Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

AM Fatwa: Jangan Jadikan Pancasila Alat Pemukul Kelompok Tertentu

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 Juni 2017 06:16 6:16 am
Ahmad
Dipublikasikan 9 Juni 2017 06:16
Bagikan
[Ilustrasi] Garuda Pancasila.
Bagikan

Hidayatullah.com– Anggota DPD RI, AM Fatwa menyeru semua pihak, utamanya pemerintah, agar lebih berkomitmen untuk tidak menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai komoditas atau alat pemukul, untuk mendiskreditkan satu kelompok tertentu dari warga negara.

“Pancasila dan UUD 1945 adalah milik kita bersama yang wajib kita laksanakan bersama pula,” ujarnya pada diskusi bertema “Islam dan Keindonesiaan: Reaktualisasi Amanat Konstitusi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” di Ruang GBHN Gedung Nusantara V, kompleks DPR, Jakarta, Kamis (08/06/2017).

Menurutnya, Pancasila sudah legitimas dan tidak boleh diganggu gugat lagi. Dalam hal ini, sambungnya, dua organisasi besar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama telah memberikan dasar pandangan penguatan.

Baca: AM Fatwa Seru Umat Beragama, Aktualisasikan Pancasila dengan Amal Nyata

Muhammadiyah, terang Fatwa, melalui Muktamar di Makassar tahun 2005 menegaskan Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah atau “perjanjian luhur yang sah”. Jauh sebelumnya pada 1983 dalam Munas ulama NU di Situbondo, Jawa Timur, NU menegaskan bahwa penerimaan dan pengamalan Pancasila diwujudkan untuk menjalankan syariat agama.

Kemudian, kata dia, tokoh Islam terkemuka yaitu Mohammad Natsir juga menegaskan hal serupa.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Perdana Menteri NKRI pertama tersebut, jelas Fatwa, dalam pidatonya pada tahun 1952 di Pakistan mengatakan, Pancasila adalah hasil musyawarah para pemimpin bangsa. Di awal kemerdekaan dengan tegas Indonesia menyatakan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa jadi tiang pertama dari Pancasila yang dianut sebagai dasar nurani, dasar akhlak, dan sosial oleh negara dan bangsa Indonesia.

“Pada kesempatan lain Natsir menyebut Pancasila sebagai ‘kalimatun sawa’ yang merupakan kutipan Surat Ali Imran ayat 64, yang maksudnya sebagai titik temu atau kalimat persamaan yang mampu menyatukan semua kelompok dan golongan,” ungkapnya.

Baca: Dinilai Berbahaya, Bila Pergantian Kekuasaan Lalu Buat Tafsir Tunggal Pancasila

Namun, lanjut Fatwa, dalam realitanya hari ini terdapat aneka pendapat tentang apa sebenarnya Pancasila. Termasuk, imbuhnya, gejala atau upaya menjadikan Pancasila bernilai sebaliknya dari nilai-nilai yang terdapat di dalamnya, yaitu sila ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.

Ia memaparkan, pemerintahan Orde Lama lebih menjadikan Pancasila sebagai alat pemukul lawan politik yang dianggap kontra revolusi. Sehingga tidak sedikit tokoh politik nasional yang dipenjara tanpa proses hukum.

Sementara di masa Orde Baru, Pancasila dianggap sakral. Sehingga 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan sekaligus menjadi alat pemukul lawan politik dengan tuduhan subversif.

“Pada era reformasi ini kita berharap dua pengalaman pada Orde Lama dan Orde Baru tidak terulang. Orde reformasi harus benar-benar menjadi orde tegaknya hukum dan keadilan, bukan orde kekuasaan,” tegasnya.

Baca: Zaman Soeharto, Jika Berbeda Pandangan dengan Presiden Disebut Anti Pancasilais

Fatwa berharap, wakil-wakil rakyat di DPR dan wakil daerah di DPD melalui MPR benar-benar jeli, kritis, dan waspada, agar iklim demokratis yang telah dinikmati selama 2 windu ini tidak mengalami kemunduran nilai ke arah suasana mencekam.

“Dan (tidak) saling mencurigai antar sesama anak bangsa, khususnya antara unsur-unsur masyarakat dan pemerintah,” pungkasnya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AM Fatwaanggota DPD RIera reformasiIslam dan keindonesiaanketuhanan yang maha esaMohammad NatsirMuhammadiyahnilai-nilai IslamNUOrde BaruOrde LamapancasilaPengamalan Pancasilapolitisi PANrezimsila Pancasilatoleransiumat beragamaUUD 1945
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kejaksaan Cabut Banding, Ahok Diminta Segera Dikembalikan ke LP Cipinang
Tulisan selanjutnya Polisi Turki: 1 Ton Heroin di Kapal Commander Tide Milik Taliban Afghanistan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?