Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Islam di Indonesia Jadi Inspirasi Toleransi Beragama bagi Jerman

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 3 Mei 2019 10:22 10:22 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 3 Mei 2019 10:20
Bagikan
Peserta seminar “Tolerance of Islam in Pluricultural Societies, yang berlangsung di Villa Borsig, Berlin, Jerman diadakan kerja sama antara Kemenlu Jerman, KBRI Berlin, dan Kedutaan Besar Azerbaijan di Berlin.
Bagikan

Hidayatullah.com– Toleransi antar umat beragama di tengah pluralitas masyarakat yang sangat kompleks di Indonesia mendapat pengakuan dari Jerman.

Konsep Islam berkemajuan dan Islam jalan tengah yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia dinilai memiliki peran penting dalam menghidupkan nilai toleransi.

Hal itu antara lain diungkapkan para peserta seminar “Tolerance of Islam in Pluricultural Societies, yang berlangsung pada 29 April 2019 di Villa Borsig, Berlin, Jerman.

Seminar yang digagas oleh Dubes RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno tersebut diselenggarakan atas kerja sama antara Kemenlu Jerman, KBRI Berlin, dan Kedutaan Besar Azerbaijan di Berlin.

Sejumlah tokoh lintas kalangan dan agama hadir pada seminar ini, antara lain anggota Parlemen Jerman, organisasi-organisasi dari berbagai agama (Islam, Kristen, dan Yahudi), professor Humbolt University, kalangan media, kelompok LSM, dan sejumlah pejabat pemerintah Jerman.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Kepala Departemen Bidang Urusan Agama, Kementerian Luar Negeri Jerman, Dubes Volker Berresheim saat membuka seminar menyebutkan bahwa konsep Islam yang berkembang di Indonesia menjadi inspirasi bagi Jerman.

Menurutnya, konsep Islam Indonesia ini dapat menjadi alternatif untuk mengimbangi dominasi konsep Islam dari etnis tertentu yang saat ini berkembang di Jerman.

“Kita perlu mengenalkan ke publik Jerman warna lain dari Islam. Islam tidak identik dengan etnis tertentu. Islam yang dipraktikkan masyarakat Indonesia adalah contoh nyata bagaimana Islam mampu menjadi pelopor toleransi di tengah ratusan etnis yang sangat heterogen.

Coba anda bayangkan, 260 juta penduduk terpencar di ribuan pulau di Indonesia, dengan ratusan budaya dan bahasa, serta agama dan kepercayaan yang beragam, mampu hidup secara damai. Dan sekitar 87 persen penduduk Indonesia beragama Islam,” ujar Dubes Berresheim dirilis KBRI Berlin baru-baru ini.

Prof. Dr. Azyumardi Azra sebagai pembicara utama pada seminar ini menyatakan bahwa Islam Indonesia diilhami oleh 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Pancasila merupakan platform dan integrating force dari keberagaman yang dimiliki Indonesia.

“Islam Indonesia dikenal sebagai the smiling dan colorful Islam, Islam yang penuh warna dan kedamaian. Islam Indonesia sangat tidak kental dengan Arab tetapi bukan berarti tidak lebih Islami dari negara Arab. Sejumlah peneliti mengungkapkan bahwa masyarakat Muslim Indonesia lebih taat menjalankan syariat Islam, seperti puasa, shalat Jumat, dan haji dibandingkan beberapa negara di Timur Tengah,” menurut Prof. Azra.

Disebutkan, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, peran umat Islam dalam memajukan demokrasi di Indonesia sangat besar. Berbeda dengan praktik di negara-negara lain, masyarakat Muslim Indonesia tidak mengedepankan basis agama Islam sebagai identitas partai politik. Mereka justru banyak berperan di partai-partai politik yang berbasis nasional. Terbukti dalam sejumlah Pemilu yang diselenggarakan Indonesia, baik untuk anggota parlemen, kepala daerah, maupun presiden, partai-partai pemenang terbesar adalah partai yang berbasis nasional. Di partai-partai tersebut masyarakat Muslim Indonesia memiliki pengaruh besar namun tetap mengedepankan prinsip Pancasila yang meagakomodasi aspirasi seluruh bangsa termasuk dari kelompok-kelompok non-Muslim.

Isu kerja sama antar umat beragama dan pengembangan nilai-nilai multikulturalisme saat ini menjadi perhatian khusus Pemerintah Jerman.

Bahkan Kemenlu Jerman beberapa waktu lalu membentuk departemen khusus untuk menangani isu ini, terutama dalam konteks penguatan diplomasi antar pemangku kepentingan. Jerman akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pertemuan Puncak “Religion for Peace” yang akan berlangsung di Lindau, Jerman bulan Agustus mendatang.

Melalui seminar ini, Kemenlu Jerman ingin memperoleh masukan dari para peserta seminar, terutama dari narasumber Indonesia dan Azerbaijan, tentang langkah-langkah konkret yang perlu dilakukan. Stigma bahwa Islam menjadi ancaman terhadap stabilitas masyarakat, khususnya dikaitkan dengan arus migrasi dari negara-negara Timur Tengah ke Jerman, merupakan fakta yang berkembang di Jerman.

“Kita yang hadir di sini sangat paham bahwa stigma itu tidak benar dan perlu diluruskan. Namun kita perlu merumuskan apa yang perlu dilakukan untuk membantah dan memperbaiki kesalahpahaman masyarakat tersebut,” jelas Pendeta Dr. Nikodemus Schnabel dari Kemenlu Jerman yang bertindak selaku moderator seminar ini.

Sejumlah rekomendasi ditawarkan oleh peserta. Di antaranya, penguatan nilai-nilai multikulturalisme di masyarakat, penguatan dialog antar dan inter agama, dialog pemimpin agama dengan pemerintah, diseminasi tentang ajaran agama yang benar melalui pendidikan formal di sekolah dan universitas.

Selain itu penting bagi para pemimpin agama untuk merumuskan early warning mechanism untuk mengidentifikasi dan mengatasi gerakan-gerakan ‘radikalisme’ yang mengatasnamakan agama tertentu.

Sementara itu, Dubes Oegroseno menekankan pula bahwa sebenarnya KBRI Berlin sudah mulai melakukan beberapa butir rekomendasi tersebut.

“Bulan Agustus nanti, kita lakukan program Interfaith Scholarship untuk mengundang para tokoh di Jerman, untuk melihat langsung praktik Islam dan pluralisme di Indonesia. Kita juga telah melakukan pendekatan ke beberapa universitas dan Institute Teologi Islam yang ada di Jerman untuk kerja sama kurikulum Islam Indonesia dan kerja sama pelatihan para Imam. Sekitar tujuh ribu WNI yang ada di Jerman juga kita dorong untuk menjadi agen diseminasi untuk toleransi antar agama dan konsep Islam Indonesia yang moderat dan damai kepada publik di Jerman,” sebutnya.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Islam di IndonesiaIslam moderatJermanKBRI Berlinmultikulturalismetoleransi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kejaksaan India Jerat Zakir Naik dengan Pencucian Uang
Tulisan selanjutnya Anies ke Imam-imam Palestina: Temui Sebanyak Mungkin Rakyat Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?