Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Tauladan Kepemimpinan Mohammad Natsir

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 November 2017 05:33 5:33 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 November 2017 05:33
Bagikan
Negarawan seperti Pak Natsir perlu dijadikan contoh.
Bagikan

Oleh:  Khoirun Nisak

 

KETELADANAN kepemimpinan hari ini terasa kering dan kehilangan makna. Hampir di setiap sendi kehidupan, kita tidak lagi mampu menemukan sosok pemimpin yang pantas dicontoh dan dikagumi.

Bila berbicara tentang sosok pemimpin masa kini, maka yang akan muncul di benak adalah mereka yang berada di pucuk tertinggi lembaga pemerintahan namun terjerat kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat, dan hal-hal sejenis yang seharusnya tidak melekat kepada sosok seorang pemimpin.

Maka sangat tepat bila di tengah kegersangan keteladanan ini, kita kembali menengok ke belakang, mengambil saripati kepemimpinan dan kearifan dari para founding fathers negeri ini. Pemimpin masa depan harus tahu bagaimana penopang Republik ini memimpin dan melayani rakyat dengan sepenuh cinta hingga namanya tetap dikenang dengan penuh kebanggaan hingga masa kini. Salah satu pemimpin dan negarawan besar yang menjadi ujung tombak negeri ini adalah Mohammad Natsir.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Artawijaya dalam bukunya “Belajar dari Partai Masjumi” menuliskan sepenggal kisah keteladanan Natsir, tentang kesederhanaan. Suatu hari di tahun 1948, George Mc. T. Kahin, professor dari Cornell University bertemu dengan Haji Agus Salim. Kahin yang ingin mengetahui lebih dekat denyut pergerakan kemerdekaan Indonesia, disarankan untuk bertemu dengan Mohammad Natsir yang saat itu menjabat sebagai Menteri Penerangan RI.

Haji Agus Salim menjelaskan singkat sosok Natsir kepada Kahin, “Dia tidak bakal berpakaian seperti seorang menteri. Namun demikian dia adalah seorang yang amat cakap dan penuh kejujuran. Jadi kalau Anda hendak memahami apa yang sedang terjadi dalam Republik, Anda seharusnya berbicara dengannya.”

Baca: “Jihad Politik“ Mohammad Natsir

Keesokan harinya, Kahin datang kantor Kementerian Penerangan untuk bertemu Natsir. “Saya menemukan seorang yang sederhana dan rendah hati, yang pakaiannya sungguh tidak memamerkan sebagai seorang menteri dari suatu pemerintahan. Malah ia memakai kemeja yang bertambal-tambal yang belum pernah saya lihat pada pegawai manapun dalam suatu pemerintahan; di mana kesederhanaan berpakaian berlaku sebagai suatu norma.” Kenang Kahin.

Kesederhanaan yang dilakukan oleh Natsir bukanlah pencitraan semata. Karena setelah ia tidak lagi duduk sebagai pejabat eksekutif di pemerintahan, gaya hidupnya tidak berubah. Ia tetaplah seorang Natsir, sang negarawan besar yang hidup penuh kesederhanaan. Sangat jauh bila dibandingkan dengan para pemimpin kita hari ini.

Mereka yang selalu menuntut mendapatkan fasilitas kelas satu, tetapi tidak pernah tuntas dalam bekerja mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu menguntungkan seperti ini, seharusnya pemimpin terlebih dahulu memberikan contoh bagaimana hidup dengan sederhana. Hidup sederhana tidak akan pernah menjatuhkan wibawa seorang pemimpin, justru pemimpin yang bermegah-megahan di tengah kesulitan hidup rakyatnya merupakan contoh yang tidak baik.

Selanjutnya,bagi Natsir pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang memahami, mengakui, dan juga menjalankan sepenuh hati kepemimpinannya sebagai amanah dari Allah yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Pemimpin yang ideal bukan sekadar bertanggungjawab terhadap rakyatnya dengan melaksanakan program yang mensejahterakan mereka, bukan pula sekadar mempertanggungjawabkan masa kepemimpinannya kepada dewan yang telah melantiknya dengan berusaha mengikuti peraturan yang telah ditentukan. Namun, pertanggungjawaban tertinggi seorang pemimpin adalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah menitipkan kepemimpinan kepadanya sebagai tugas ilahiyah. Dengan demikian, maka seorang pemimpin akan merasa selalu diawasi oleh Allah sehingga tidak akan pernah sengaja melakukan penyalahgunaan dan berkhianat di dalam kepemimpinannya.

Baca: Perjuangan Tokoh Masyumi Natsir Hadirkan NKRI

Poin ini menjadi sangat penting dan krusial dalam diskursus kepemimpinan. Jika para pemimpin sadar bahwa segala kepemimpinannya selalu diawasi dan kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat, kemudian nilai itu terinternalisasi dengan baik dalam dirinya, maka sedikit kemungkinan terjadinya pengkhianatan dalam proses memimpin. Namun sayang, saat ini proses sekularisasi yang awalnya muncul di Barat kemudian diekspor ke negara-negara dunia ketiga menjadi worldview (pandangan hidup) yang di-amin-i oleh para pemimpin kita. Politik harus dilepaskan dari agama. Agama biarlah letaknya di dalam masjid, bukan di dalam Istana Negara, ruang rapat kementerian, dan ruang rapat anggota dewan. Sehingga ketika para pemimpin itu tengah merumuskan kebijakan besar bagi rakyat, mereka tidak melibatkan Allah. Sehingga santai saja kalau pada akhirnya kebijakan-kebijakan tersebut malah membuat rakyat semakin menderita.

Maka dengan segala pengorbanan dan ketulusannya dalam memimpin, sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa Natsir adalah seorang negarawan besar yang dihormati kawan dan disegani lawan. Bahkan seorang Aidit dari PKI yang terkenal sangat keras mendebat Natsir dalam forum-forum Konstituante untuk merumuskan dasar negara Indonesia, bisa menjadikan Natsir teman ngopi dan diskusi di luar sidang Konstituante. Kebesaran jiwa Natsir yang menjadikan lawan-lawan politiknya tetap menaruh rasa hormat kepadanya.

Selain itu, Natsir juga berpendapat bahwa pengorbanan seorang pemimpin haruslah tidak mengenal batas. Dalam setiap bentuk perjuangan pemimpin harus mengorbankan segala apa yang dimiliki bahkan sampai nyawa sekalipun. Dalam berkorban, pemimpin tidak boleh setengah-setengah. Pengorbanan yang tidak dilakukan dengan sepenuh hati hanya akan melemahkan posisinya sebagai pemimpin, juga melemahkan semangat umat yang dipimpin.

Demikianlah, yang anak muda butuhkan saat ini adalah sedikit menengok ke belakang, untuk mengambil sebanyak-banyaknya pelajaran untuk dijadikan bekal memimpin kelak. Menuju Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur.* 

Sedang menempuh magister sains ekonomi Islam di Universitas Airlangga

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:DN Aiditfounding fathersIslam IndonesiakepemimpinanKonstituantemasyumiMohammad NatsirNatsirnegarawannegarawan besarPartai MasjumipemimpinPKI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mantan Pelatih Militer AS Dijatuhi Hukuman 10 tahun Penjara karena Siksa 12 Tentara Muslim
Tulisan selanjutnya Dinilai Efek Penolakan, Massa Berduyun-duyun ke Tabligh Akbar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?