Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Kaum Mu’tazilah ‘Melihat’ dengan Akal, Orang Liberal menggunanakan Nafsu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Januari 2018 04:01 4:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Januari 2018 18:48
Bagikan
Kajian rutin “Malam Rabu oleh Dr Adian Husaini di Kantor Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS)
Bagikan

Hidayatullah.com—Aliran Mu’tazilah sempat eksis dan pernah menjadi ideologi di era  kekuasaan Daulah Abbasiyah. Karena itu, perlu membedah pemikirannya agar bisa bisa diketahui dan dibandingkan dengan pemikiran Islam liberal. Apakah mereka itu sama identik atau sekadar diakui oleh kaum ‘Islam’ liberal.

Pernyataan ini disampaikan Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Dr. Henri Shalahuddin MIRKH dalam acara ‘Saturday  Forum’ di Kalibata Jakarta, Sabtu (27/01/2018) yang mengupas tema  “Nekropsi Kalam Mu’tazilah dan Teologi Kaum Liberal: Kajian Perbandingan”.

Saat memulai tema ini, alumni  Kulliyat al Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor ini membeberkan mengenai kalam Mu’tazilah dari sejarah hingga pemikiran-pemikiran pokoknya.

Termasuk rukun-rukun Kalam Mu’tazilah berupa: Tauhid, al-‘Adl, al-Wa’du wal-Wa’iid, al-Manzilah baina al-Manzilataini, dan al-Amru bil-Ma’ruuf wal-nahyu ‘anil munkar,  berikut problem-problem teologi yang terkandung di dalamnya.

Termasuk mengurai permasalah seperti khalqu al-Qur`an (kemakhlukan al-Qur`an), kemungkinan melihat Allah di akhirat, kesatuan dzat dan sifat Allah, penafian penisbatan keburukan kepada-Nya, kelembutan Allah, baik-buruk secara akal, syafaat, pengkafiran, dan kewajiban pengutusan nabi.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Pria kelahiran Bojonegoro Jawa Timur 5 September 1975 ini menyebutkan ada tiga poin pokok pemikiran Mu’tazilah: Pertama, menjadikan akal sebagai hakim tunggal. Kedua, tunduknya wahyu pada hukum akal. Ketiga, menganalogikan yang ghaib dengan susuatu yang empiris.

Baca: Harun Nasution, Mu’tazilah dan Mitos Pembaruan

Menurut jebolan ISID (sekarang UNIDA) Darussalam Gontor ini, Kelompok Mu’tazilah pada awalnya berniat baik untuk memuliakan Allah, namun karena salah metode akhirnya justru mengukung kekuasaan Allah subhanahu wata’ala.

Terlepas dari itu, sekte ini juga memiliki kontribusi. Sebagai contoh: pada saat itu, banyak ahli filsafat masuk dan orang Majusi masuk Islam melalui mereka. Di samping, itu sumbangsih terhadap perkembangan sains Islam, juga tidak kecil.

Yang tidak kalah menarik, separah-parah kesalahan mereka di bidang ilmu Kalam, kaum Mu’tazilah tidak sampai menggugat kesucian al-Qur`an, menisbikan hal-hal yang sudah mutlak dalam agama, serta perkara-perkara lain yang biasa dilakukan oleh kaum liberal yang mengaku terinspirasi oleh pemikiran mereka.

Penulis buku “Indahnya Keserasian Gender” ini juga menyebut sedikit perbedaan antara kaum ‘Muslim’ Liberal dengan Mu’tazilah.

“Orang liberal, baik buruk berdasarkan nafsu bukan akal. Sedangkan Mu’tazilah berdasarkan akal,” ujarnya.

Sebab, menurutnya, kenyataan di lapangan memang demikian. Kaum liberal, demi kepentingan tertentu,  tak segan-segan membongkar nilai-nilai yang sudah mapan dalam Islam.

Setelah membahas Mu’tazilah, doktor yang menulis disertasi berjudul: “Wacana Kesetaraan Gender dalam Pemikiran Islam di Institusi Pengajian Tinggi Islam di Indonesia” ini, membahas secara khusus kaum liberal.

Beberapa poin yang disorot di antaranya tentang hasil penelitian Badan Litbang dan Diklat Depag tentang Islam Liberal berupa masalah-masalah berikut: Al-Qur`an tidak dianggap wahyu tapi produk budaya, salah satu kunci dalam penafsiran agama tidak ada tafsir dan pemahaman absulut terhadap agama, dan pernikahan  beda agama menurut Islam liberal sudah tidak relevan karena sesuai dengan tuntunan al-Qur`an bahwa al-Qur`an menganut pemahaman universal  tentang martabat manusia yang sederajat.

Pria  yang menyelesaikan magisternya di International Islamic University Malaysia (IIUM) ini juga membongkar dasar-dasar Islam liberal, di antaranya: membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam, mengutamakan semangat religio-etik bukan makna literal teks, mempercayai kebenaran yang relatif, memihak pada minoritas dan tertindas, meyakini kebebasan beragama,  dan memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi.

Baca: Fundamentalisme dan Kegagalan Liberalisme

Dari dua pemaparan mengenai Mu’tazilah dan Kaum ‘Islam’ Liberal, bisa dilihat bagaimana jauhnya perbedaan antara kedua kelompok ini.

“Yang satu masih mengakui, menghormati, bahkan memperjuangkan Islam sebagai agama walau masih banyak kekeliruan. Sedangkan yang satu, sudah berani menganggap al-Qur`an produk budaya, membongkar istilah, hobi merelatifkan yang sudah pasti, dan nilai yang sudah mapan, bahkan menerapkan ijtihad dengan sangat liar sesuai dengan perkembangan zaman dan nafsu pemesan,” ujarnya.

Pada catatan akhir kajian, intelektual muslim yang jago main sepakbola ini menyarankan pentingnya mengenal secara pasti ilmu-ilmu agama Islam.

Menutup diskusi, ia menyampaikan dua catatan penting terkait kaum liberal, yang menurutnya jauh berbeda dengan pemahaman Mu’tazilah.

Pertama, ide memasukkan ideologi rasionalisme ke dalam Islam, memiliki kesamaan dengan paham liberalisme Barat. Kedua, liberalisasi Islam telah membuka pintu bagi ideologi syubhat untuk membongkar doktrinn-doktrin agama Islam yang permanen. Kedua hal ini tentu sangat berbahaya jika dibiarkan begitu saja, pungkasnya.*/kiriman MB Setiawan (Jakarta)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akalDaulah AbbasiyahINSISTSKaum Mu’tazilahliberalliberalismeMu’tazilahNafsuNekropsiSaturday Forumwahyu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Abu Bakar An-Nabulusi; Ulama Korban Dinasti Syi’ah Fathimiyah
Tulisan selanjutnya Dulu Inggris, Sekarang Nama Muhammad Sangat Populer di Jerman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?