Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Assad Secara Tak Sengaja Bantu Masalah Kurdi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Februari 2018 13:00 1:00 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Februari 2018 13:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ty Joplin

 

PRESIDEN Bashar al-Assad baru saja memindahkan sistem pertahanan rudal yang dekat dengan Aleppo di Suriah utara, mencegah jet-jet tempur Turki terbang melewati negara tersebut.

Langkah itu tampaknya bertujuan untuk melindungi pasukan Suriah dan Rusia, tetapi hal tersebut memiliki sebuah efek samping yang ganjil: Turki telah dipaksa menghentikan dukungan udara pada intervensinya melawan pasukan Kurdi di wilayah Afrin.

Dengan kata lain, Bashar al Assad telah mendirikan sebuah zona larangan terbang de facto, secara tidak sengaja melindungi pasukan Kurdi dan memberi kekuatan yang lebih besar pada pergerakan Kurdi.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Jika Turki benar-benar meninggalkan upaya menggunakan angkatan udaranya untuk menyerang Kurdi karena takut akan sistem pertahanan Suriah dan Kurdi dapat menahan serangan Turki, maka Assad akan “telah membantu memperkuat kepemilikan teritorial dari kelompok yang secara aktif menentang kekuatan Assad”.

Menerapkan  No-Fly Zone

Pada 20 Januari, Turki melancarkan sebuah intervensi militer di Afrin, Suriah – sebuah wilayah kekuasaan Kurdi yang berbatasan dengan Turki. Dinamakan Operation Olive Branch, tujuannya ialah untuk mengusir milisi Unit Pelindung Rakyat Kurdi (YPG) dari wilayah tersebut. YPG memiliki hubungan kuat dengan Partai Buruh Kurdi (PKK), yang merupakan sebuah gerakan separatis Kurdi di Turki. Turki menganggap baik YPG maupun PKK sebagai organisasi teroris dan ancaman keamanan nasional serius.

Baca: Tentara Turki Hajar Milisi Bashar al Assad di Lattakiah

Anehnya, Suriah setuju mengizinkan pasukan Turki memasuki provinsi Idlib untuk menjaga kesepakatan de-eskalasi dan mempertahankan tingkat kedamaian dan stabilitas di Suriah barat laut. Sebaliknya, Turki tampak menggunakan ketentuan kesepakatan itu untuk mendirikan pijakan di Idlib untuk membantu menkoordinir serangan pada petempur Kurdi. Selain, selama memuncaknya kekerasan di Afrin, Turki mengirim konvoi-konvoi militer melalui Idlib ke wilayah yang dikuasai rezim dekat Aleppo.

Konvoi itu mengejutkan rezim, yang mulai menembakkan artileri dekat konvoi untuk menghentikannya mendekat, tetapi rezim dipaksa untuk mundur dan membiarkan konvoi itu mendekati wilayah rezim setelah Turki mengirim jet-jet tempur untuk mengawal konvoi tersebut.

Selain itu yang lebih mengkhawatirkan lagi bagi pemerintah Suriah ialah Turki mulai membangun sebuah pos militer beberapa kilometer dari wilayah rezim, di sebuah desa kecil bernama Al-Eis, yang Assad telah coba ambil alih selama dua tahun terakhir. Rezim dan sekutunya menembaki posisi Turki, yang memprovokasi tembakan balasan dari Turki dalam eskalasi perang Suriah.

Saling tembak artileri terjadi pada Senin. Beberapa hari sebelumnya, sebuah jet Rusia ditembak jatuh oleh kelompok Hayat Tahrir al-Syam (HTS) di dekat Idlib. Kemudian, sangat mungkin sebagai balasan atas ditembak jatuhnya jet dan untuk mengintimidasi kehadiran angkatan udara Turki di dekat wilayah rezim, seorang komandan militer Suriah mengumumkan penempatan sistem pertahanan misil dekat Aleppo dan Idlib.

Untuk memberi isyarat bahwa sistem pertahanan udara itu merupakan sebuah “pesan untuk semua orang,” komandan mengatakan bahwa sistem pertahanan mencakup “wilayah udara Suriah utara,” termasuk juga wilayah Afrin yang diduduki Kurdi yang saat ini dikepung oleh Turki.

Setelah militer Suriah mengumumkan sistem pertahanannya, Turki dilaporkan menunda operasi udaranya pada Afrin.

Dalam sebuah upaya untuk melindungi asetnya sendiri, Assad mengimplementasikan sebuah no-fly zone de facto.

Bagaimana Assad membantu masalah Kurdi

No-fly zone ini memberikan kebebasan pada YPG, yang telah melihat keuntungan peringatan Assad melawan Turki.

Baca: 43 Warga Sipil Terbunuh dalam Serangan Udara di Aleppo

Kemajuan yang dicapai Turki di Afrin setidaknya sementara tampak melambat berkat kurangnya dukungan udara pada pasukan darat Turki, dan pasukan Kurdi dapat menyusun kembali dan melancarkan serangan tanpa takut serangan udara Turki. Drone-drone Turki juga dilaporkan menjauh dari wilayah udara Suriah, mencegah pengumpulan intelejen posisi-posisi Kurdi.

Orang-orang Kurdi Suriah telah berupaya mendirikan kontrol otonomi atas wilayah-wilayah etnis Kurdi di Suriah utara, dan menuntut sebuah tingkat kekuatan yang secara langsung mengancam cengkraman totaliter Assad atas Suriah yang berusaha Assad tegaskan.

Tetapi Assad tampaknya menganggap ancaman Turki lebih darurat, terlepas potensi jangka panjang dari pertempuran politik yang berlarut-larut dengan Kurdi terkait siapa yang memiliki kendali tertinggi atas Suriah utara, termasuk ladang minyak yang dikuasai kelompok Kurdi dari ISIS, yang membentuk sebagian besar ekonomi Suriah.

Ironisnya, no-fly zone tersebut merupakan sebuah perlindungan yang jauh lebih nyata daripada yang ingin diberikan AS. Untuk bagiannya, AS benar-benar terperangkap diantara dua sekutu – Kurdi, yang penting dalam perang melawan ISIS, dan Turki, yang merupakan partner ekonomi utama dan anggota NATO.

Amerika Serikat membiarkan serangan di Afrin berlanjut, tetapi telah memperingatkan Turki untuk tidak memperluas intervensinya hingga ke Manbij, Suriah, di mana AS memiliki pasukan di lapangan bersama dengan pasukan Kurdi.

Dalam sebuah perang di mana aliansi dan garis depan selalu tidak menentu, perlindungan insidentil Assad atas Kurdi dari jet-jet Turki dapat menimbulkan masalah bagi  rezimnya nanti ketika dia harus menghadapi gerakan nasional Kurdi yang solid.*

Penulis Asisten Riset Fall 2015 untuk Faisal Senior Senior dan profesor Haverford Barak Mendelsohn. Diterjemahkan  Nashirul Haq AR

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AfrinAleppoAssadbashar al assadKurdiPartai Buruh KurdiPKKSuriah jet tempur TurkiTurkiUnit Pelindung Rakyat KurdiYPG
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pembuldoseran Pemukiman Desa Rakhine, Usaha Ingin Hilangkan Sejarah Rohingya
Tulisan selanjutnya Mengembangkan Motivasi Beragama Anak-anak Lewat Lingkungan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?