Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Keimanan di Tengah Standar Ganda “Terorisme”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Januari 2018 06:52 6:52 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Januari 2018 06:52
Bagikan
Bagikan

AMERIKA Serikat, yang konon merupakan salah satu negara terdepan dalam demokrasi dan penjunjung tinggi HAM (Hak Asasi Manusia), pada praktiknya masih jauh dari apa yang digembor-gemborkan selama ini.

Dalam memaknai istilah terorisme misalnya, mereka menggunakan standar ganda. Jika yang melakukan tindakan kekerasan adalah orang Islam,  dicap sebagai  teroris. Sedangkan ketika yang berbuat kejahatan adalah di luar Islam, maka mereka cuwek, tak bergeming.

Tidak mengherankan ketika terjadi penembakan massal di USA: 13 korban di Colombine (1999), 13 di Fort Hood (2009), 14 di Edmond (1986), 14 di San Bernadino (2015), 21 di San Ysirdo, 27 di Sandy Hook (2012), 32 di Virgiana Tech (2007), 50 di Orlando (2016) dan 50 lebih tewas di Las Vegas (2017), tidak dianggap sebagai tindak terorisme karena bukan muslim yang melakukannya. Tapi bandingkan ketika Israel yang melakukan tindakan terorisme, tiba-tiba Amerika seperti kehilangan taji.

Dalam buku “Napak Tilas Reformasi Politik Indonesia: Talkshow Denny J.A. dalam Dialog Aktual Radio Delta F.M.” (2006: 334) ada obrolan menarik antara Denny J.A. (Konsultan Politik dan Media Sosial) dengan Bantarto Bandoro (Pakar Ilmu Hubungan Internasional) mengenai standar ganda ini.

Kata Denny, akan ada blunder kebijakan AS terkait terorisme dan standar ganda dalam penilaiannya terutama dalam kasus Palestina-Israel. Bantarto pun menanggapi bahwa sudah menjadi rahasia umum jika AS melakukan politik standar ganda. Banyak negara yang mengecamnya. Isu terorisme hanya ditujukan kepada kelompok Islam radikal, tapi tidak menerapkan penilaian yang sama terhadap Israel.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

“Jika standar ganda ini diketahui efeknya buruk, tidak saja popularitas AS menurun tetapi juga warganya di seluruh dunia tidak aman, mengapa AS masih mempertahankannya?” tanya Denny melanjutkan dialog. “Ada alasan AS mempertahankan standar ganda itu. Sejauh memberikan keuntungan jangka panjang atau jangka pendek. AS akan bertahan dengan kebijakan seperti itu,” jawab Bantarto.

Baca: Standar Ganda Barat dalam Penanganan Terorisme

Dari pemaparan dialog singkat ini, di balik penerapan politik standar ganda atas istilah terorisme yang diterapkan AS, meski pada faktanya merugikan popularitas dan warganya, tetap diambil karena ada kepentingan yang dituju. Kepentingan pragmatis jangka pendek dan jangka panjanglah yang menjadi alasannya. Selama itu menguntungkan, maka cara ini tetap diterapkan.

Apa yang dilakukan AS ini mengingatkan penulis pada karakteristik orang munafik dalam Surah Al-Baqarah [2] ayat 11, 12 dan 14. Di publik mereka mengatakan bahwa kami adalah orang-orang yang berbuat perbaikan, padahal apa yang dilakukan adalah kerusakan. Lebih dari itu, jika bertemu orang beriman, mereka menunjukkan simpati, tapi jika sudah bertemu dengan kroninya, tiba-tiba tersingkap wajah aslinya, yang mereka inginkan adalah kerusakan dan keuntungan duniawi semata.

Untuk menghadapi politik standar ganda ini atau pun yang lainnya, ada solusi dari al-Qur`an bagi orang-orang beriman dalam Surah Al-Hasyr [59]: ayat 1 sampai 17. Dengan mentadabburi ayat-ayat ini, ditemukan beberapa solusi:

Pertama, memperbaiki kembali kualitas iman. Mungkin dalam pandangan manusiawi umat Islam tidak akan mampu mengalahkan mereka, tapi Allah mengingatkan semua itu kecil di mata Allah jika benar-benar yakin kepada Allah.

Kedua, berpegang teguh kepada dua sumber Islam: Al-Qur`an dan Hadits. Bukan sekadar jargon, tapi diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, menggiatkan kembali spirit jihad. Dalam sejarah terbukti, nyali mereka ciut jika spirit jihad umat Islam kuat. Keempat, mengokohkan dan menggalang kembali persatuan umat dan membersihkan diri dari penyakit dengki. Sebagaimana yang terjadi antara kaum Muhajirin dan Anshar.

Kelima, waspada dan mengkaji sejarah mereka secara mendalam untuk diambil pelajaran. Mengapa mesti minder menghadapi mereka? Al-Qur`an secara jelas memberi tahu karakter buruk mereka, di antaranya: pengecut (hanya berani berperang dalam benteng atau kalau dalam bahasa sekarang mungki tank dan senjata canggih lainnya), kondisi internal mereka sebenarnya terpecah belah meski secara lahiriah tampak bersatu padu, penakut dan lain sebagainya.

Baca: Terhadap Gangguan Orang Kafir, Bersabarlah

Standar ganda yang digunakan untuk memenuhi kepentingan duniawi mereka tidak akan berlangsung lama jika beberapa hal tadi dijalankan oleh umat Islam. Pada ayat 16 dan 17, ada analogi menarik terhadap orang yang melakukan standar ganda sebagaimana orang-orang munafik: bagaikan setan yang menyuruh manusia ingkar (kafir) saat di dunia, namun setelah di akhirat, setan berlepas diri darinya, karena pada dasarnya itu hanya tipuan, dan setan sendiri sebenarnya takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاء الظَّالِمِينَ

“(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”.

Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” (QS: al Hasyr : 16-17)

Lebih dari itu, yang tak kalah penting, orang yang melakukan tindakan sebagaimana analogi al-Qur`an pada Surah Al-Hasyr ayat 16, maka jawabannya jelas, pada ayat 17 disebutkan bahwa mereka akan rugi sebagai balasan atas kezaliman mereka. Artinya, yang akan berjaya, beruntung atau mendapat ‘happy ending’ adalah orang-orang beriman dan bertakwa.

Masalahnya kemudian, kita yakin apa tidak dengan hal itu? Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AmerikabaratDajjalgazwul fikrHAMisraelMunafikperang pemikiranstandar gandaterorismeumat IslamZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mengarungi Sungai Mahakam
Tulisan selanjutnya Mahfud: Polisi Seharusnya Mudah Mengusut Kasus Penyerangan Novel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Berita
28 Mei 2026 19:41
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?