Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Value vs Values

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Juni 2017 17:17 5:17 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Juni 2017 17:17
Bagikan
Bagikan

 

Oleh: Muhaimin Iqbal

 

DI ANTARA sekian banyak kebijakan Presiden Trump yang menjengkelkan penduduknya sendiri maupun dunia, mungkin kebijakan dua hari lalu yang paling menjengkelkan dan paling luas dampaknya bagi kehidupan di planet ini. Betapa tidak, dibawah kepemimpinannya negeri itu mencabut diri dari The Paris Agreement atau Accord de Paris yang merupakan kesepakatan 191 negara untuk secara nyata berbuat dalam mengerem laju perubahan iklim. Apa penyebabnya? Trump memburu value dan mengorbankan values.

Value adalah nilai monetary atas sesuatu, dan inilah alasan Trump meninggalkan Accord de Paris tersebut. Konon menurut hitungan Trump – yang juga diragukan di negeri sendiri – bila mengikuti kesepakatan Paris tersebut negeri itu akan kehilangan 2.7 juta lapangan pekerjaan sampai tahun 2025, kehilangan GDP sampai US$ 3 trilyun, krisis energy akan melanda negeri itu saampai blackout, dan Amerika harus menyetor US$ 3 Milyar untuk Green Climate Fund.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Yang trump lupa adalah di atas value mestinya ada values – yaitu nilai-nilai kebajikan yang diyakini atau diperjuangkan bersama. Meskipun bisa jadi values ini hanya buah bibir, hanya sebatas agreement yang kemudian dilanggar rame-rame, tetapi setidaknya dunia sudah committed sejak tahun lalu untuk berbuat konkrit menekan efek perubahan iklim. Dan ini menjadi landasan untuk sekian banyak proyek besar di seluruh dunia.

Accord de Paris adalah values – nilai-nilai kebajikan global yang disepakati bersama oleh seluruh negara di dunia kecuali Nicaragua dan Suriah, maka dengan menarik dirinya Amerika dalam kesepakatan ini sejatinya mereka menempatkan diri sama dengan dua negara yang dimusuhinya.

Bukan hanya itu, keputusan Trump juga mengusik nurani para pemimpin dunia dan bahkan juga para pemimpin usaha dari negeri itu sendiri. Elon Musk langsung mundur dari keterlibatannya sebagai penasehat ekonomi Trump, Elon melalui produk mobil listriknya Tesla mengusung kebajikan universal clean energy dan zero emission – yang otomatis bertolak belakang dengan keputusan Trum yang masa bodoh dengan perubahan iklim.

Demikian pula Mark Zuckerberg yang langsung bereaksi keras karena Facebook berusaha membawa citra kebajikan universal dengan upayanya untuk membuat semua data centernya menggunakan energy baru dan terbarukan. Upaya ini menjadi sia-sia, ketika negerinya kini tidak lagi peduli dengan dampak penggunaan energi fosil terhadap pemanasan global.

Terlepas dari isu pemanasan global dan perubahan iklim sendiri masih banyak diperdebatkan, tetapi suatu kesepakatan bareng yang sudah dirintis sejak seperempat abad terakhir – diawali dengan Rio De Janeiro 1992 Earth Summit, kini tiba-tiba ditinggalkan oleh negeri yang seharusnya menjadi rujukan bagi negeri-negeri lainnya.

Baca: Bertani di Bumi yang Diberkahi

Tidak berhenti di sini saja, kesepakatn dunia lainnya seperti 17 goals dalam Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi ikut terancam karena 2 dari 17 target tersebut secara langsung terkait dengan energy dan iklim – yaitu Affordable and Clean Energy (goal no 7) dan Climate Action (goal no 13).

Bisa dibayangkan values atau nilai-nilai kebajikan universal yang telah diperjuangkan bersama oleh seluruh pemimpin-pemimpin dunia selama seperempat abad terakhir, tiba-tiba diruntuhkan begitu saja oleh Presiden kontroversial Amerika – maka dampaknya tentu sangat dasyat, dan kita masih terlalu dini untuk bisa memahami keseluruhan konsekwensinya.

Values yang berupa kebajikan yang bersifat universal adalah fitrah, ada di hati manusia – maka ketika kebajikan itu dilanggar – akan banyak hati nurani yang terusik. Di negeri kapitalis sekalipun seperti Amerika, banyak pemimpin usahanya yang masih mengusung kebajikan-kebajikan universal, atau values yang kemudian membentuk corporate culture.

Sebagai contoh di suatu kafetaria Google yang tamu-tamunya bebas makan minum di sana, ada kesepakatan sederhana yang tidak tertulis – yaitu yang makan memberesi sendiri sisa-sisa makanannya. Apa jadinya ketika ada yang melanggar? Meninggalkan sisa-sisa makanannya di meja makan begitu saja ? Temannya akan mengingatkan dengan kalimat yang sopan ‘be Googly, please !’.

Apa jadinya ketika di tengah usaha-usaha besar yang berusaha berbuat kebajikan, membangun kesuksesan dengan fondasi kebajikan – do well by doing good, tiba-tiba pemimpin negerinya memutuskan seolah tidak lagi perlu basa-basi kebajikan ini, yang penting hanya value yang bersifat monetary atau uang – dan lupakan segala kebajikan untuk alam seperti perubahan iklim dan segala konsekwensinya.

Yang bertentangan dengan fitrah akan kalah, yang semena-mena akan jatuh dan dilawan oleh rakyatnya sendiri yang masih punya hati nurani.

Kalau di negeri kita sendiri kita juga punya contoh tentang values ini. Keberadaan KPK meskipun lengkap dengan segala kekurang sempurnaannya, didukung oleh rakyat. Karena KPK merepresentasikan harapan baru bagi penumpasan korupsi, hati nurani rakyat sepakat dengan ini – bila ada yang korupsi dan terbukti harus dihukum.

Baca: 5 Langkah Meninggalkan Pekerjaan Ribawi

Maka tindakan untuk melemahkan, mengurangi wewenangnya atau bahkan niat untuk membubarkan KPK pasti ada reaksi keras dari sekelompok masyarakat. Mengapa? Karena penegakan keadilan adalah fitrah, upaya-upaya melawannya pasti dilawan oleh rakyat yang masih memiliki hati nurani.

Values atau nilai-nilai kebajikan yang bersifat universal inilah yang kini banyak diperjuangkan juga oleh korporasi-korporasi global, mengapa? Sederhana alasannya, kalau bisa mengusung kebajikan yang bersifat universal, maka mudah sekali korporasi tersebut meraih simpati target pasarnya.

Demikian pula para politikus, dia akan mudah memperoleh dukungan kontituennya bila bisa mengusung values yang diyakini bersama oleh masyarakat konstituennya. Begitu values ini ditinggalkan, maka diapun akan ditinggalkan konstituennya.

Berbeda dengan pendapat Trump yang meninggalkan values untuk mengejar value, korporasi-korporasi besar banyak yang justru menikmati value karena memperjuangkan values.

Salah satu pembaca situs ini ada seorang enginer santri yang sangat professional di bidangnya. Ketika sepanjang tahun lalu saya banyak mengulas tentang energy baru terbarukan dengan biomassa, dia terinspirasi untuk mengadopsinya di pabriknya yang sangat modern. Atasannya yang non muslim dengan serta merta menyetujui gagasannya untuk beralih ke energi biomassa karena sederhana saja, sang engineer bisa membuktikan bahwa ini jauh lebih ekonomis dan berdampak luas bagi masyarakat

Masyarakat bisa menyetor biomassa apa saja, tanpa harus dijadikan pellet – asal dipotong kecil-kecil sudah akan bisa langsung digunakan di pabrik tersebut. Saya bersyukur mendapatkan privilege untuk bisa mensuplai biomassa apa saja ke pabrik ini , ya karena antara lain inspirasi untuk beralih ke energi biomassa tersebut berasal dari tulisan-tulisan di situs ini.

Baca:  New Business Model, Bisnis yang Tidak Pernah Merugi?

Dari mana sesungguhnya inspirasi-inspirasi kebajikan universal itu berasal? Yang paling mudah dan dijamin kebenarannya adalah tentu dari petunjukNya. Maka di bulan Ramadhan seperti ini, bulan dimana Al-Qur’an banyak-banyak dibaca dan ditadaburi – mestinya menjadi bulan bagi lahirnya karya-karya besar umat ini.

Kita diajari untuk meninggikan values di atas value, tidak mengejar value lebih dari values – dalam kalimat Al-Qur’an

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَالَهُ فِي اْلأَخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ. وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
‘…Maka di antara manusia ada yang  berdoa : “ya Tuhan kami berilah kami dunia” dan tiadalah baginya bahagian akhirat’. Dan diantara merka ada yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS: al-Baqarah [2]:200-201).

Karena kita mengejar values yang jauh lebih tinggi, yaitu kebaikan di dunia dan di akhirat tersebut – perbutan baik kita tidak bergantung pada kesepakatan global para pemimpin dunia. Bahkan kalau saja seluruh pemimpin dunia tidak ada yang peduli lagi pada kelestarian alam dan keberlanjutan kehidupan di muka bumi ini sekalipun, kita tetap akan menanam pohon, karena ini tugas kita untuk menjaga keseimbangan di alam semesta – menjaga permukaan bumi agar tetap layak untuk ditinggali makhlukNya hingga akhir jaman. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kebajikankesuksesanvalue
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Presiden Erdogan Lakukan Serangkaian Pembicaraan Terkait Perkembangan Qatar
Tulisan selanjutnya Netanyahu: Pemboikotan terhadap Qatar Jadikan “Israel” Partner Bagi Arab

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi

Berita
12 Juli 2026 17:17
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?