Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Gaya Hidup yang Diedukasi Doktrin Feminisme jadi Pendorong Lahirnya Perilaku LGBT

Ahmad
Terakhir diupdate: 3 Februari 2014 07:48 7:48 am
Ahmad
Dipublikasikan 3 Februari 2014 07:47
Bagikan
Rita Subagyo, Sekjen Aliansi Cinta Keluarga (AILA)
Bagikan

FENOMENA pergeseran budaya tidak hanya pada tataran pemikiran. Dalam implementasinya revolusi kenakalan remaja makin membuat miris hati. Maraknya kehidupan bebas kalangan remaja hingga penyakit seksual  seperti Lesbian, Homoseksual (Gay), Biseksual hingga Transgender (Waria/bencong) amat mudah ditemui sehari hari.

Yang cukup menarik, gaya hidup rusak ini diselipkan dalam tontonan televise bahkan tak jarang sudah menjadi gaya hidup yang dengan terang-terangan diperjuangkan pengikutnya.

Hidayatullah.com bahkan sempat menemukan fakta di mana budaya free-sex bukan hanya pada urusan prostitusi semata. Bahkan anak-anak muda tanpa malu menjajahkan tubuhnya untuk kesenangan. Fenomena gadis cabe-cabean contohnya. Seorang remaja tidak perlu minta dibayar hanya untuk ditiduri seorang laki-laki yang bukan muhrimnya. Ia bahkan merasa kalah gengsi jika gagal untuk tidur dengan lelaki yang disukainya.

Seberapa kompleks ancaman gaya hidup ini bagi tatanan masyarakat dan keluarga Indonesia, khususnya umat Islam?

Hidayatullah.com mewawancarai Sekjend Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILIA) yang fokus pada masalah feminis dan LGBT, Rita Subagyo. Di bawah ini petikan wawancaranya

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

***

Apakah yang Anda lihat mengenai fenomena gadis cabe-cabean dan prostitusi ‘terselubung” yang pelakunya anak-anak belia tingkat sekolah?

Rita Subagyo: Ya, saya sudah mendengar banyak cerita mengenai itu, kami masih terus meneliti dan mengumpulkan data dan fakta.

Mengapa gadis-gadis remaja seperti ini cenderung tidak mau otoritas agama?

Rita Subagyo: Pada dasarnya kasus seperti ini ada gejala pengaruh feminisme. Memang feminisme tak ada kaitan dengan penyakit sosial seperti ini. Namun, nilai dan gaya hidup yang diedukasi oleh doktrin feminisme secara tidak langsung atau tidak disadari menjadi pendorong lahirnya perilaku penyimpangan sosial seperti LGBT hingga ke prostitusi.

Feminisme secara tidak langsung menjadi semacam payung untuk menyuburkan eksistensi LGBT, prostitusi, seks bebas dan fenomena penyimpangan sosial lainnya. Terlebih saat ini ide-ide feminisme ada di mana-mana. Tidak harus dengan tulisan untuk menyepakati feminisme, bisa lewat film, internet hingga pesan-pesan lewat musik yang bertebaran. Semua itu memberikan dampak baik sengaja maupun tidak sengaja kepada remaja-remaja kita.

Anda dikenal getol memperjuangkan penolakan RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) padahal tanpa RUU kelompok LGBT dan feminisme beserta doktrin-doktrinnya sudah eksis?

Rita Subagyo: RUU KKG ini hanya simbol propaganda. Dengan adanya kita menolak RUU KKG minimal kita ingin memberi tahu para pendukung feminisme tersebut bahwa umat Islam tidak diam. Kami melawan, kami menolak. Namun, jika ditanya apakah penolakan RUU KKG bisa menyelesaikan masalah LGBT, feminisme hingga penyimpangan sosial seperti prostitusi jelas tidak.

Kami sadar bahwa ada keterbatasan dalam diri ini, dan info-info yang kami dapat dari media seperti hidayatullah.com ini tentu sangat membantu kami untuk membangun strategi kami.

Kami sadar sebelum adanya pro kontra RUU KKG  pendukung feminisme dan LGBT sudah eksis dan dibiayai oleh luar negeri secara komprehensif.

Selain menolak RUU KKG kami sadar bahwa kami harus mengajak seluruh elemen umat Islam untuk lebih komprehensif melakukan sosialisasi ke akar rumput mengenai ancaman feminisme dan LGBT.

Harus ada keseimbangan antara energi menolak RUU KKG dengan energi mensosialisasikan keburukan feminisme dan ancaman budaya LGBT ke masyarakat level bawah. Karena suburnya prostitusi selalu dimulai dari minimnya pemahaman masyarakat bawah baik soal agama maupun pemikiran-pemikiran seperti feminisme tersebut.

Langkah – langkah seperti apa yang sudah disiapkan  AILIA untuk melakukan sosialisasi tersebut?

Rita Subagyo: Pertama kita harus yakin bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Kedua semua elemen umat harus bisa merapatkan barisan. Dari kekuatan sinergi umat itu kita membangun kerjasama untuk bisa melakukan penyaluran informasi mengenai ancaman feminisme ini ke masyarakat paling bawah.

Tentu harus diperhatikan gaya pembahasaannya. Pada takaran kampus kita gunakan bahasa akademis, pada masyarakat umum tentu kita gunakan bahasa yang lebih mudah diterima.

Sama seperti gadis cabe-cabean yang tadi disinggung, mereka tidak perlu paham apa itu feminisme tapi mereka sudah menjalankan doktrin dari feminisme. Pendapat bahwa ini tubuh gue mau gue apain kek, jual kek atau tidur sama siapa adalah hak gue merupakan dampak dari doktrin feminisme yang tanpa sadar sudah dijalani oleh gadis-gadis belia tersebut.

Jadi kitapun perlu mengatur pembahasan sosialisasi ancaman feminisme ini ke masyarakat bawah agar mudah diterima dan bisa dihindari bahkan dilawan bersama.

Kami pernah mewawancarai aktivis gay Indonesia. Ternyata dia menjadi gay trauma pada agama? 

Rita Subagyo: Ini perlu proses yang tidak sebentar. Pertama kita tentu harus mempesiapkan sebanyak mungkin psikiater dan psikolog yang memilik view Islam. Pendekatan psikologis saja tentu tidak cukup, perlu penuntunan terhadap ajaran agama secara sabar kepada mereka.

Kedua kita juga akan mempersiapkan tim-tim yang siap mendampingi bukan hanya secara psikologis dan agama tapi juga hukum. Hal ini untuk segera melakukan perlindungan hukum kepada korban kekerasan dalam rumah tangga dengan payung hukum yang tepat.

Banyak ide-ide feminis juga berhasil didoktrinkan ketika seorang wanita mengalami kekerasan rumah tangga namun tidak ada payung hukum dari elemen gerakan Islam yang mau mengayomi permasalahan mereka.

Jadi jangan aneh kalau sekarang banyak perempuan lebih suka jadi single parent (sendirian mengasuh anak,red) daripada hidup dengan suami.

Pada saat yang sama hadir masalah baru dimasyarakat yaitu fenomena perceraian. Data yang saya miliki dari Pengadilan Agama Tangerang 70% kasus perceraian yang mereka tangani dimulai dari gugatan cerai sang istri, hal yang sama juga terjadi di Depok.

Jadi dampak feminisme ini memang menjadi masalah yang kompleks. Seorang istri yang menjanda akan sangat terbuka menjadi feminis untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Dari sinilah ide mengenai kesetaraan gender, lesbianisme dan sebagainya semakin dirasa benar mewakili perempuan padahal tidak. Ini hanyalah salah satu dampak pengrusakan ke tatanan masyarakat mulai terjadi.

Masalah traumatik, kekecewaan, dendam yang berdampak pada mindset psikologis jelas membutuhkan ekstra sumber daya manusia untuk menanganinya. Kami membutuhkan sayap-sayap untuk bisa bekerja sama. Baik ormas Islam, pengacara muslim atau advokat, tenaga psikiater dan psikolog.

Apa langkah yang bisa diambil AILA atas fenomena gadis cabe-cabean tadi?

Rita Subagyo: Kita berharap ada sinergi baik antara aktivis dakwah dan peran orangtua dalam keluarga. Semuanya harus mengambil peran. Kita boleh militan melawan RUU KKG, tapi perhatikan keluarga kita di rumah, adik-adik kita, kakak-kakak kita dan kerabat kita.

Edukasi feminisme ke masyarakat harus seimbang dengan edukasi ke dalam diri dan keluarga kita masing –masing. Jangan sampai kita sibuk menyerang lalu melupakan kekuatan pertahanan kita yaitu diri kita dan keluarga kita.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:feminisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Breaking The Spell dan Monster Kapitalisme
Tulisan selanjutnya MUI Pusat Sosialisasi Fatwa Penyimpangan Syi’ah di Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?