Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Hagia Sophia: Pusat Perhatian dari Sisa Penaklukan Masa Lalu

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 3 Juli 2020 15:29 3:29 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 3 Juli 2020 15:29
Bagikan
Masjid Haqia Sophia - Istanbul
Bagikan

Hidayatullah.com | PADA Jumat 29 Mei menandai peringatan 567 tahun peringatan Penaklukan Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium, oleh pasukan militer Kekhalifahan Utsmaniyyah (Ottoman) di bawah kepemimpinan Sultan Mehmed II. Di Istanbul, 29 Mei lalu menjadi sebuah perayaan yang disponsori negara, dengan pertunjukan cahaya dan kembang api serta pertunjukan ulang sejarah menampilkan marching band militer tradisional (mehteran) dan para aktor yang mengenakan kostum.

Skala dan status peringatan tersebut telah semakin meningkat selama beberapa tahun terakhir.  Sebelumnya, acara peringatan dilangsungkan di dalam sebuah stadion atau, dalam beberapa tahun terakhir, di Yenikapı Meydanı, tempat luas, lahan berbentuk setengah lingkaran di sepanjang pantai Marmara, yang dibangun antara tahun 2012 dan 2014 di bawah kepemimpinan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dan dirancang untuk menjadi tuan rumah pertunjukan publik yang spektakuler semacam ini.

Tahun ini, untuk pertama kalinya, titik fokus peringatan dipindahkan ke Masjid Hagia Sophia (Ayasofya dalam bahasa Turki), bangunan yang awalnya dibangun sebagai katedral Bizantium pada tahun 537, diubah menjadi masjid setelah penaklukan Utsmaniyyah di Istanbul pada 29 Mei 1453. Kemudian Hagia Sophia menjadi museum sekuler pada 1935 di bawah pendiri sekulerisme Turki,  Mustafa Kemal Ataturk.

Presiden Erdogan menyampaikan pidato – direkam dari suatu tempat namun disiarkan langsung dari layar yang dipasang di dalamnya – dan pembacaan ‘Surah Kemenangan’ (Surah al-Fath) disiarkan melalui menara kuno yang biasanya sunyi. Kantor-kantor berita di Yunani dan di negara Barat dengan cepat mencela acara tersebut sebagai provokasi. Pengamat di kedua sisi perdebatan melihatnya sebagai awal – langkah lain untuk mewujudkan janji Erdogan untuk mengembalikan struktur bangunan tersebut menjadi masjid yang berfungsi.

Arti penting 29 Mei 1453 dan bias implisit pengakuannya tercermin dalam istilah yang digunakan untuk menggambarkannya. Kebanyakan bahasa Eropa mencirikannya, hampir penuh kerinduan, sebagai sebuah kejatuhan pasif.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Dalam bahasa Turki, itu adalah Fetih (penaklukan) dan diingat seperti itu. Bagaimanapun juga, itu adalah Fetih yang membuat Sultan Mehmed mendapat julukan Al-Fatih (Sang Penakluk), setelah memenuhi ramalah Nabi Muhammad ﷺ: “Sungguh, Konstantinopel akan dibebaskan,; sebaik-baik penakluk adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.”

Bagi sejarawan Ottoman, seperti penulis sejarah abad ke-15 Tursun Beg, penaklukan itu mencontohkan betapa shalehnya Sultan Mehmed. Namun tidak ada bukti bahwa peringatan itu diperingati dengan cara tertentu. Juga tidak dipromosikan secara luas pada dekade-dekade awal Republik Turki, yang reformasi sosialnya sekuler dan kebarat-baratan berusaha untuk menonjolkan pecahnya negara muda itu dengan Kekhalifahan Utsmaniyyah.

Memang, perayaan kontemporer 29 Mei dapat dilacak hingga pertengahan 1990-an, bersamaan dengan masa jabatan Erdogan sebagai wali kota Istanbul. Awalnya diselenggarakan oleh Partai Kesejahteraan (RP) sayap kanan, organisasi politik Islam yang sejak itu dilarang oleh pengadilan tinggi Turki karena melanggar pemisahan agama dan negara (prinsip sekuler). Partai tersebut mendorong ditentukannya tanggal 29 karena alasan agama polemik, dan dari asal-usul inilah perayaan telah berevolusi menjadi bentuk mereka saat ini.

Acara peringatan Penaklukan Konstantinopel ditutup dengan menyoroti bagaimana penaklukan mengubah kota itu dari ibukota kerajaan Kristen menjadi pusat kekhalifahan Islam. Satu gambar foto menunjukkan Hagia Sophia; sepotong demi sepotong, dalam hitungan detik, menara-menaranya secara ajaib dibangun.

Pembaruan kota, sebagai tindakan yang didasarkan kesalehan agama ditekankan Erdogan dalam pidatonya: “Penaklukan bukanlah simbol kehancuran tetapi pembangunan, bukan pemusnahan tetapi kebangkitan […] Kami tidak hanya menaklukkan kota ini tetapi juga menghabiskan waktu berabad-abad menambah keindahannya […] Kami menghiasi setiap lingkungannya dengan pola yang berbeda; dengan kubah, menara, air mancur, dan kebun kami. Kami menyalakan tujuh lilin di tujuh bukitnya, menghiasi tenggorokannya [Bosphorus] dengan kalung […].’

Erdogan menghubungkan proyek pembangunan relijius dengan yang direalisasikan di bawah pemerintahannya sendiri, seperti pemulihan sistematis utama masjid kota itu  dan konstruksi kontroversial dari masjid baru di ruang yang dianggap tanah suci bagi Turki sekuler, Taksim Square.

Pemulihan monumen-monumen Islam kota ini bertepatan dengan menjelang seratus tahun berdirinya Republik Turki pada tahun 2023. Pemandangan Hagia Sophia hampir meledak di balik tembok yang berukuran sangat kecil itu seperti metafora yang kuat untuk permainan akhir dari kampanye restorasi – ada satu hal besar yang harus dilakukan dan sangat sedikit yang menghalangi. Erdogan mengakhiri pidatonya sebagai berikut: “Saya mengucapkan terima kasih kepada semua saudara saya yang tidak berpaling dari Hagia Sophia, kenang-kenangan penaklukan, pada hari yang penuh makna ini.”*/artikel ditulis John Lansdowne di laman apollo-magazine.com

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kekaisaran BizantiumKhilafah UtsmaniyyahKonstantinopelMasjjid Haqia SophiaOttomanTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Polisi Malaysia: Penjara Bagi Orang yang Tidak Menunaikan Kewajiban Tes Kedua Covid-19
Tulisan selanjutnya Survei Kepuasan Penanganan Covid-19: Pemprov DKI Jakarta Tertinggi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Berita
4 Juni 2026 14:01
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?