Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Jika Bukan Kriminalisasi Ulama, Lalu Apa?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Februari 2017 12:35 12:35 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Februari 2017 12:18
Bagikan
Bagikan

Oleh:  Henny Ummu Ghiyas Faris

 

ISU pendataan ulama pesantren oleh polisi di Jawa Timur belum lama ini rupanya membuat resah para kiai. Keresahan mereka beralasan karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebagaimana yang diungkapkan Mohamad Irfan Yusuf, salah satu pengasuh pondok pesantren di Dusun Tebu Ireng Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, bertanya-tanya kenapa polisi mendata para Kiai. Menurut dia, yang dilakukan polisi ini mengingatkan  situasi seperti pada zaman Partai Komunis Indonesia (PKI) puluhan tahun silam. Cara polisi meminta data menurutnya juga sangat tidak etis.

Saat itu, menurutnya, polisi tiba-tiba datang ke pesantren dan meninggalkan blangko atau angket agar diisi oleh Kiai tanpa memberikan penjelasan maksud dan tujuannya. Dalam situasi seperti sekarang cara polisi meminta data seperti ini tentu saja membuat para Kiai resah dan bertanya-tanya.(news.okezone.com, 3/2/2017).

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Imperialisme Modern dan Kriminalisasi Umat Islam

Walaupun dari pihak kepolisian setempat meminta maaf kepada para Kiai dan ulama atas kesalahpahaman mengenai pendataan terhadap para ulama di wilayah Kabupaten Jombang. Menurut Kapolres yang terjadi sebenarnya hanyalah pendataan terhadap potensi wilayah yang ada di masyarakat bukan khusus terhadap para Kiai.

Hal ini tentu saja membuat kita bertanya-tanya mengapa hal demikian dilakukan di tengah kondisi bangsa yang kondisinya seperti sekarang ini ?

Mencari Kesalahan

Menguatnya peran ulama kian menjadi sorotan pasca aksi 411 dan 212, hal ini sontak membuat “panik” beberapa kalangan tertentu. Mereka merasa terusik ketika tokoh-tokoh umat Islam bersatu dalam menguatkan keberislaman di negeri ini. Dan karena hal inilah muncul kriminalisasi ulama saat ini.

Lihatlah KH Habib Rizieq Shihab terus dan terus tanpa henti dicari-cari kesalahannya. Dari mulai diminta untuk memenuhi panggilan Polda Jabar atas kasus yang “diada-adakan”. Saat pemeriksaan, terjadi kasus penyerangan FPI yang mengawal kehadiran Habib Rizieq Shihab oleh GMBI yang diduga kuat dihadirkan oleh Kapolda Jabar.

Ahli Hukum MUI: ‘Kriminalisasi’ Karya Ilmiah Habib Rizieq Bentuk Penyalahgunaan Kekuasaan

Tidak hanya KH Habib Rizieq Shihab, KH Tengku Zulkarnaen, Wakil Sekjen MUI Pusat ketika di Sintang, Kalimantan Barat saat memenuhi undangan resmi Bupati Sintang, tiba-tiba dihadang oleh kelompok tertentu sambil mengacung-acungkan senjata tradisional di apron Bandara Sintang ketika hendak turun dari pesawat terbang.

Jika bukan kriminalisasi terhadap ulama apa yang pantas disebut ketika hal seperti itu terjadi?

Bagaimana bisa hal demikian terjadi jika tidak dibiarkan oleh aparat berwajib? Yang lebih mengherankan adalah kejadian kasus penyerangan FPI oleh GMBI di Bandung, bagaimana juga kekerasan itu bisa terjadi yang tak jauh dari Mapolda Jabar? Seharusnya korban dilindungi, justru malah dipersalahkan.

Sebaliknya, pihak yang melakukan kekerasan malah dilindungi dan dijenguk Polisi. Lebih ironisnya lagi melalui akun resmi Humas Polri disebarkan bahwa GMBI adalah korban dari anarkisme FPI. Padahal faktanya, FPI yang diserang GMBI.

Menilik dari hal di atas sungguh mengkhawatirkan, bagaimana bisa negeri ini memiliki aparat yang sedemikian rupa?

Jangan dikira kejadian ini akan berlalu begitu saja. Bisa jadi situasi ini akan menimbulkan konflik yang akan mengemuka di berbagai kalangan.

Kasus-kasus seperti ini juga semakin memperlihatkan kepada publik bahwa penguasa sedang membela kepentingan asing dan aseng pasca penistaan agama yang dilakukan si penista agama. Ada pihak-pihak tertentu yang merasa terusik dengan aksi super damai – yang diinginkan adalah terjadinya huru-hara pada aksi tersebut hingga mudah mengemukakan delik untuk memojokkan ummat Islam.

Umat Butuh Ulama

Bila kita mengkaji lebih dalam bahwa kemuliaan ulama adalah pewaris para nabi, hal itu tertuang dalam hadits :

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu berarti telah mengambil bagian yang banyak lagi sempurna.” (HR Abu Dawud).

Sebagaimana para pewaris nabi, tentunya mengikuti jejak Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam  memperbaiki umat sekaligus membersihkan umat dari berbagai kekufuran dan kemaksiatan. Para Ulama dengan ilmunya akan menjelaskan kesesatan/kerusakan berbagai pemikiran kufur seperti; sekularisme-kapitalisme, komunisme, pluralisme, dan lain-lain. Para ulama juga akan senantiasa berada di garda terdepan ketika Islam dihinakan, dinistakan, mereka akan memimpin umat berjuang menegakkan hal yang benar sesuai syara’.

Kriminalisasi Ulama Salaf

Islam adalah agama sempurna. Politik adalah bagian dari Islam. Islam tidak memisahkan antara kehidupan politik dan spiritual. Justru, ketika umat jatuh dalam kubangan sekularisme seperti saat ini, maka peran para ulama sangat dibutuhkan. Politik adalah aktivitas tertinggi dan mulia dalam kehidupan manusia. Karena itu peran ulama sepanjang masa kehidupan sangatlah penting. namun aktivitas politiknya sebagai ri’âyah su’ûn al-ummah (melayani urusan masyarakat). Ulama seharusnya menjalankan politik Islam, yaitu mengurusi urusan masyarakat dengan Islam. Tugas politik ulama adalah mencerdaskan rakyat dengan Islam. Dengan begitu rakyat tidak mudah tertipu oleh apapun. Dengan kiprah politik ulama, rakyat akan terbina dengan baik serta akan memiliki kesadaran politik Islam hingga mereka akan meraih kemuliaan di dunia dan akhirat.

Karena itu,  saat ini umat  membutuhkan ulama yang bisa membimbing mereka untuk kembali pada Islam secara kâffah, karena kewajian terbesar umat Islam saat ini adalah mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah masyarakat dengan menegakkan seluruh hukumNya. Dan umat juga membutuhkan ulama yang meneladani perjuangan Baginda Rasulullah saw. dalam mewujudkan masyarakat Islami.

Jadi jelaslah, jika umat saja butuh ulama untuk kebaikan negeri ini. Banyak saja alasan aparat terkait usaha memperkarakan tokoh-tokoh Islam. Dalihnya macam-macam, jika bukan kriminalisasi lalu namanya apa? Stop kriminalisasi dan kriminalisai ulama! Wallaahu a’lam bi ash-shawab.*

Penulis lepas, penulis buku antologi “ The True Hijab” dan “Puzzle Dakwah”

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:aksi bela IslamBachtiar NasirGerakan Nasional Pengawal Fatwa Majis Ulama IndonesiaGNPF-MUIHabib Rizieq ShihabImam Syafi`i disiksakriminalisasi ulamasyiahtuduhan makarulama salafulama salaf disiksa penguasa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Habib Rizieq Siap Penuhi Panggilan Polda Jabar, Asalkan…
Tulisan selanjutnya Habib Rizieq Sebut Ada Gerakan Siluman, Umat Islam Diminta tak Terprovokasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?