Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Benarkah Pendidikan Kita Tertinggal 128 Tahun

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 15 Juni 2020 11:00 11:00 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 15 Juni 2020 10:26
Bagikan
[Ilustrasi]
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

(adianhusaini.id)

 

Hidayatullah.com | ADA satu video di channel youtube yang cukup viral menyatakan, bahwa pendidikan kita tertinggal 128 tahun dari negara-negara maju. Laman Kominfo.go.id juga masih menyimpan berita pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengakui bahwa metode pendidikan di Indonesia sudah terlalu lama monoton dan terjebak pada rutinitas.

Kalau tidak dirombak atau diubah secara total, menurut Presiden, akan membutuhkan waktu 128 tahun untuk bisa menyamai negara-negara maju saat ini sebagaimana ditulis oleh seorang profesor dari Harvard. “Itu pun di Jakarta,” kata Presiden menanggapi ungkapan seorang peserta dari Ruang Guru, yang hadir dalam acara Peringatan Hari Sumpah Pemuda, di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/10/2017).

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Itu memang berita lama. Saya baru terpikir menulis artikel setelah berita ini dikirim ke dalam satu group WA para praktisi pendidikan beberapa hari lalu. Berita-berita dan – katanya – penelitian tentang “kemunduran” pendidikan Indonesia begitu banyak beredar. Uniknya, begitu banyak praktisi pendidikan bahkan pejabat pemerintah yang membenarkan begitu saja, bahwa pendidikan kita memang jeblok, hancur, terbelakang, dan sebagainya!

Beberapa hari sebelum acara Presiden Jokowi di Istana Bogor itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkap Laporan Bank Dunia, bahwa Indonesia butuh waktu 45 tahun untuk mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan dalam hal membaca. Sementara untuk ilmu pengetahuan, Indonesia butuh waktu sampai dengan 75 tahun.

“Hasilnya itu dari WDR (World Development Report) kita itu Indonesia untuk mengejar ketertinggalan pendidikan agar sama dengan OECD itu dibutuhkan 45 tahun, kalau sistem pendidikannya masih kayak gini,” papar Sri Mulyani.

Tidak lama setelah itu, keluar lagi laporan ranking PISA (Programme for International Student Assessment), tahun 2018, yang menyatakan, bahwa “Ranking PISA Indonesia Turun”. Diberitakan jawapos.com, bahwa nilai indikator kemampuan membaca (reading), matematika (mathematics), dan ilmu pengetahuan (science) siswa Indonesia berada di urutan ke-72 dari 77 negara yang diteliti. Pemeringkatan PISA 2018 secara resmi diliris OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) Selasa (3/12/2019).

PISA menempatkan China di urutan teratas, Menyusul Singapura, Macao, Hongkong, Estonia, Kanada, Finlandia, dan seterusnya.  Berdasarkan ranking PISA itu, ada yang menulis: “Indonesia berada di papan bawah peringkat pendidikan dunia 2018 yang disusun International Student Assessment (PISA). Posisi Indonesia “tertinggal” dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei.”

*****

Tentu, kita harus bersikap adil dalam memahami data atau analisis tentang “kemunduran” atau “keterbelakangan” pendidikan di Indonesia. Kita harus menerima kenyataan bahwa memang ada begitu banyak kelemahan dalam dunia pendidikan kita dalam bidang matematika, sains, dan juga daya baca.

Dan itu bukanlah hal yang aneh. Sejumlah survei juga mengungkapkan kelemahan banyak guru-guru kita dalam mengajar. Budaya dan daya baca pun diakui cukup rendah dibandingkan banyak negara lain. Kelemahan di bidang-bidang ini perlu diperbaiki.

Akan tetapi, menerima pernyataan bahwa “Pendidikan Indonesia Tertinggal puluhan atau ratusan tahun” tentulah kesimpulan yang terburu-buru, tidak tepat dan berlebihan. Kegembiraan berlebihan dalam mencela diri sendiri bisa menyebabkan kita berputus asa dalam membangun dunia pendidikan kita. Ada tiga hal yang perlu kita telaah.

Pertama, dari aspek penelitian. Matematika, sains, dan daya baca tidak mewakili semua aspek pendidikan. Aspek terpenting dari pendidikan adalah “sikap” atau “karakter” keilmuan.  Banyak orang mencapai sukses kehidupan meskipun nilai matematika atau IPA-nya di sekolah biasa-biasa saja. Hanya saja, budaya dan daya baca memang hal yang sangat mendasar untuk membangun kreativitas murid.

Kedua, dari aspek keterwakilan. Yang disebut pendidikan dalam penelitian-penelitian itu hanyalah sekolah formal. Padahal,  di luar sekolah formal, ada pesantren-pesantren yang jumlahnya lebih dari 27.000, dengan jumlah santri mencapai jutaan orang. Masih banyak pesantren punya tradisi ilmu dan sistem pendidikan yang mandiri.

Ketiga, dari aspek kejiwaan bangsa. Untuk membangun Indonesia menjadi bangsa besar, kita perlu membangun rasa bangga sebagai bangsa. Berita-berita yang terlalu berlebihan dalam mengeksploitasi kelemahan kita bisa memunculkan sikap rendah diri, seolah-olah kita tidak punya sesuatu yang bisa kita banggakan dalam bidang pendidikan. Padahal, kita punya begitu banyak prestasi dan keunggulan dalam pendidikan. Bahkan dalam bidang sains dan matematika sekali pun.

Karena itulah, pemerintah perlu kembali ke jati diri pendidikan kita, sebagaimana diamanahkan dalam UUD 1945. Bahwa, pendidikan kita bertujuan membentuk manusia beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Aspek iman, taqwa, dan akhlak mulia itulah kunci kebangkitan pendidikan.

Murid yang berakhlak mulia pasti akan bersikap baik terhadap guru, orang tua, sesama teman, dan juga mencintai ilmu. Mereka adalah murid-murid yang jujur, pekerja keras, rendah hati, pemberani, tidak malas (kasal), tidak lemah (‘ajz), tidak sombong, tidak penakut, dan  peduli pada sesama serta lingkungan sekitarnya.

Jadi, berita-berita tentang kemunduran atau keterbelakangan pendidikan kita, perlu disikapi dengan hati-hati dan kritis. Kita mengakui banyak kelemahan dalam pendidikan kita, tetapi kita juga punya potensi dan nilai-nilai keunggulan yang khas, yang seharusnya kita kembangkan.

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu merasa hina dan janganlah kamu berduka cita, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi  derajatnya, jika kami beriman.” (QS Ali Imran (3): 139).

Keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia, inilah yang seharusnya kita prioritaskan dalam pendidikan. Sebab, itulah jalan kebangkitan dan kebahagiaan yang hakiki. Dan itulah yang justru tidak dimiliki oleh banyak negara yang dikatakan maju pendidikannya! Wallahu A’lam bish-shawab.*

 

Guru Pesantren Attaqwa Depok

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:128 TahunindonesiaPendidikanpesantrentarbiyahTertinggal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya India Gunakan Lagi Gerbong Kereta Sebagai Ruang Perawatan Covid-19
Tulisan selanjutnya PKS Kembali Tegaskan Penjajahan Zionis Terhadap Palestina Harus Dihentikan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?