Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Perjuangan Ibu Demi Anaknya Hafal al-Qur’an

Masykur Abu Jaulah
Terakhir diupdate: 13 Juli 2019 14:47 2:47 pm
Masykur Abu Jaulah
Dipublikasikan 13 Juli 2019 08:00
Bagikan
[Ilustrasi]
Bagikan

PAGI itu perjalanan dua jam berkendara sepeda motor terasa begitu singkat. Jarak puluhan kilometer seolah jadi begitu dekat. Rumaisha, putriku, terlihat cemas. Semalam, ia bahkan nyaris tak bisa tidur. Ada tekad yang membuncah, ingin jadi hafizhah (penghafal) al-Qur’an.

Tapi jujur, ada kekhawatiran yang menyelip, bagaimana jika ternyata tidak diterima nanti. Padahal sejak tiga puluh hari lalu, semuanya sudah dipersiapkan di sela kesibukan Ujian Nasional (UN).

Alhamdulillah, singkat kata, Rumaisha dinyatakan lulus sebagai santri di Pondok Tahfizh al-Qur’an di satu kota besar di Kalimantan Timur. Namun seiring waktu, tiba-tiba perubahan itu mulai terjadi. Rumaisha yang dulu semangat kini jadi gampang mengeluh.

“Rumaisha tidak sanggup, mau pulang saja,” rengekan itu berulang kali terdengar melalui sambungan telepon.

Sebagai ibunya, aku tentu saja kaget. Karena ia sendiri yang memutuskan lanjut sekolah ke pondok penghafal. Ia pun bersemangat saat itu. Bahkan sejak masih kelas enam SD dulu, acap kami lewat depan Pesantren Penghafal itu, Rumaisha selalu menengok kubah masjid pesantren itu hingga hilang di tikungan.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

“Pokoknya mau sekolah di situ nanti,” ucap Rumaisha, ditirukan ibunya.

Bersama suami, beberapa kali aku datang menjenguknya di asrama. Pelan-pelan kami menasihatinya. Mungkin hanya butuh adaptasi saja dengan lingkungan yang berbeda. Suasana baru, kawan dan guru baru, semuanya tentu butuh proses penyesuaian. Apalagi kini ia tinggal di asrama bersama kawan-kawan seusianya tanpa keluarga yang menemani.

Selang beberapa waktu, ternyata rengekannya tak juga berhenti. Bahkan nyaris tambah kencang. Akibatnya hafalanpun tersendat tak lagi bertambah. Rumaisha mengaku tidak mampu lagi menghafal meski setengah lembar sehari.

Sebagai ibu sekaligus guru di sebuah sekolah, aku paham betul bagaimana karakter putriku. Rumaisha dikenal prestasinya rajin berkarya untuk sekolahnya dulu. Ia pasif secara verbal namun aktif secara kognitif. “Jadi apa yang terjadi sesungguhnya?” Ah, batinku mulai gamang juga.

Alhamdulillah, satu yang kusyukuri. Para guru dan pengasuh punya perhatian baik kepada semua santri, termasuk putriku yang sedang “bermasalah”. Dari seorang ustadzah, akhirnya saya dapat sebuah nasihat berharga. Pesannya singkat tapi rasanya menohok hingga ke ulu hati.

“Rumaisha itu tidak boleh dibiarkan berjuang menghafal sendiri. Sebab pola hidup orangtua dan keluarganya saling berkaitan dan sangat berpengaruh padanya,” ujar ustadzah menasihati. “Jika orangtuanya istiqamah, niscaya anaknya dimudahkan urusannya. Tapi kalau mereka sibuk bekerja untuk dunia dan lalai beribadah, tentu itu berpengaruh kepada anaknya juga,” tambahnya lagi.

Aku cuma bisa terdiam. Segala tumpukan kesombongan ilmu dan kesibukan bekerja seolah runtuh seketika.  Terbayang hari-hari yang padat setiap waktu. Pagi mengajar, siang urus toko sampai malam. Belum lagi kesibukan lain yang menyita waktu. Tiap hari begitu terus. Entah kapan aku pernah menikmati rukuk dan sujud kepada-Nya.

Tiba di rumah, kata-kata itu masih saja terus mengiang-ngiang. Aku segera mengambil agenda pribadi dan menulis besar-besar.

“Ingat, anak saya sekarang sedang berjuang. Perbaiki dan evaluasi diri (agar) lebih baik dari sebelumnya.”

Alhamdulillah, pelan-pelan aku mulai kurangi kesibukan dan menggantinya dengan yang lebih bermanfaat. Mushaf al-Qur’an yang sebelumnya seminggu sekali, itupun kalau sempat, kini mulai dimujahadahkan untuk membaca satu juz setiap hari. Sesibuk apapun dan dalam kondisi apapun.

Tidak mudah memang, tapi inilah tekad dan pengorbananku sebagai ibu dari seorang pejuang penghafal al-Qur’an. Sebab ada tuntutan sebagai guru wali kelas dengan puluhan jam mengajar setiap pekan. Belum lagi mengelola administrasi dan urusan sekolah dan lainnya. Kadang itu semua membuatku lembur hingga tengah malam.

Apalagi saat tengah malam. Masa dimana sekujur badan terasa remuk dan butuh istirahat. Tapi bisikan itu senantiasa hadir, anakmu sedang berjuang. Ia berjihad menghafal al-Qur’an. Ia butuh doa-doa yang dimunajatkan secara khusyuk oleh orangtuanya.

“Ah, bagaimana mungkin kamu bisa tidur-tiduran sedang anakmu berjihad untuk memberimu mahkota kemuliaan kelak?” bisikan itu menghampiri kembali.

Alhamdulillah. Allah Maha Mendengar rintihan tangis hamba-Nya. Keceriaan wajah Rumaisha mulai terlihat lagi. Tak ada lagi rengekan ingin pulang ke rumah dan pindah sekolah. Hafalannya pun mulai bertambah kembali. Terakhir, kabar dari guru dan pengasuhnya, Rumaisha kini dinyatakan lulus dari setoran hafalan 20 juz al-Qur’an, sekali duduk.

Kami sebagai orangtua hanya bisa berdoa. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan berkah buat seluruh ustadz/ustadzah yang telah membantu anak kami jadi Penghafal al-Qur’an. Semoga kita semua dibahagiakan di dunia dan Akhirat dengan dengan Rahmat al-Qur’an.* Seperti diceritakan oleh orangtua santri Ma’had Tahfizhul Qur’an Usrah Mujaddidah, Balikpapan

Redaktur: Masykur Abu Jaulah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al Qur’ananakhafizhahibupenghafal al-Quranpesantrensantri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Populasi Uni Eropa Naik Meskipun Kematian Lebih Banyak Dibanding Kelahiran
Tulisan selanjutnya Prabowo dan Jokowi Akhirnya Bertemu Usai Pilpres

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang

Berita
30 Agustus 2026 17:04
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza
Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?