Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Pernyataan “Garis Keras”nya Berpolemik, Mahfud MD Minta Maaf

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 1 Mei 2019 07:18 7:18 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 1 Mei 2019 07:18
Bagikan
Mahfud KRI Nanggala
Prof Mahfud MD.
Bagikan

Hidayatullah.com– Anggota Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Mahfud MD akhirnya meminta maaf secara terbuka terkait pernyataan “garis keras”-nya yang menuai polemik di tengah perpolitikan yang sedang menghangat saat ini.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini meminta maaf kepada pihak-pihak yang disebutnya berbeda pemahaman atas istilah “garis keras”-nya beberapa waktu lalu.

“…Bagi yang beda paham saya minta maaf…,” ujarnya lewat akun Twitternya, @mohmahfudmd, Rabu (01/05/2019).

Baca: KH Cholil Ridwan: Prabowo Islamnya Sangat Jelas

Pantauan hidayatullah.com, Rabu pagi sekitar pukul 07.00 WIB, dalam penjelasan panjangnya di media sosial, Mahfud setidaknya dua kali menuliskan permintaan maafnya.

Ia pun mengaku tidak ingin dituding mengalihkan isu kecurangan Pemilu 2019 dengan istilah “garis keras” yang dilontarkannya tersebut. Mahfud mengaku tak ingin polemik tersebut berkepanjangan.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Hai tuips, selamat pg. Selamat jumpa lg stlh 3 hr sy tdk mebuka Twitter. Sy membayat hutang melaksanakan tugas2 yg tertunda di kampus. Tetapi sy mengikuti kontroversi atas istilah “garis keras” (hard liner) yg sy lontarkan dgn niat mengajak rekonsiliasi. Berikut penjelasan saya:,” tulis Guru Besar FH-UII Yogya ini.

“Di dlm term ilmu istilah hard liner diartikan, “sikap kokoh, tdk mau berkompromi dgn pandangan yg dianggapnya tdk sejalan dgn prinsipnya”. Itu tertulis di literatur2. Tp bagi yg beda paham sy minta maaf. Maksud sy mengajak rekonsiliasi, bersatu, kok malah berpecah. Itu tdk bagus,” sambungnya.

“Daripada sy dituding “mau membelokkan isu” dari kecurangan pemilu maka sy takkan memperpanjang polemik. Mari kita kawal sj ber-sama2 proses pemilu ini krn jalannya msh panjang. Semua hrs mendapat keadilan sesuai tuntutan demokrasi. Demokrasi hrs selalu diimbangi hukum (nomokrasi).”

“Arti garis keras di dlm literatur ” is an adjective describing a stance on an issue that is inflexible and not subject to compromise”. Arti ini tak bs dicabut krn sdh jd term dlm ilmu politik scr internasional. Tp bg yg salah memahami penggunaan istilah ini sy minta maaf,” kicau Mahfud.

Baca: MUI: Tak Berdasar, Tudingan Media Asing Pilkada DKI Dimenangkan “Islam Radikal”

Warganet menanggapi klarifikasi dan permintaan maaf tersebut secara beragam.

Jafar Salman @JafarSalman23, misalnya, membalas salah satu Twit Mahfud dengan menulis:

“Ketika golongan masyarakat ingin ganti presiden dg cara2 demokrasi dibilangnya garis keras.. lalu setelah berusaha ikut jalan demokrasi ternyata disebut begini.. jangan salahkan muncul persepsi dari mereka yg justru menjadi bumerang bagi bangsa ini.krn sebutan2 yg memecah belah.”

Sedangkan BumiPutera @CukongAgen membalas, “Tak ada yg salah dgn definisi itu. Tp menjadikan itu sebagai alasan hny krna mereka tidak memilih capres trtentu, ini yg keliru.Lama-lama, jk ada yg tak spendapat dgn kita, lalu boleh diklaim garis keras, ini mereduksi demokrasi kita.Bygkan jika kubu lain berfikiran pola yg sama.”

Sementara akun I Ketut Bagiarta #2024PT0% @bagiartaketut membalas singkat, “Saya maafkan.”

Baca: Sejarawan Kritik Pernyataan “Garis Keras” Mahfud MD

Sebelumnya diberitakan media ini, pernyataan “garis keras” oleh mantan Mahfud MD dikritik oleh sejarawan Dr Tiar Anwar Bachtiar. Tiar menilai, Mahfud melakukan stigmatisasi dan generalisasi secara berlebihan atas satu fenomena tertentu.

“(Ini) sangat berbahaya, baik secara ilmiah maupun secara komunisasi massa,” ujarnya kepada hidayatullah.com Jakarta pada Senin (29/04/2019).

Mahfud sebelumnya beranggapan, capres Prabowo Subianto menang di provinsi yang dulunya dianggap Islam garis keras.

“Tapi kalau lihat sebarannya di beberapa provinsi-provinsi yang agak panas, Pak Jokowi kalah. Dan itu diidentifikasi tempat kemenangan Pak Prabowo itu adalah diidentifikasi yang dulunya dianggap provinsi garis keras dalam hal agama misal Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan sebagainya, Sulawesi Selatan juga,” begitu kata Mahfud sebagaimana potongan video yang viral di media sosial.

Menganggap pemilih Prabowo adalah kelompok garis keras, menurut Tiar, sebuah simplifikasi yang sangat sumir.*

 

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:garis kerasIslam radikalMahfud MDPilpres 2019Prabowo SubiantoradikalsejarawanTiar Anwar Bachtiar
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jerman Melatih Anggota Militer Arab Saudi
Tulisan selanjutnya Ijtima Ulama III Menyikapi Kecurangan Pemilu

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Berita
13 Juli 2026 15:40
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?