Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Rahasia Penting Penyusunan dan Perkembangan Hadits dari Abad ke Abad

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 20 Juni 2020 11:12 11:12 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 20 Juni 2020 12:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | SEBELUM Sebelum melangkah lebih jauh ke pembahasan rahasia, alangkah baiknya kita bahas kata  sunnah  atau hadits lebih dahulu supaya faham dengan benar. Sunnah  secara bahasa yaitu: jalan, tata cara, ataupun prilaku. Sunnah  juga bisa diartikan sebagai hadits.

Sedangkan sunnah  menurut istilah memiliki banyak makna, diantaranya menurut para ulama hadits bahwa sunnah  adalah; segala sesuatu yang bersumber dari  Rasulullah  baik itu dari  perkataanya, perbuatannya, persetujuannya dan dari sifatnya. (dalam Fathul Mugits, Asy Syakhowi (6/1)

Kebanyakan dari kita mengira bahwa yang pertama kali menyusun/menulis haditas atau sunnah  adalah Ibnu Syihab Az-zuhri yang wafat pada tahun 125 H tapi nyatanya bahwa penyusunan sunnah  itu telah dimulai di zaman nabi oleh para sahabat walaupun ada perselisihan di dalamnya yang menyatakan bahwa dilarangnya penyusunan sunnah  di zaman nabi. Yang berpendapat bahwa dilarangnya menyusun/ menulis sunnah  dengan berlandaskan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id Al-khudry di Shahih Muslim no 3004.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَكْتُبُوا عَنِّي، وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ، وَحَدِّثُوا عَنِّي وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ قَالَ هَمَّامٌ: أَحْسَبُهُ قَالَ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (رواه مسلم 3004).

Dari Said Al-Khudry, Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian menulis dariku, barangsiapa menulis dariku selain Al-Qur’an hendaklah dihapus dan ceritakanlah dariku dan tidak berdosa. Barangsiapa berdusta atas nama ku -Hammam berkata, dengan sengaja maka hendaklah menyiapkan tempatnya di Neraka”.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Sedangkan yang berpendapat membolehkan menyusn/menulis sunnah  berdasrkan hadits Abu Hurairah Rodiyallohu’anhu yang mana waktu itu Rasulullah ﷺ berkhutbah di hari pembebasan kota Makkah, beliau bersabda: Tulislah dari Abu Syaah.

قال: خطب رسول الله صلى الله عليه وسلم في فتح مكة….إلى أن قال: “اكتبوا لأبي شاة” (dalam Taqyidul Ilm, Hal 58).

Kesimpulannya jumhur ulama menyatakan bahwa penyusunan hadits sudah terjadi di zaman nabi meskipun waktu itu belum tersusun rapi tulisan melainkan dituliskan pada pelepah kurma, batu, atau pada tulang benulang dan sejenisnya. Sebagaimana contoh dari para sahabat yang telah menuliskan/menyusun sunnah  pada waktu itu sebagai berikut:

Pertama, Jabir Rodiyallohu’anhu telah menulis Sebagian hadits dan mengirimkannya kepada Aamir Bin Sa’ad bin Abi Waqqas Radiallohu’anhu. (Sohih Muslim, Kitab al Imaroh)

Kedua, telah menulis Zaid bin Arqom Rodiyallohu’anhu beberapa hadits yang kemudian diberikan kepada Anas bin Malik Rodiyallohu’anhu. (Tahdiz At-Tahdzib, Ibnu Hajar, 394/3)

Adapun di Abad ke 2 hijriah penyusunan sunnah  dilakukan para Tabi’in dan Tabautaabi’in. Di abad ini penyusunan sunnah  mulai berkembang dan rapi dari yang awalnya hanya sekedar menulis tanpa beraturan. Maka muncul-lah perbedaan antara penyusunan yang hanya sekedar mengumpulkan sunnah  dengan penyusunan yang sudah tertata tertib yang mengandung bab per bab.

Sebagai contoh ulama yang menyusun/menulis sunnnah di abad ke 2 hijriah ini diantaranya; Imam Malik (93-179 H) di Madinah menyusun kitab Al Muwatho’, Imam Asy syafi’i (150-204 H) dengan kitabnya Ar risalah dan Al Umm.

Kemudian masuk ke Abad 3 hijriah, yang mana di abad ini semakin berkembang dan muncul lah kitab kitab masanid/musnad, seperti Musnad Imam Ahmad, Kutubussittah (kitab-kitab sohih dan sunan) seperti kitab Sahih Bukhori dan Muslim, Sunan At tirmidzy, Sunan Abu daud, dan kitab ikhtilaf hadits, seperti kitab Ikhtilaful Hadits karya Imam Syafi’i. Maka pantas lah di abad ini disebut abad keemasan di Islam khusunya dalam hal penyusunan dan penulisan hadits/sunnah.

Di abad ini pula banyak ulama yang bermunculan, ulama jarh wa ta’dil, berkharismatik, huffadz (penghafal al-Quran), para imam seperti; Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rohuyah, Ali bin Almadini, Yahya bin Ma’in dll.

Masuk ke Abad 4 dan 5. Di abad ini kita bisa temukan bagaimana para ulama sangat peduli, berkhidmat, menjaga dan kreatif dalam penyusunan hadits yang mana keluar karya karya baru, seperti kitab Mustholah Hadits, seperti kitab Mustadrok Al Hakim (321-405 H), kitab Mustakhrojat dan kitab Ma’ajim.

Dari abad setelah 5 sampai sekarang kita ketahui bahwa para ulama sangat menjaga, peduli terhadap hadits/sunnah  dengan cara menyusun, menulis riwayat ataupun diroyat, mengartikan sampai mensyarahnya.

Diantara hasil karya ulama untuk menjaga sunnah Nabawiyah di abad 6 adalah kitab Al Maudhu’at Ibnu Al Jauzi (510-597 H), kitab ini merupakan kitab yang mengumpulkan hadits-hadits maudhu/palsu/dusta dengan menjelaskan letak kepalsuannya. Juga kitab ahkam/ hukum hukum dalam syariat Iislam seperti kitab ‘Umdatul Ahkam karya Imam Abdul Ghani Al Maqdisi (541-600 H).

Di abad ke 7 kitab Ghorib Hadits yaitu kitab yang berisikan kalimat kalimat eksentrik/aneh/sulit dipahami, seperti kitab An-Nihayah Fi Ghoribil hadits karya Ibn Asir (544-606 H). Ada kitab Takhrij Ibnu Hajr Al Asqolani di abad ke 9 dengan kitabnya At-Talkhis Al Habir, juga kitab Zawaaid; seperti kitab Ghoyatul Maqsud fi Zawaaid Al Musnad Imam Ahmad, di abad selanjutnya, yang terakhir kitab Aljawami’ seperti kitab; Jam’ul Jawaami’ (Al-Jaami Al Kabir) karya Al hafidz Jalaluddin Asy-syuthi’(849-911 H). (Tadwin As-Sunnah, Dr Muhammad Bin Mathor Az-Zahrony).

Mudah-mudahan dengan kita mengetahui penyusunan & perkembangan hadits ini, kita bisa lebih menghargai dan memuliakannya karya-karya ulama yang mana tidak lain dengan merekalah sunnah  ini terjaga sampai detik ini. Juga diharapakan kita bisa meniru berkarya para ulama salaf dahulu dan bisa mengikutinya dalam melaksanakan islam yang kaffah.*/Muhammad Abdul Aziz,  Fakultas Hadits di Islamic University of Madinah

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:haditskitab haditspenyusunan haditssunnah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Industry 0.0
Tulisan selanjutnya Dr Masri Sitanggang: Tuntut Pengusul di Balik RUU HIP

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?