Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

“Belajar di Rumah, Bukan Belajar dari Rumah”

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 9 Juni 2020 10:26 10:26 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 9 Juni 2020 10:26
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | BERJANGKITNYA wabah akhir-akhir ini mengubah banyak hal. Salah satunya di bidang pendidikan.

Mendadak kegiatan belajar mengajar di sekolah diliburkan. Anak-anak pun harus belajar dari rumah. Tak sedikit orangtua yang merasa kewalahan menghadapi energi dan potensi anak-anak yang memang selalu luar biasa.

Namun bagi Prof Ir Daniel Mohammad Rosyid, PhD, MRINA (58 tahun), hal ini justru menarik dan menunjukkan satu hal penting.

“Sekarang bisa dilihat saat pandemi seperti ini, sebetulnya kita tak butuh sekolah,” ujarnya.

Menurut Ketua Dewan Pendidikan Jatim (2002-2008) ini, di Indonesia, sekolah hanya dipandang seperti sebuah pabrik. Muridnya sebagai bahan baku, lalu diproses dengan kurikulum dan lainnya, kemudian diukur dengan standard mutu seperti proses produksi massal. “Jadi, logika-logika industri itu masuk dalam pendidikan,” ujar Daniel, sapaan akrabnya.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Padahal menurut guru besar di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini, pendidikan itu bukan tentang kesempatan bersekolah. Yang dibutuhkan anak adalah belajar. Bukan bersekolah.

“Sekolah itu instrumen teknokratik untuk menyiapkan tenaga kerja terampil saja,” Daniel menambahkan.

Itulah sebabnya di mata Presiden Gerakan Anak Indonesia Membaca (2010-2012) ini, pendidikan kita tidak mencerdaskan bangsa. Juga tidak dirancang untuk membangun jiwa merdeka sebagai satu syarat budaya bagi bangsa yang merdeka.

“Saya lihat, sekolah sampai perguruan tinggi (PT) itu instrumen teknokratik. Bahkan, PT yang hebat senantiasa diukur dari seberapa banyak tamatannya yang bekerja di perusahaan asing. Semakin besar perusahaannya, maka dianggap semakin hebat lulusannya. Mereka yang menjadi enterpreneur, sosiopreneur, atau membangun masyarakat di pedesaan, justru nggak dianggap penting.”

Mantan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Surabaya ini lantas menawarkan gagasan deschooling. Ini adalah membangun budaya baru belajar, dari pola pendidikan terstruktur (sekolah) menjadi pola pendidikan yang lebih mempererat komunikasi orangtua dan anak (homeschooling).

Penulis buku Meneropong Pendidikan Kita ini menjelaskan gagasannya kepada Achmad Fazeri dan Bambang Subagyo dari Majalah Suara Hidayatullah. Perbincangan berlangsung di kediamannya di Perumahan Purimas, Surabaya, hari pertama Ramadhan 1441 H silam. Berikut petikannya:

Apa yang melatarbelakangi munculnya gagasan deschooling?

Pertama, pengalaman saya di Majelis Dikdasmen PW Muhammadiyah Jatim dan sebagai Ketua Ikatan Wali Murid SD Muhammadiyah 1 Pucang Surabaya. Saya mengamati murid-murid di sekolah. Kemudian saya diminta Pak Imam Oetomo (saat itu Gubernur Jatim) menjadi Ketua Dewan Pendidikan pertama (2002).

Fenomena yang sangat mencolok waktu itu adalah Ujian Nasional (UN). Kita kritik habis-habisan. Saya kira, Dewan Pendidikan Jatim yang suaranya paling keras meminta peninjauan ulang kebijakan UN tersebut.

Kedua, kasus anak yang dipaksa memberikan contekan jawaban UN kepada teman-temannya di daerah Tandes, Surabaya. Itulah puncak kasus yang timbul gara-gara UN.

Saya melihat fenomena itu dengan kacamata Ivan Illich, penulis buku Deschooling Society. Juga hasil mengikuti kajian dan diskusi dengan teman-teman Muhammadiyah, termasuk juga dengan Hidayatullah, tentang konsep keluarga atau ibu sebagai madrasah utama dan paling utama.

Kalau kita perhatikan, UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) sebetulnya mengakui peran keluarga serta masyarakat. Tapi, dalam praktiknya, UU itu dimonopoli oleh persekolahan sebagai sebuah industri.

Sekolah dipandang bisa menjadi bisnis besar. Waktu itu jika ditanya apa investasi yang menguntungkan? Jawabannya ada dua, yaitu rumah sakit dan sekolah.

Setelah saya kaji lebih lanjut, fenomena UN menunjukkan, pendidikan itu dikelola sebagai pasokan. Logika pasokan selalu dipakai dalam industri. Mereka berbicara mutu, standard, dan sebagainya.

Lantas, apa yang terjadi dan mengapa sekolah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap krisis SDM? Mengapa pula ia memilih belajar di rumah, bukan belajar dari rumah?

Masih banyak lagi penjelasan Daniel yang menguliti “kejahatan” sekolah. Semunya bisa dibaca di Majalah Suara Hidayatullah terbaru, edisi Juni 2020*

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Belajar dari Rumahbelajar di rumahcovid-19Daniel RosyidindonesiaNew NormalPendidikanuniversitas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Saat The New Normal, Marsudi Syuhud Minta Pemerintah Buka Rumah Ibadah
Tulisan selanjutnya The New Normal, Muhammadiyah: Mari Kita Jawab dengan Aksi Nyata

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?