Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisa Dunia Islam

Saudi dan Ikhwanul Muslimin: Dulu Berteman, Mengapa Dimusuhi?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Juli 2017 13:40 1:40 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Juli 2017 13:31
Bagikan
Raja Saudi Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud, (kanan) menerima Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, di Riyadh pada tahun 2009
Bagikan

PADA awal bulan ini, Arab Saudi, serta Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain, memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, menuduhnya mendukung “ekstrimisme” dan merusak keseimbangan wilayah.

Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan pada wartawan ketika mengunjungi Paris dua hari setelah itu, bahwa Qatar harus menghentikan dukungannya pada Ikhwanul Muslimin dan kelompok Palestina Hamas sebelum memperbaiki hubungan dengan negara Teluk Arab lainnya.

Tidak lama setelah itu, blok Saudi merilis sebuah daftar terduga “teroris” yang berhubungan dengan Qatar, termasuk ulama Mesir Yusuf al-Qaradhawi, anggota senior dari Ikhwanul Muslimin.

Tetapi Arab Saudi tidak selalu menganggap Ikhwanul Muslimin sebagai ancaman kawasan. Faktanya, hubungan antara keduanya naik-turun dipengaruhi keharmonisan dan ketegangan sejak pertemuan bersejarah antara Raja Abdulaziz Al Saud dan pendiri gerakan itu, Hassan al-Banna di tahun 1936.

Jaringan politik bebas yang diciptakan pada 1928 oleh seorang guru sekolah di kota pelabuhan Ismailia, Mesir, Ikhwanul Muslimin awalnya bertujuan untuk mempromosikan reformasi sosial menggunakan Islam pada intinya.

Baca Juga

Betulkah Gabung Board of Peace merupakan Tindakan Realistis?
Masjid Dikepung, Ulama Dipenjara: Jejak Panjang Diskriminasi di Tajikistan
Amerika Serikat dan Proyek Genosida di Gaza
Kebijakan Politik Iran dan Dilema Amerika
Muslim Tajikistan: Ditekan Penguasa, Diincar ISIS

Hingga tahun 1940-an, kelompok ini diperkirakan telah memiliki setengah juta anggota aktif di Mesir dan gagasannya telah mencapai Negara-negara Arab tetangga. Cabang lokal dibangun di seluruh negeri, masing-masing menjalankan sekolah, masjid dan klub olahraga.

Al-Banna melihat Ikhwan sebagai sebuah gerakan yang meliputi semua, dia menggambarkannya sebagai “Memiliki pesan Salafi, cara Sunni, kebenaran Sufi, sebuah organisasi politik, kelompok atletik, persatuan pendidikan-budaya, perusahaan ekonomi dan gagasan sosial”.

Baca: Ikhwanul Muslimin Tolak Tuduhan Arab Saudi

Gerakan itu dengan cepat menjadi sebuah kekuatan politik rakyat yang menantang trio kekuatan yang memerintah Mesir hingga Revolusi 1952: kerajaan, kolonialisme Inggris dan Partai al-Wafd.

Ketika itu, Ikhwan mengembangkan sayap bersenjata, dan dituduh bertanggungjawab terhadap pembunuhan sejumlah pejabat negara penting, termasuk Perdana Menteri Mahmour Nuqrashi pada 1948.

Tidak lama setelah itu, Hassan al-Banna ditembak oleh agen dinas rahasia Mesir.

Pada 1952, kelompok Ikhwan mendukung kudeta militer oleh Gerakan Opsir Merdeka pimpinan Gamal Abdel Nasser. Tapi hubungan dengan militer memburuk akibat kecurigaan Gamal Abdel Nasser bahwa Ikhwan berada di balik peristiwa percobaan pembunuhan dirinya. Maka ribuan anggota Ikhwanul Muslimin ditangkapi serta dihukum mati rezim Nasser.

Dampaknya, gerakan terpaksa bergerak di bawah tanah, dikejar-kejar dan disiksa. Beberapa anggota Ikhwan akhirnya mendorong penggunaan senjata untuk melawan sikap rezim.

Baca: Mesir dan Ikhwanul Muslimin Perbaiki Hubungan Disponsori Saudi

Selain itu, Gerakan Opsir Merdeka , yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser, tidak setuju dengan pandangan Ikhwanul Muslimin yang ingin menerapkan hukum Islam dan dia lebih menyukai contoh sosialis sekular.

Setelah gagalnya upaya pembunuhan Nasser di Alexandria pada 1954, yang lagi-lagi dituduhkan kepada oleh Ikhwanul Muslimin, ribuan anggotanya dieksekusi, ditahan, disiksa dan diasingkan.

Nasser kemudian menjadi presiden pada 1956, dan dengan itu, mendorong gerakan itu menjadi gerakan underground yang melawan pemerintahan.

Namun, tindakan keras pemerintah memicu sebuah pergeseran penting di dalam ideologi Ikhwan, terbukti dalam tulisan-tulisan Sayyid Qutb, seorang ideolog Ikhwan.

Tulisan-tulisan Sayyid Qutb di penjara menganjurkan perjuangan bersenjata melawan Barat dan rezim korup Arab untuk menyebarkan nilai-nilai Islam.

Ribuan anggota gerakan itu –yang khawatir menjadi korban balas dendam– mencari suaka di Arab Saudi dan segera mengakar di masyarakat. Muncul menjadi negara modern yang baru, kerajaan menemukan bahwa tamu-tamunya merupakan para pendidik, birokrat dan insinyur berkualitas yang dibutuhkan kerajaan itu.

Raja Faisal bin Abdulaziz, yang memimpin dari 1964 hingga 1975, juga menemukan di dalam mereka suara yang dia butuhkan untuk mengimbangi penyebaran Pan-Arabisme dan komunisme di wilayah itu yang mengancam posisi Arab Saudi sebagai pusatnya.

Pendek kata, Arab Saudi dan Ikhwanul Muslimin menemukan Gamal Nasser sebagai musuh bersama.

Hal itu berlangsung hingga masa pemerintahan Anwar Sadar, penerus Nasser, di mana Ikhwanul Muslimin diperkenalkan kembali ke arena politik, meskipun bukan sebagai sebuah partai resmi.* >>> (BERSAMBUNG)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:arab saudiarab springbahrainekstrimismeGamal Abdel NasserHassan al-BannaikhwanIkhwanul MusliminMesirMusim Semi ArabNegara telukPartai al-WafdQatarRaja Abdulaziz Al SaudSyeikh Yusuf al QaradhawiterorismeUni Emirat Arab
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Persatuan Ulama Muslim Dunia Umumkan Wafatnya Ulama Pakar Qiro’ah
Tulisan selanjutnya Mesir Resmikan Pangkalan Militer, Diperkirakan Terbesar di Timur Tengah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Analisa Dunia Islam

Al-Sisi dan Lelucon Kontra-Terorisme di Mesir

22 Mei 2022 10:55
Analisa Dunia Islam

Yahya Sinwar

4 Juni 2021 09:05
Analisa Dunia Islam

Pencaplokan De facto Tepi Barat dan Definisi Nyeleneh ‘Israel’

10 Juli 2020 16:28
Analisa Dunia Islam

Turki, Libya dan Pertaruhan Islam Politik di Timur Tengah

25 Juni 2020 16:43
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?