Hidayatullah.com–Puluhan aktivis Mahasiswa kampus Prince of Songkla University, Kampus Pattani (PSU), hari Rabu (19/09/2018) menggelarkan aksi peduli terhadap warga Pattani yang sedang dalam kepungan Operasi Darurat Militer di Bangkhao dan Thakamcham, Distrik Nongcik, Pattani.
Dalam aksi kali ini, mahasiswa melakukan kampanye bersama peduli terhadap warga sipil di daerah Nongcik dengan slogen “Ayo Bersama Chek-in ke Nongcik” disela-sela acara berlangsung panitia pelaksanaan juga memberi bulitin kepada peserta aksi, di gedung kuliah umum kampus PSU, Pattani.
Setelah Komando Operasi Keamanan Internal Wilayah 4 bagian selatan Thailand mengumumkan undang-undang darurat militer dengan kontrol area kecamatan Tha Kam Cham dan area sekitarnya.
Operasi militer, dilakukan dengan tindakan membabi-buta dengan dugaan mencari pembunuh anggota Rangers (pasukan elit) yang sedang melakukan patroli di daerah tersebut. Akibat kasus ini, dua orang anggota militer dan empat orang terluka-luka pada 11 September 2018 pekan lalu.
Baca: Operasi Militer di Nong Chik Pattani Memberi Rasa Takut Warga
Menurut Arif Daleng, Koordinator Persekutuan Mahasiswa Anak Muda dan Siswa Pattani (PerMAS) mengatakan bahwa setelah aparat militer Thailand menerapkan Undang-Undang (UU) Darurat Militer di Area Khusus tersebut, PerMAS sendiri telah memutuskan untuk segera turun kelapangan memantau dan mendengarkan keluhan penduduk desa. sekaligus mengamat situasi dan kondisi di kawasan tersebut.
Ia menambahkan bahwa PerMAS sangat percaya bahwa konflik tidak akan bisa diselesaikan dengan UU Darurat Militer, hanya saja konflik dapat menyelesai dengan secara politis.
“Ayo bersama chek-in ke Nongik, pada hari ini kami mengajak teman-teman mahasiswa untuk melihat apa yang sedang terjadi? Bagaimana suasananya? Bagaimana kehidupan warga sipil berada di bawah kendali tentara?” katanya.
“Warga masyarakat di Bangkau daerah Nongcik mereka sangat khawatir dan cemas. Operasi ini jangka panjang tidak akan membawa hasil positif, bahkan membuat warga semakin derita terhadap operasi undang-undang darurat ini,” tambah Arif seperti dilansir Free Voice.
“Kita selaku mahasiswa, saya pikir perlu untuk pergi ke daerah itu. Kita akan Kumpulkan data dari penduduk desa bagaimana perasaan mereka. Apa kebenarannya? Dan kami bersikeras bahwa apabila militer memimpin politik tidak bisa memadam api konflik ini,” ungkap Arif.
Sobariyah seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Politik, yang juga penduduk asli daerah tersebut mengatakan, di masa lalu terbukti bahwa UU Darurat Militer tidak dapat menyelesaikan konflik di Pattani.
Baca: Di Bawah UU Darurat Militer, Warga Patani Ditangkap karena Mengambil Gambar .
Konflik telah berlanjur lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Hal itu telah membuktikannya bahwa militer tidak akan bisa menyelesai dengan benar.
Ia yakin pemerintah Thailand akan segera membatalkannya undang-undang dan membuka ruang politik untuk masyarakat juga memiliki hak atas kebebasan bersuara. Dan hal Inilah akan menjadi titik tolak awal yang efektif untuk manajemen konflik.
Dipenghujung aksi ini, Anas, mahasiswa Pascasarjana PSU menegaskan dalam orasinya bahwa mahasiswa tidak lain seumpama anak rakyat yang harus membelanya.
“Kita semua juga adalah anak cucu dari rakyat dan juga bukan orang lain. Ayo mari bersama kita berangkat menuju ke Kampung Bangkau Nongcik dan kawasan tersebut hanya dekat saja dengan PSU,” tegas Anas.
Sebagaimana diketahui, lebih dari 1000 aparat militer dikerahkan di dua kacamatan dua kacamatan — Bang Khao dan Thakamcham– Distrik Nong Chik, Provinsi Pattani dalam sebuah Operasi Darurat Militer dengan alasan mencari penyerang anggota Ranger.
Militer melakukan pengepungan dan penutupan desa berlaku 24 jam sehari untuk melacak apa yang mereka klaim sebagai ‘militan gerakan Pattani’ yang bersembunyi di area tersebut.
Akibat operasi militer masyarakat merasakan tidak nyaman dan ketakutan.*