Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Turki dan Usulan Komite Suriah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Maret 2019 11:42 11:42 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Maret 2019 11:42
Bagikan
Menlu Turki, Arab Saudi
AA
Bagikan

oleh: Busra Nur Bilgic

 

PEMBENTUKAN komite untuk membangun konstitusi baru bagi Suriah telah memasuki fase terakhirnya, menteri luar negeri Turki mengatakan pada Kamis seperti yang dilaporkan harian Daily Sabah Kamis 14 Maret 2019.

“Melengkapi proses (perundingan) Jenewa, Astana telah menghasilkan hasil nyata dalam mengurangi kekerasan dan mempercepat proses politik, dan upaya bersama kita telah membawa [kita] ke fase final pembentukan komite konstitusional,” Mevlut Cavusoglu mengatakan dalam konferensi Mendukung Masa Depan Suriah dan Wilayah di Brussels.

Cavusoglu mengatakan tujuan utama masyarakat internasional adalah mengakhiri peperangan dan tragedi kemanusiaan berusia delapan tahun di Suriah.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Menyusul pembentukan komite yang seimbang, pemilihan umum yang bebas dan adil serta reformasi konstitusional di bawah pengawasan PBB menjadi mungkin, tambahnya.

Cavusoglu juga menekankan pentingnya proses perdamaian Astana untuk membangun kepercayaan dengan memfasilitasi pembebasan bersama tahanan yang ditahan rezim dan oposisi.

“Wilayah de-eskalasi Idlib merupakan sebuah kesuksesan dalam mencegah tragedi kemanusiaan lain dan aliran pengungsi baru ke Turki dan Eropa,” katanya, menambahkan bahwa Turki bertekad untuk tetap menjaga ketenangan di kota barat laut Suriah itu meskipun adanya provokasi-provokasi.

September lalu, sebuah pertemuan antara pemimpin Turki dan Rusia menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan zona demilitarisasi di Idlib.

Di bawah kesepakatan itu, kelompok-kelompok pejuang oposisi di Idlib tetap berada di daerah-daerah mereka telah hadir, sementara Rusia dan Turki melakukan patrol bersama di wilayah tersebut untuk mencegah pertempuran baru.

Baca:  Pengungsi Suriah di Turki bisa Mencapai 5 Juta dalam 10 Tahun

Keputusan mundur AS

Cavusoglu mengatakan keputusan Washington untuk menarik atau mengurangi pasukannya di Suriah membawa tantangan baru.

“Kita harus memastikan bahwa kekosongan kekuasaan dicegah dan organisasi teroris seperti ISIS, PYD/YPG dan rezim [Suriah] tidak dapat mengeksploitasi keadaan ini,” katanya.

Turki telah bertekad untuk tidak membiarkan YPG – kelompok cabang Suriah kelompok PKK, yang bertanggungjawab atas 40,000 kematian selama 30 tahun terakhir – mendirikan koridor teror di Suriah, di sepanjang perbatasan Turki.

Proses penarikan diri AS harus menghormati integritas wilayah dan persatuan politik serta kekhawatiran keamanan Turki, katanya, sembari menambahkan bahwa Turki akan terus bekerja dengan AS dan aktor-aktor lain di Suriah.

“Kami tentu saja tidak akan berdiam diri jika kelompok teroris berupaya untuk menyerang kami dari sisi lain perbatasan Suriah, dan kami telah membuktikan tekad kami untuk melawan terorisme yang berasal dari Suriah melalui operasi Euphrates Shield dan Olive Branch,” tambahnya, merujuk pada dua operasi kontra-teroris Turki yang sukses sejak 2016.

Cavusoglu juga menyampaikan keinginan Turki untuk “Suriah yang stabil, makmur dan demokratis yang menjaga kesatuan politik dan integritas wilayah” dan keinginan untuk bekerja sama dengan anggota-anggota komunitas internasional, Uni Eropa dan PBB.

Baca:Pengungsi Suriah di Turki bisa Mencapai 5 Juta dalam 10 Tahun

‘650,000 pengungsi Suriah belajar di Turki’

Cavusoglu mengatakan krisis Suriah terus berlanjut dengan “penderitaan manusia yang tak tertahankan” dan lebih dari 5.6 juta orang telah meninggalkan negara itu demi mencari keamanan di negara-negara tetangga, terutama Turki, Libanon dan Jordania, menteri luar negeri Turki itu mengatakan dalam konferensi Mendukung Masa Depan Suriah dan Wilayah di Brussels seperti yang dilaporkan harian Daily Sabah Kamis 14 Maret 2019.

Banyak negara yang tidak peduli terhadap masalah pengungsi, katanya, sedangkan Turki membuka perbatasannya untuk 3,6 juta pengungsi, bersama dengan Libanon dan Jordania.

Tuki menampung sekitar 3,5 juta pengungsi Suriah, lebih banyak dari negara manapun di dunia.

“Saya hanya ingin berbagi angka-angka tentang pendidikan, yang kami prioritaskan bersama dengan Uni Eropa dan PBB. Karena upaya kami, sekitar 650.000 dari 1 juta anak-anak [Suriah] usia sekolah dapat mengenyam pendidikan. Dan dalam kurun waktu dua tahun, kami menggandakan tingkat [kehadiran’ dari 30 persen menjadi 62 persen,” jelasnya.

Menambahkan bahwa Turki tidak akan dapat memikul tanggungjawab ini sendiri, tambahnya: “Lebih dari 300 WN Suriah lahir di Turki setiap hari dan lebih dari 400.000 WN Suriah telah lahir di Turki dalam kurun tujuh hingga delapan tahun terakhir.”

“Kami mengapresiasi dukungan masyarakat internasional, meskipun dibandingkan tantangan yang ada, kontribusi itu masih kecil,” tambahnya.

Baca:Turki Tambah Pasukan, Mengirim Tank ke Perbatasan Suriah 

‘Solusi yang lebih cepat’

Sejauh ini, lebih dari 320.000 WN Suriah telah kembali ke wilayah-wilayah yang telah dibebaskan dari terorisme oleh operasi Turki.

Selain itu Cavusoglu juga mengungkit bantuan yang dijanjikan Uni Eropa untuk para pengungsi Suriah di Turki.

“Fasilitas-fasilitas untuk pengungsi di Turki telah menjadi contoh yang baik dari apa yang dapat kita capai ketika Turki dan UE bekerja sama,” katanya, “Namun hanya 2 miliar dari 3 miliar Euro pertama [seperti yang dijanjikan UE] yang sampai ke Turki. Kami harus mencari solusi yang lebih cepat dan lebih baik.”

Pada Maret 2016, UE dan Turki menyepakati perjanjian untuk mengambil tindakan yang lebih ketat terhadap para penyelundup manusia dan mencegah imigrasi tidak teratur melalui Laut Aegea dan meningkatkan kondisi pengungsi Suriah di Turki, dengan UE menjanjikan €6 miliar ($6.8 miliar) untuk membantu Turki merawat jutaan pengungsi yang ditampungnya.

Turki telah memprotes kegagalan UE dalam mengirim bantuan yang dijanjikan.

Suriah telah terperangkap dalam perang sipil mengerikan sejak awal 2011, ketika rezim Assad dengan keras merespon demonstrasi pro-demokrasi.

Sejak itu, ratusan ribu orang telah terbunuh dan lebih dari 10 juta lainnya telah mengungsi secara internal maupun eksternal, berdasarkan laporan PBB.*

Artikel ditulis di Anadolu Agency, diterjemahkan Nashirul Haq AR

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:KomiteMevlut CavusogluoposisiPKKrusiasuriahTurkiYPG
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ambil Tindakan Pencegahan, Australia Tingkatkan Patroli di Masjid
Tulisan selanjutnya Saudi Menentang Penyelidikan Internasional terhadap Kasus Khashoggi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?