Hidayatullah.com–Para pengunjuk rasa di Ferguson di negara bagian Missouri, Amerika Serikat, turun ke jalanan lagi memprotes kebrutalan seorang polisi kulit putih yang menembak mati pemuda kulit hitam tak bersenjata.
Polisi setempat berhadapan sekaligus dengan pengunjuk rasa damai dan para penjarah yang memecahkan kaca-kaca jendela serta membakar bangunan-bangunan di sekitarnya.
“Ini adalah permainan catur antara kami dengan pemerintah. Kami menjalankan langkah kami, sekarang giliran mereka,” kata Charnicolas Walker seorang pengunjuk rasa berusia 38 tahun kepada Aljazeera.
“Akan ada 5.000 orang yang keluar malam ini. Satu-satunya alasan mengapa tidak akan mencapai 50.000 karena orang takut melihat gas air mata di media sosial,” kata Walker dikutip Aljazeera (20/8/2014).
Polisi mengatakan mereka dihujani tembakan Senin lewat tengah malam dan menahan 31 orang, meskipun pasukan dari Garda Nasional telah diterjunkan dan jam malam telah dicabut guna memungkinkan demonstran berunjuk rasa lebih bebas dan tertib.
Kerusuhan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyerukan agar warga kembali tenang.
Pemuda kulit hitam Michael Brown tewas saat sedang berjalan kaki dengan seorang temannya pada siang hari tanggal 9 Agustus lalu ketika polisi kulit putih berusia 28 tahun bernama Darren Wilson menembaki Brown dengan brutal.
Saat ini Wilson diberhentikan sementara dan masih mendapatkan gaji. Aksi penembakan yang dilakukannya sedang diselidiki oleh kementerian kehakiman dan Kepolisian Daerah St Louis.
Kejaksaan mengatakan mereka sudah bisa mengajukan bukti-bukti ke juri pada hari Rabu (20/8/2014) untuk memutuskan apakah kasus penembakan itu bisa disidang lebih lanjut. Jaksa Agung Eric Holder dijadwalkan mengunjungi daerah itu pada hari Rabu ini dan bertemu dengan para penyelidik.
“Sekarang ini, agar kami tidak turun ke jalan, mereka harus menuntutnya. Gugat petugas (polisi) itu,” kata Johanna Lyn seorang ibu beranak tiga yang ikut beunjuk rasa di depan sebuah toko yang bagian depannya rusak dan dijarah orang di daerah West Florissant Avenue hari Selasa kemarin kepada Aljaeera.
“Tetapi mereka malah memanggil Garda Nasional dan memobilisasi pasukan militer dari setiap daerah di sekitar sini, karena mereka berusaha melanggar hak konstitusional kami untuk melakukan unjuk rasa. Dan itu semakin membuat keadaan memburuk. Garis depan di malam hari sepertimedan perang,” kata wanita itu.
Ferguson merupakan sebuah daerah pinggiran kota St Louis yang dihuni banyak penduduk kulit hitam. Berpenduduk sekitar 21.000 orang daerah ini memiliki sejarah ketegangan rasial. Warga kulit hitam mengeluhkan tentang pelecehan yang dilakukan oleh polisi yang mayoritas berkulit putih, perihal kualitas sekolah yang buruk serta pengangguran.
Situasi di Ferguson semakin buruk ketika pada hari Selasa polisi menembak dan membunuh seorang pria pembawa belati di sebuah tempat yang berjarak 6 km dari lokasi penembakan atas Brown. Polisi dan para saksi mengatakan pria itu mengamuk dan mendekati dua petugas polisi dengan menghunus belati.*