkap dan harus menghabiskan beberapa bulan di penjara dan pusat penahanan di mana, kadang-kadang, kehidupan bahkan lebih buruk daripada di kamp.
Sekarang pemerintah Yunani yang baru telah berjanji untuk mempersingkat waktu yang diperlukan untuk memproses permohonan suaka, menutup Kamp Moria dan mengubahnya menjadi pusat penahanan. Aktivis hak asasi manusia, bagaimanapun, takut bahwa ini akan merugikan peluang pengungsi karena aplikasi suaka mereka mungkin tidak diproses dengan pelayanan yang memadai dan, sebagai hasilnya, mereka kemudian akan dipenjara di kamp-kamp tertutup.
Sementara itu, situasi semakin memburuk
Sementara itu, situasi di Camp Moria sekarang lebih buruk daripada beberapa bulan yang lalu. Setiap hari ada lebih banyak pengungsi, tetapi fasilitasnya tetap sama. Yunani sendiri harus berurusan dengan krisis ekonomi – ada banyak warga Yunani tunawisma di jalanan – tetapi, sejalan dengan perjanjian dengan Uni Eropa, Yunani sekarang harus melindungi Eropa dari apa yang disebut “invasi” pengungsi. Merupakan tugas yang tidak bisa dilakukan oleh wartawan, aktivis, dan pengacara Yunani.
Dalam teater kengerian ini, laporan berita dan rumor secara keseluruhan lebih menakutkan bagi wanita daripada pria. Tidak hanya mereka terus-menerus takut akan serangan seksual, mereka juga takut jika pemerintah Yunani mendengar protes mereka melalui media, mereka dapat dengan mudah dideportasi ke Turki, atau mereka akan dikirim kembali ke negara-negara tempat mereka berasal. Akibatnya, banyak dari mereka menghindari wartawan dan media dan percaya bahwa tidak ada yang dapat atau akan membantu mereka. Rasanya bagi mereka seolah-olah tembok dunia pengungsi mendorong mereka dari segala sisi, terutama di pulau-pulau Yunani.
Terlepas dari ketakutan dan tekanan ini, pada 30 Januari, ratusan pengungsi perempuan dari Kamp Moria pergi ke kota untuk memprotes kondisi di mana mereka tinggal. Mereka memprotes tidak adanya obat-obatan dan kebersihan dan meningkatnya kekerasan di kamp yang telah merampas kedamaian mereka. Mereka mengatakan bahwa kedamaian inilah yang membuat mereka mempertaruhkan nyawa, menyeberangi lautan, sering dengan perahu layar kecil atau perahu. Sekarang mereka terjebak di antara tenda, kontainer pengiriman, sampah, polusi, dan penelantaran. Pada hari protes, dan setiap hari, apa yang mereka minta? Keluar dari Moria./*Aida Ghajar, artikel diambil dari Iranwire