Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Meneladani Sosok Natsir Sebagai Seorang Ayah

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 11 Mei 2020 14:09 2:09 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 11 Mei 2020 12:15
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com |PADA tanggal 09 Mei 2020, penulis dapat barteran buku dengan Ustadz Nur Hadi Ramadhan. Buku ini tidak begitu tebal (198 halaman), tapi isinya paling tidak memberikan banyak pencerahan mengenai figur Natsir sebagai seorang ayah.

Bukunya berjudul “Aba: M. Natsir Seabagai Cahaya Keluarga” (2008). Awalnya secara global merupakan memoir yang ditulis oleh Lies (Sitti Muchliesah), putri Natsir, kemudian diberikan tambahan oleh anak-anak yang lain sehingga datanya semakin kaya.

Tak terasa, dari sejak jam 22.00, buku ini selesai dibaca bakda Shubuh sekitar jam 05.00. Secara umum banyak juga yang sudah penulis ketahui tentang cerita dalam buku ini, namun tak sediki informasi yang didapat, terutama dalam kapasitas Natsir sebagai ayah.

Pertama, Natsir yang oleh anak-anaknya dipanggil Aba, adalah sosok yang demokratis terhadap keluarga. Tidak pernah terlontar pembatasan yang ketat atau pemaksaan kehendak terhadap anak-anaknya. Meski demikian, bukan berarti beliau membebaskan mereka sesuka hati. Demokratis tapi tetap tidak kehilangan ketegasan.

Kedua, beliau tidak pernah memanjakan keluarganya. Yang ada justru, hidup mereka pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Kisah Natsir ini hampir mirip-mirip dengan kondisi Agus Salim. Hidupnya dipenuhi dengan perjuangan dan penderitaan.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Kesederhanaan menjadi ciri khasnya. Walaupun pernah menjadi Menteri Penerangan, bahkan Perdana Menteri, beliau tidak pernah aji mumpung. Hidup sederhana seperti biasa. Tidak memenfaatkan secara berlebihan fasilitas negara.

Dalam buku lain, penulis teringat dengan penuturan Kahin bahwa saat menjadi Perdana Menteri, Natsir  terlihat sangat sederhana. Memakai pakaian yang bertambal.

Bahkan, ketika menduduki posisi penting di dunia internasional (Rabithah Alam Islami), tidak pernah beliau memanfaatkan itu untuk menghajikan anak-anaknya. Semuanya disarankan kalau mau haji pakai uang sendiri.

Ketiga, perhatian beliau terhadap keselamatan keluarga sangat besar. Meski beliau sering kali menjalankan tugas ke luar kota, tapi perhatiannya tidak pernah putus melalui pengeriman surat dan lain sebagainya. Bahkan, saat genting pun yang dipikirkan adalah keselamatan keluarga. Kalau pun beliau tidak bisa menghandle langsung, biasanya dititipkan kepada kerabat atau sahabatnya. Itu tercermin sekali saat beliau ikut serta dalam PRRI.

Keempat, sebagai ayah beliau tidak memaksakan anaknya untuk menjadi seperti dirinya. Tapi memberikan keleluasan untuk mereka untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing.

Kelima,  Natsir yang selalu terlihat tegar, itu adakalanya juga tidak bisa membendung air mata. Seabagai contoh, saat Abu Hanifah (13 tahun) meninggal pada tahun 1951 kolam renang manggarai, beliau tak kuasa membendung air mata. Demikian juga ketika tidak bisa menjadi wali nikah anaknya (Lies) ketika di penjara, beliau juga berkaca-kaca. Apalagi, saat ditinggal wafat oleh istrinya Nurnahar, beliau juga tak mampu membendung linangan air mata.

Keenam, Natsir juga menjadi ayah yang sangat inspiratif. Di bagian akhir dari surat-surat beliau yang ditulis untuk anak-anaknya (15 Juli 1958-15 September 1958) di situ diceritakan secara global bagaimana perjalanan hidupnya yang sangat inspiratif dan membanggakan.

Sejak kecil sudah biasa mandiri. Tidak tinggal bersama orang tua. Hidup sederhana. Minat belajarnya sangat tinggi. Menjawab berbagai penyepelean akademis dengan prestasi yang membanggakan hingga di AMS Bandung. Hidupnya dipenuhi perjuangan.

Di Bandung inilah, bakatnya menjadi penulis terasah. Di usia semuda itu sudah bisa membuat tulisan ilmiah yang mengkritisi usaha pabrik tebu kolonial yang malah menyengsarakan pribumi.

Dalam perjalanannya memang Natsir pejuang sejati. Utamanya perjuangan demi menegakkan nilai-nilai Islam.  Kalau mau mencari jalur nyaman, ketika lulus dari AMS seharunya dia diterima di universitas mentereng Jakarta dan Belanda, tapi semua itu ditolak. Beliau lebih memilih berjuang fi sabilillah.

Terlebih ketika bertemu dengan guru yang sangat dihormati dan dicintainya: A. Hassan. Dari beliau, Natsir banyak mengambil bukan saja pelajaran agama, ketelitian, kepandaian menulis, tapi juga nilai-nilai hidup termasuk kesederhanaan.

Semua itu ditulis Natsir dalam surat dengan bahasa yang mudah dipahami dan begitu menyentuh hati. Ibaratnya, beliau bukan sekadar pandai memberi nasihat, tapi apa yang ditulis adalah saripati dalam kehidupannya yang telah dijalani selama ini.

Menariknya lagi, setelah bercerita tentang perjalanan hidupnya, di akhir surat biasanya oleh Natsir ditulis pelajaran-pelajaran penting yang beliau ambil dari pengalaman hidup. Sehingga, bisa ditangkap dengan baik oleh seluruh anak-anaknya.

Ketujuh, sebagai seorang ayah, Natsir tak jemu dalam memberikan Nasihat. Di antara contoh nasihat beliau adalah: “Dalam kehidupan kita harus tawadhu. Kehidupan seperti roda pedati. Kalau sedang di atas jangan sombong dan kalau di bawah jangan berkecil hati serta selalu sabar.”

Kedelapan, secara umum pembawaan Natsir kalem dan penuh kesederhanaan. Namun, bukan berarti beliau tidak bisa tegas. Contohnya, saat sedang mengumpulkan dana zakat untuk kepentingan pendidikan Islam yang dirintisnya, beliau bisa berbicara sangat tegas pada orang kaya yang meremehkannya.

Saat mau dipindah ke Jawa Timur (Malang) sebagai tahanan politik beliau meminta izin terlebih dahulu untuk bertemu keluarganya, ketika tidak dibolehkan beliau dengan tegas mengatakan, “Apabila tidak diizinkan bertemu keluarga, maka saya siap ke Gambir, tapi dengan senjata terhunus.” Akhirnya, beliau diizinkan bertemu keluarga.

Kesembilan, beliau bukanlah sosok pendendam. Dalam suratnya, beliau pernah bercerita bahwa dulu saat di Bandung kuasa tanah yang dulunya dengan sangat kasar menarik tagihan agak kasar, saat Natsir menjadi pejabat pernah datang ke rumahnya. Malah oleh Natsir dibantu untuk membeli karcis untuk pulang ke rumah.

Kesepuluh, Natsir dan istrinya, meski mengalami banyak ujian cobaan, tidak terlihat mengeluh. Inilah barangkali yang menyebabkan anak-anaknya merasa selalu sabar dan kuat dalam menghadapi perjuangan.

Dari kesepuluh poin itu, amat tepat jika Natsir disebut sebagai “Cahaya Keluarga”, bahkan menurut penulis bisa menjadi cahaya bagi bangsa. Kita membutuhkan sosok yang punya idelaisme tinggi, integritas mumpuni, kepedulian kepada bangsa, tak gila jabatan dan manjadi suluh bagi sekelilingnya. Semua itu –terlepas dari kelebihan dan kekurangan—ada pada pribadi Natsir.*/ Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agamaKeluargaKetua Fraksi Partai MasyumiM Natsirmasyumi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ramadhan yang Berharga
Tulisan selanjutnya 10 Adab-Adab Dzohir Membaca Al-Quran Menurut Imam Ghozali (part 1)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?