Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Mengenang Surat-surat Bung Hatta Saat Indonesia Dilanda Krisis Ekonomi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Agustus 2020 16:31 4:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Agustus 2020 16:31
Bagikan
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

(www.adianhusaini.id)

 

Hidayatullah.com | DI era sekitar tahun 1960-an, Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi. Ketika itulah Proklamator Bung Hatta mengirimkan sejumlah surat kepada Presiden Soekano. Bung Hatta sendiri sudah tidak aktif di pemerintahan. Sebagai contoh, kita simak surat Bung Hatta tertanggal 17 Juni 1963:

“Maafkanlah kalau PYM yang baru saja pulang dari beristirahat di luar negeri sudah menerima surat semacam ini yang mengutarakan masalah-masalah yang sangat penting. Sebagai seorang yang telah berpuluh-puluh tahun berjuang dan banyak berkorban untuk mencapai Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, saya merasa wajib menulis surat ini. Hati saya cemas melihat kemunduran dalam berbagai bidang.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Pertama, kemerosotan penghidupan rakyat, yang belum ada taranya dalam sejarah Indonesia, lebih dahsyat daripada masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang. Harga beras yang melompat-lompat dari harga Rp 4,5 sampai Rp 60,- @ Rp 70,- sekilo dalam waktu yang singkat adalah suatu bukti yang nyata.

Kita selalu mendengung-dengungkan sosialisme, yang menjadi tujuan, tetapi tindakan-tindakan yang diambil pemerintah bertentangan dengan itu. Pendapatan rakyat makin ditekan, apalagi dengan politik inflasi yang dipercepat, tetapi beban rakyat makin diperbesar. Harga-harga diliberalisasikan, tarif-tarif bagi keperluan rakyat yang terpenting seperti air, listrik dan transport dinaikkan dengan berlipat ganda, sudah dua kali sekurang-kurangnya terjadi dalam pemerintahan langsung dipimpin oleh Paduka Yang Mulia.

Di segala negeri sosialis dan negeri-negeri yang terkenal seperti welfare state, tarif pemakaian barang-barang yang terpenting buat hidup sengaja direndahkan serendah-rendahnya, sehingga jumlahnya hanya satu fraksi kecil saja dari pendapatan sebulan. Di Swedia pernah saya lihat, bahwa seorang tukang ahli yang mendapat upah Kr 6,- sejam, ongkos listrik rumahnya sebulan hanya Kr 10,- sedangkan air gratis. Di sini ada orang yang sekarang harus membayar harga pemakaian air, listrik dan gas lebih dari 45% — empat puluh lima persen – dari pendapatannya sebulan yang diperolehnya dari pemerintah, sedangkan pendapatannya itu jauh dari mencukupi untuk hidup.

Tetapi, bukan kecemasan hati tentang kemerosotan ekonomi ini yang menjadi tujuan surat ini. Catatan pendek di atas hanya saya sebut untuk mengingatkan saja. Bukan pula kecemasan hati saya tentang pertentangan sosial yang bertambah tajam dalam masyarakat yang akan saya paparkan di sini. Cukuplah saya sebut sepintas lalu kemerosotan moral, terutama yang berupa catut dan korupsi yang sudah menghinggapi seluruh tubuh administrasi negara, cq. pemangku-pemangku dan pegawai negeri.

Gaji yang jauh daripada cukup, yang hanya cukup untuk hidup seminggu, paling lama sepuluh hari, mendorong mereka mau tidak mau melakukan hal itu. Pertentangan kelas sosial semakin hebat.

Tujuan kita sosialisme, tetapi mis-management Pemerintah dalam hal ekonomi menimbulkan satu golongan kapitalis baru yang memandang dirinya “orang elite”, yang hidupnya mewah dan menganggap dirinya kelas yang diperlukan benar oleh orang-orang pemerintah di pusat dan daerah. Pertentangan kaya dan miskin sangat menyolok mata, belum pernah setajam sekarang ini.

Yang tragisnya lagi ialah, bahwa pembentukan kelas elite itu, yang tak tahu diri lagi, sebagian besar sejalan dengan perbedaan rasial. Keadaan ini tidak saja mencemoohkan sosialisme, tetapi juga menghambat jalannya proses persatuan bangsa. Tetapi juga catatan ini hanya sebagai peringatan, supaya diperhatikan.”

***

Itulah sebagian isi surat Bung Hatta bertanggal 17 Juni 1963. Tampak, Bung Hatta resah dengan krisis ekonomi, korupsi, dan juga pertentangan sosial yang tajam di tengah masyarakat. Dua tahun kemudian, pada 1 Desember 1965, Bung Hatta mengirim surat lagi kepada Bung Karno. Lagi-lagi, Bung Hatta mengingatkan kebijakan pemerintah yang dinilainya salah dalam soal ekonomi.

“Bukan suatu usaha ke jurusan mengekang inflasi yang kita lihat sekarang, melainkan masyarakat dikejutkan oleh suatu revolusi harga yang dilancarkan pemerintah sendiri. Harga bensin dinaikkan dari Rp 4,- seliter menjadi Rp 250,- yaitu 6250%. Harga minyak tanah naik dari Rp 15,- sampai Rp 150 seliter. Tarif gas dan demikian juga tariff listrik, naik kira-kira 20 kali lipat.

Tidakkah melipatgandakan kenaikan harga itu pada segolongan barang akan menimbulkan proses yang bertalian ke jurusan semua barang. Harga beras sudah meningkat dalam waktu seminggu dari Rp 1.000,- menjadi Rp 3.000,-. Tarif oplet, bus, truk dan becak, sementara naik dua kali lipat. Dengan sendirinya harga sayur-mayur yang diangkut dengan truk dari jauh dan harga barang lainnya meningkat pula.

Bung menghendaki hilangnya inflasi – atau lebih baik dikatakan mengekang harga – tetapi pemerintah Bung menimbulkan revolusi harga, memperhebat inflasi, yang sangat menekan penghidupan rakyat.”

Demikian petikan surat keprihatinan Bung Hatta akan kondisi perekonomian masyarakat di akhir tahun 1965 tersebut.

***

Bulan ini, Agustus 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa perekonomian Indonesia terkontraksi 5,32% pada kuartal II 2020. Artinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32%. Pada kuartal I tahun 1999, ekonomi Indonesia minus 6,13%.

Untuk menghadapi kondisi kritis, kita berharap, semua pihak, terutama pemerintah mau belajar dari sejarah. Tujuan bernegara kita adalah mewujudkan masyarakat yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Pada saat seperti ini kita berharap, segenap warga bangsa bekerjasama mengatasi masalah yang tidak ringan.

Di tengah musibah Covid-19 yang sudah berangsung selama berbulan-bulan, krisis ekonomi mulai membayangi. Semoga negeri kita selamat dari musibah yang lebih berat lagi. Saatnya berpikir serius, lalu introspeksi, dan bertobat dari perbuatan serta kebijakan yang salah. Semoga Allah melindungi kita semua! Amin.* / Depok, 6 Agustus 2020

Penulis adalah pengasuh Pesantren Attaqwa Depok (ATCO)

NB. Surat-surat Bung Hatta kepada Bung Karno bisa dibaca lebih lengkap dalam buku “Demokrasi Kita” karya Bung Hatta (Bandung: Sega Arsy, 2009).

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bung HattaekonomiindonesiainflasikrisisMoh. HattaOrde LamaresesisejarahSoekarno
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya taliban Amerika Serikat akan Kurangi Jumlah Pasukan di Afghanistan Hingga <5.000
Tulisan selanjutnya facebook menyensor konten palestina Facebook Tolak Permintaan untuk Membuka Data Aparat Rezim Myanmar Terkait Genosida

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?