Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Politik Indonesia dan Sikap Pemaaf Umat Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Maret 2017 13:03 1:03 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Maret 2017 13:03
Bagikan
Presiden Soeharto dan Ibu Tien didampingi Jenderal Try Sutrisno saat haji tahun 1991
Bagikan

Oleh:  M. Kamil Pasha

 

PERJALANAN Islam di Indonesia selalu menarik dikaji dan dibahas, seolah tidak pernah ada habisnya. Islam pernah dibungkam zaman Orde Lama dan Orde Baru. Di era Orde Lama, Islam –terutama dalam politik, Islam disingkirkan– karena dianggap  penghalang nyata Bung Karno yang terobsesi kekuasaan (akhirnya menjadi Presiden seumur hidup) ditambah lagi adanya Partai Komunis Indonesia (PKI), salah satu pemain utama jargon Nasional Agama Komunis (NASAKOM), yang nyata menjadi musuh Islam, bahkan ikut membungkam organisasi pelajar dan mahasiswa Islam. Organisasi seperti HMI dan PII pernah jadi korban, ditekan habis, para aktivisnya tidak bisa dengan tenang menjalankan roda organisasi karena ancaman rezim dan organisasi underbouw PKI.

Ulama, para kiai dan aktivia Islam yang dianggap menentang jargon NASAKOM pun dipenjarakan tanpa pengadilan meskipun begitu setelah kejatuhan Orde Lama, Islam politik memaafkan kesalahan Orde Lama yang disimbolkan Buya Hamka mengimami shalat jenazah Bung Karno yang pernah memenjarakan dan berkalu zalim padanyaa.

Zaman Orde Baru, harapan bangkitnya Islam politik sempat muncul, namun akhirnya pupus setelah adanya penggabungan paksa, partai-partai Islam yang ada difusikan menjadi satu partai saja yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Orde baru dengan The Centre for Strategic and International Studies (CSIS) sebagai think tanknya, mulai membuka keran investasi asing dan mulai melakukan pembangunan ekonomi dalam skala yang tidak pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Baca:  CSIS, Soeharto dan Kelompok Islam

Gerakan-gerakan apapun yang “dianggap” menghambat pembangunan, termasuk Islam politik- pasti dilibas, yang paling terkenal adalah tragedi Tanjung Priok (ditengarai 400 umat Islam tewas dibantai termasuk tewasnya tokoh Islam setempat Ustadz Amir Biki). Sampai saat ini jejak mereka hilang tidak jelas, semua aparat serentak tutup mulut. Akibat musibah ini, pengajian-pengajian gerakan Islam pada jaman Orde Baru juga harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ceramah dan khotbah diawasi materinya.

Namun pada era akhir 80-an atau awal 90-an, setelah kejatuhan Jenderal LB Moerdani, Orde Baru lebih dekat dengan Islam. BJ. Habibie seorang intelektual Muslim dengan Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) menjadi pengganti think tank baru bagi Orde Baru. Presiden Soeharto menyetujui pendirian Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama (walaupun saat itu masih disebut bank bagi hasil)  disusul dengan berdirinya Asuransi Takaful sebagai asuransi syariah pertama. Masjid-masjid dibangun diseluruh penjuru tanah air, acara pengajian dan keagamaan marak diaiarkan di televisi, namun yang paling monumental adalah Pak Harto, Ibu Tien sekeluarga berangkat ke Kota Makkah naik haji. Nama Pak Harto ditambahkan dengan Muhammad menjadi Haji Muhammad Soeharto dan nama Ibu Tien ditambahkan dengan Siti menjadi Hajjah Siti Hartienah Soeharto.

Baca: CSIS, Soeharto dan Kelompok Islam

Kisah ini  menjadi tonggak perubahan, dari yang pada masa awal Orde Baru jauh dari Islam, menjadi Orde Baru yang dekat dengan Islam sampai dengan kejatuhannya.

Fenomena ini pernah diulas Harian Kompas 30 September 1992 dalam rubkri ‘pojok’ dengan  ungkapan “ijo loyo-loyo” plesetan “ijo royo-royo”.  Plesetan ini banyak membuat orang Muslim tersinggung.

Hari ini, umat Islam telah “dengan sengaja lupa” atau lebih tepatnya memaafkan Bung Karno dan Pak Harto atas kebijakan mereka di masa lalu yang pernah mendiskreditkan umat Islam dan sebaliknya mengingat jasa-jasa mereka.

Baca: Hitam Putih Presiden Soekarno

Bahkan “seolah” umat Islam mencari tumbal lain supaya tidak menyalahkan Bung Karno dan Pak Harto, antara lain ideologi komunis PKI yang menggerogoti rezim Orde Lama dan korupsi yang menghancurkan rezim Orde Baru, meskipun tidak 100% tepat jika dikatakan sebagai tumbal karena baik PKI dan korupsi, keduanya adalah benar fakta yang terjadi di Indonesia.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat sejarah para pendahulunya, “never leave history“, kata Bung Karno.

Mengambil ibrah dan hikmah dari perjalanan Orde Lama, Orde Baru, atau Orde Informasi, umat Islam di Indonesia terbukti sebagai umat yang pemaaf dan mudah melupakan kesalahan orang lain, serta cenderung mengingat jasa dan kebaikkan pihak lain atas dirinya.

Persoalannya bukan itu, yang perlu ditanyakan adalah apakah kekuasaan yang ada di negeri ini, baik yang nampak maupun yang di belakang layar, pada masa sekarang atau masa yang akan datang, mau mengakui kesalahan dan mendekat kepada umat yang pemaaf ini? Atau terpaksa menunggu dimaafkan ketika ulama sedang berdiri di hadapannya sebagai imam shalat jenazah. Wallahualam.*

Penulis adalah pengacara

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agamaICMIislamkomunisNasakomNasionalOrde BaruOrde Lamasoeharto dan Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Thomson Reuters Foundation Tutup Situs Berita Aswat Masriya
Tulisan selanjutnya Habib Rizieq Beri Tausiyah di Pulau Untung Jawa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Berita
31 Agustus 2026 20:47
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?