Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Setelah 40 Tahun, Soal Adab Diingatkan Lagi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 November 2017 10:09 10:09 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 November 2017 09:43
Bagikan
smn al attas
Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

 

Empat puluh tahun lalu, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyampaikan satu gagasan penting bagi dunia Islam. Bahwa, problem utama umat Islam saat ini adalah ‘hilang adab’ (loss of adab). Gagasan itu disampaikan al-Attas di hadapan tiga ratus tiga puluh (330) ilmuwan Muslim yang hadir pada Konferensi Internasional Pendidikan Islam pertama tahun 1977 di Mekkah, Saudi Arabia.

Kini, pada 13 November 2017, gagasan al-Attas itu digaungkan lagi oleh Dr. Muhammad Ardiansyah, dalam bentuk disertasi doktor bidang Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Disertasi yang berjudul “Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi” ini mendapat pujian dari Prof. Ahmad Tafsir, penguji, dan memberikan predikat cum laude kepada penulisnya.

Melalui disertasinya, Ardiansyah membuktikan, bahwa konsep adab yang dirumuskan oleh Prof. al-Attas bersifat unik, penting, mendasar, dan aplikatif. Al-Attas bukan saja berhasil membuat rumusan konsep adab yang komprehensif, tetapi al-Attas juga telah membuktikan bahwa konsepnya bisa diterapkan di dunia pendidikan modern, khususnya di Perguruan Tinggi.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Menurut Ardiansyah, konsep adab sendiri  bukanlah hal baru dalam ajaran Islam. Para ulama Islam telah menekankan penting dan strategisnya konsep ini. Itu bisa dilihat dari pernyataan para ulama seperti Umar ibn al-Khattab r.a. yang menyatakan taadabû tsumma ta‘allamû (beradablah kalian, kemudian pelajari ilmu). (Lihat, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, al-Ghunyah li Thâlibî Tharîq al-Haq, (Beirut:al-Maktabat al-Sya’biyah, tanpa tahun), hlm. 54).

Baca: Pandangan Hidup Menurut Prof Naquib Al-Attas (1)

Ulama besar, Ibn al-Mubarak menyatakan, “Kami lebih membutuhkan sedikit adab daripada ilmu yang banyak. (Lihat, Abu Nashr al-Sarraj, al-Luma’ fî Târikh al-Tashawwuf al-Islâmi, hlm 137. Lihat juga al-Imam Abi al-Qasim al-Qusyairi, al-Risâlat al-Qusyairiyyah, hlm. 317). Ia juga menyatakan “Jika aku diceritakan tentang seorang yang memiliki ilmu generasi terdahulu dan yang akan datang, aku tidak menyesal jika tidak sempat berjumpa dengannya. Namun jika aku mendengar ada seorang yang memiliki adab kepribadian yang baik, aku sangat berharap bisa berjumpa dengannya dan sangat menyesal jika tidak sempat berjumpa dengannya.” ( Al-Jilani, al-Ghunyah..).

Salah satu murid Imam Malik, Abdurrahman ibn al-Qasim, menyatakan, “Aku berkhidmat kepada Imam Malik selama dua puluh tahun, delapan belas tahun dihabiskan untuk mempelajari adab, dan hanya dua tahun mempelajari ilmu. Alangkah sayangnya, seandainya semua waktu itu dihabiskan untuk mempelajari adab. Abdul Wahhab al-Sya’rani, Tanbîh al-Mughtarrîn fî al-Qarn al- ‘Asyir ‘alâ mâ Khâlafû fîhî salafahum al-Thâhir, (Jakarta:Dar al-Kutub al-Islamiyyah,2012).

Sedangkan Imam Syafi’i pernah ditanya “Bagaimana keinginanmu terhadap adab?” ia menjawab, “Ketika aku mendengar satu hal tentang adab maka seluruh anggota tubuhku merasakan nikmat karenanya.” Ia ditanya lagi “Bagaimana engkau mencari adab?.” Ia menjawab “Seperti seorang wanita yang kehilangan anaknya dan ia tidak memiliki apapun selain anak itu.” (Badr al-Din Ibn Jama’ah, Tadzkirat al-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim).

Perhatian para ulama tentang adab juga bisa dilihat dari banyaknya karya yang membahas masalah adab, seperti Al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari, Adab al-Dunya wa al-Din karya Imam al-Mawardi, Al-Adab fi al-Din karya Imam al-Ghazali, Al-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an karya Imam al-Nawawi, Adab al-Insan karya Sayyid Utsman ibn Yahya, dan Adab al-’Alim wa al-Muta’allim karya K.H Hasyim Asy’ari.

Konsep adab ini sebenarnya bukan konsep baru. Sejak dulu para ulama sudah membahas dan mengaplikasikannya. Beberapa ulama telah menyampaikan makna adab. Abu al-Qasim al-Qusyairy (w 465 H) menyatakan dalam al-Risalat al-Qusyairiyah, bahwa esensi adab adalah gabungan semua sikap yang baik (ijtimâ’ jamî’ khisâl al-khair).  Oleh karena itu orang yang beradab adalah orang yang terhimpun sikap yang baik di dalam dirinya.

Hujjatul Islâm al-Imam al-Ghazâli (450-505 H) juga memberikan makna adab. Menurutnya, adab adalah pendidikan diri lahir dan batin (wa al-adab ta’dîb al-zâhir wa al-bâthin) yang mengandung empat perkara: perkataan, perbuatan, keyakinan dan niat seseorang. Hujjat al-Islâm Abû Hâmid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazâli, Raudhat al-Thâlibîn wa ‘Umdat al-Sâlikîn, hlm. 10, dalam Majmû‘ah Rasâ’il al-Imâm al-Ghazâli, (Beirut:Dar al-Kutub al-‘ilmiyyah, 2011)

 Baca: Loss of Adab dan Kepercayaan Diri Muslim

Selanjutnya  Ibn al-Qayyim al-Jauziyah (691-751) menyatakan bahwa substansi adab adalah aplikasi atau pengamalan akhlak yang baik (isti’mâl al-khuluq al-jamîl). Karena itu, adab merupakan upaya aktualisasi kesempurnaan karakter dari potensi menuju aplikasi (istikhrâju mâ fî al-thabî’ah min al-kamâl min al-quwwah ilâ al-fi‘l). (Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, Madârij al-Sâlikîn baina Manâzil Iyyâka Na’budu wa Iyyâka Nasta’în, ed. ’Imâd ’Âmir, (Kairo: Dâr al-Hadîts. 2002) juz. 2).

Berbeda dengan ketiga ulama sebelumnya, al-Syarîf ‘Alî ibn Muhammad al-Jurjânî (740-816 H) memposisikan adab sebagai pengetahuan. Dia mendefinisikan adab dengan pengetahuan yang menjaga pemiliknya dari berbagai kesalahan (ma’rifatu mâ yuhtarazu bihî ‘an jamî‘i anwâ‘ al-khata’). (Al-Syarîf ‘Alî ibn Muhammad al-Jurjâni, al-Ta’rifât, (Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, 2012).

Di era modern ini, dalam bukunya, Al-Attas, The Concept of Education in Islam, Prof. Naquib al-Attas memberi makna baru terhadap istilah adab dengan definisi sebagai berikut: “Adab is recognition, and acknowledgement of the reality that knowledge and being are ordered hierarchically according to their various grades and degrees of rank, and of one’s proper place in relation to that reality and to one’s physical, intellectual, and spiritual capacities and potential.

Pada kesempatan lain al-Attas mengaitkan adab dengan hikmah. Al-Attas kemudian memaknai adab sebagai tindakan yang benar yang bersemi dari disiplin diri yang dibangun di atas ilmu dan bersumberkan hikmah (right action that springs from self-discipline founded upon knowledge whose source is wisdom).

Rumusan adab al-Attas itu berbeda dengan definisi para ulama sebelumnya, termasuk dengan Imam al-Ghazali yang banyak mempengaruhi pemikirannya. Namun secara substansi, definisi al-Attas sama dengan penjabaran adab yang tertulis di karya-karya para ulama sebelumnya. Bacaannya yang sangat luas terhadap karya-karya klasik para ulama memungkinkan al-Attas untuk merangkum dan merenungkan secara mendalam terhadap hakikat makna adab.

Selain menggagas dan merumuskan konsep adab dalam konteks keilmuan modern, al-Attas juga mengaplikasikan konsep adab ini dalam institusi pendidikan yang didirikannya, yaitu ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) di Kuala Lumpur. Sepanjang keberadaan ISTAC (1987-2002), konsep adab diaplikasikan dalam berbagai aspek pendidikan: tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, perekrutan guru, metode pendidikan, evaluasi pendidikan dan sarana pendidikan yang berbasis adab. Institusi ini terbukti melahirkan ilmuwan-ilmuwan Muslim yang unggul dalam pemikiran Islam, yang kini tersebar di berbagai dunia Islam.

Karena itu, menurut Ardiansyah, konsep adab al-Attas ini sangat penting dipahami dengan baik dan diaplikasikan dalam pendidikan, dimulai dari Perguruan Tinggi sampai pendidikan dasar. Secara khusus, Ardiansyah menawarkan enam langkah aplikasi konsep adab al-Attas di Perguruan Tinggi, sebagai berikut:

Pertama, mensosialisaikan tujuan pendidikan sebagai proses menanamkan adab yang diawali dengan tazkiyatun nafs. Kedua, menyusun kurikulum pendidikan secara hierarki dengan klasifikasi ilmu-ilmu fardhu ‘ain dan ilmu-ilmu fardhu kifayah. Ketiga, menyiapkan program dan metode pendidikan berdasarkan prinsip al-taadub tsumma al-ta’allum melalui kajian adab, penguatan keimanan, pembiasaan, keteladanan dan kedisiplinan. Keempat, mengoptimalkan peran dosen sebagai muaddib yang peduli dan menjadi teladan. Kelima, merumuskan evaluasi pendidikan berdasarkan adab dan ilmu. Dan keenam, menyiapkan sarana pendukung yang berkualitas.*>> (Bersambung)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:adabhilang adabimam syafi'iISTACkonsep adabloss of adabpendidikan islamPerguruan TinggiSyed Muhammad Naquib al-Attasulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Penghapusan Kekerasan Seksual: Sebuah Kritik
Tulisan selanjutnya Tentara Amerika Serikat di Jepang Dilarang Mengkonsumsi Minol

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Palestina Terkini

Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis

Palestina Terkini
13 Juli 2026 05:55
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?