Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Benarkah Feminisme Memperjuangkan Perempuan?

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 10 Juni 2020 05:05 5:05 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 10 Juni 2020 07:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Dr Khalif Muamar*

 

Hidayatullah.com | DALAM sejarah terdapat dua kelompok feminis  yang menyebar di kalangan umat Islam.  Pertama, feminisme yang tumbuh pada awal abad ke-20 di Iran dan Mesir. Tokohnya adalah Shirin Abadi dan Huda Sha’rawi yang hanya ingin agar kaum wanita mendapat pendidikan yang sama dengan lelaki.  Kedua, feminisme kontemporer yang terpengaruh paham sekularisme dan liberalisme.  Kelompok ini dipelopori oleh Fatima Mernissi, yang menganggap jilbab atau hijab sebagai sebuah penindasan. Kemudian Amina Wadud  yang melihat bahwa pemahaman terhadap al-Qur`an telah didominasi oleh kaum lelaki untuk kepentingan mereka.

Kelompok pertama memang benar-benar berjuang untuk kepentingan kaum wanita. Mereka tidak ingin kaumnya tertindas dan teraniaya oleh bangsanya sendiri. Kelompok ini dibentuk dengan tujuan yang murni, yaitu menentang penindasan dan diskriminasi yang hanya terkait dengan praktek, kebiasaan dan budaya sebuah bangsa dan tidak ada hubungannya dengan agama.

Kelompok ini tidak menjadi ancaman bagi Islam karena masih menghormati agama dan tradisi. Mereka dapat membedakan antara agama dengan budaya dan praktek yang tidak bersumber ajaran Islam. Mereka sama sekali tidak punya agenda mempermasalahkan agama, hukum-hukum yang bersifat tetap dan disepakati.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Adapun kelompok feminis kedua dikenal sebagai kelompok  yang berusaha menafsirkan Islam agar sesuai dengan ideologi feminisme yang mereka pegang. Mereka ingin agar hukum Islam dirombak (deconstruct), karena dianggap telah menindas kaum wanita. Mereka menjadikan nilai-nilai modern sebagai ukuran dan memaksakan Islam agar tunduk terhadap nilai-nilai tersebut. Mereka tidak mau menerima tradisi Islam, terutama fikih dan tafsirnya. Karya-karya ulama terdahulu dinilai  bias gender,  misogynist, karena lebih menguntungkan kaum laki-laki.

Sepak terjang kelompok ini sebenarnya memiliki agenda tersendiri di luar pembelaannya terhadap kaum wanita. Mereka hanya menjadikan hak kaum wanita sebagai alasan untuk menyebarkan pemikiran liberalisme.

Jika mereka ingin memperjuangkan kepentingan wanita, seharusnya fokus pada hal-hal yang melemahkan kaum wanita dan sebab terjadinya penindasan dan diskriminasi terhadap kaum wanita. Mereka semestinya memberi penekanan pada pendidikan yang dapat mencerdaskan kaum hawa. Juga memberi kesadaran dan pemahaman yang dapat mengangkat kaum wanita  dan menjauhkan mereka dari korban penindasan.

Namun faktanya, mereka tidak melakukan semua ini karena  tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jika mereka ikhlas memperjuangkan hak-hak wanita, seharusnya mengkaji secara mendalam mengapa terjadi penindasan terhadap kaum wanita, untuk kemudian melakukan perbaikan (islah).  Namun faktanya, hal itu tidak mereka lakukan.

Terjadinya penindasan itu bukan secara kebetulan dan juga bukan karena pertarungan antara kelas, sebagaimana dikembangkan dalam falsafah Marxsisme. Manusia yang melakukan penindasan adalah manusia yang rusak moralnya dan tidak terdidik. Dan kerusakan itu diakibatkan oleh world view yang keliru.  Sehingga falsafah yang berlaku yaitu menuhankan manusia dan memanusiakan Tuhan.

Hakikatnya, penindasan tidak terbatas kepada kaum wanita. Ia berlaku pada  semua golongan atau lapisan masyarakat yang lemah. Golongan bawah dan lemah, apakah itu rakyat miskin, pekerja kasar, wanita, anak-anak, selalu menjadi target penindasan golongan atas  dan golongan yang lebih kuat.

Namun ironisnya, tidak ada gerakan secara massal yang membela hak golongan bawah. Yang ada hanyalah persatuan-persatuan pekerja yang sama sekali tidak membawa isu-isu agama, falsafah dan nilai-nilai modern ke dalam perbahasan mereka. Mereka hanya mengingatkan penguasa dan kelompok penguasa terhadap pentingnya hak mereka dijaga dan diberikan perhatian.

Kita juga tidak melihat gerakan yang membela anak-anak terbuang, anak-anak putus  sekolah, yang dilakukan oleh kelompok feminis kontemporer yang mengaku memperjuangkan wanita.

Yang ada adalah inisitatif dari pemerintah dan masyarakat yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan ideologi dan faham liberalisme dan dana yang besar dari Barat.

Kepentingan Barat vs Islam

Barat, dengan sekularisme dan liberalismenya melihat Islam sebagai ancaman, jika tidak “dijinakkan”. Sekurang-kurangnya pesan ini jelas dalam tulisan-tulisan Richard Nixon (Seize the Moment), Cheryl Benard (Civil Democratic Islam), Bernard Lewiss (What Went Wrong? dan Crisis in Islam) dan Deniel Pipes (Fixing Islam). 

Yang menjadi musuh dan ancaman bagi Barat, jelas bukan  negara-negara Islam yang selalu tunduk dengan kepentingan mereka. Musuh Barat adalah gerakan Islam yang berusaha mengukuhkan identitas keislaman dan memberi kesadaran serta mendidik umat Islam agar tidak menjadi umat yang lemah dan ditindas. Mereka inilah kelompok yang menentang penjajahan pemikiran dan penyebaran virus sekularisme dan liberalisme.

Jika melihat agenda Barat yang masuk dalam gerakan feminisme di dunia Islam, jelas bahwa gerakan ini tidak murni memperjuangkan kaum wanita dan berniat baik kepada umat Islam.

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa kelompok ini tidak jujur dalam menentang penindasan. Dengan menggunakan kerangka berpikir liberalisme, mereka hanya melihat masalah-masalah tertentu saja sebagai penindasan. Penindasan hanya dipilih yang ada hubungannya dengan agama dan tradisi. Dalam hal ini Islam yang selalu menjadi sasaran. Ini karena Islam amat tegas terhadap penyebaran nilai-nilai modern.

Islam bersikap seperti itu karena pada dasarnya dunia modern ala Barat itu penuh dengan penindasan. Pornografi, pelacuran, dan iklan-iklan banyak menggunakan kaum wanita sebagai alat untuk mengais keuntungan. Eksploitasi kaum wanita dalam Islam merupakan bentuk penindasan. Sebab, wanita dianggap sebagai sebuah komoditi bukan sebagai manusia yang terhormat.

Islam tidak menentang apa pun usaha yang dilakukan manusia untuk melepaskan diri dari  penindasan karena ia musuh Islam. Syaratnya, yang dianggap penindasan itu betul-betul penindasan.

Islam sebagai agama yang murni dari Allah, telah memberikan panduan kepada manusia tentang bagaimana menjalani kehidupan yang baik di muka bumi ini.*

 

Peniliti pada Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), tulisan ini pernah dimuat di Majalah Hidayatullah edisi Juni 2010

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:EmansipasiFeminimismegenderperempuan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Memandang Orang Saleh Bisa Melembutkan Hati
Tulisan selanjutnya KAMMI Desak Jokowi Pecat 10 Menteri yang Dinilai Gagal Tangani Pandemi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?