Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Guru Sederhana dan Ikhlas justru Memunculkan Anak-anak Beradab

Ahmad
Terakhir diupdate: 6 April 2014 22:53 10:53 pm
Ahmad
Dipublikasikan 6 April 2014 22:53
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Memisahkan antara pendidikan umum dengan agama, hanya akan menghasilkan kerusakan akhlak. Demikian disampaikan Dr Adian Husaini, Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun, Bogor.

Menurutnya, membuat kurikulum yang tidak memisahkan antara pendidikan umum dengan agama, masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama kaum Muslim.

Dalam acara “Bedah Jurnal ISLAMIA” dan diskusi Dwi Pekanan Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), bertema “Isu-isu Pendidikan Antara Problematika dan Konseptualisasi”  itu Adian juga mengatakan  bahwa integrasi ilmu dunia dan akhirat justru akan menghasilkan manusia yang beradab.

Sebab ilmu yang diperolehnya digunakan untuk memakmurkan agamanya dan menempatkan Allah dan Rasulnya di tempat tertinggi.
“Anda lulusan kedokteran hewan, tapi mengapa Anda saat ini berkecimpung pada pendidikan Islam?”

Pertanyaan seperti itu, menurutnya pernah ditanyakan pada alumni Fakultas Kedokteran Hewan IPB  dalam suatu kesempatan.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Mendapat pertanyaan itu, dengan santai Adian menjawab, “Pertanyaan Anda sendiri sudah salah bahwa pendidikan Islam harus dibedakan dengan ilmu umum,”jawabnya tandas.

Keprihatinan terhadap kurikulum juga tercermin pada penyebutan istilah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Peraih gelar Doktor bidang Peradaban Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) itu itu pernah menemukan kurikulum di sebuah pondok pesantren (Ponpes) yang masih memisahkan keduanya.

“Baru disebut KBM kalau sudah membahas pelajaran umum jam 7 pagi. Tahajud berjamaah, tadarus al-Quran yang dilakukan sebelumnya, tidak disebut KBM. Itu salah. Padahal bangun malam dan tadarus itu mendidik karakter mereka dan itu belajar,”ulas Adian mengomentari penyempitan makna belajar.

Dalam diskusi itu Adian sempat menceritakan pengalaman masa kecilnya. Menurutnya, pada masa itu, anak-anak diberi kebebasan bereksplorasi. Alam menjadi laboratorium-nya. Main ke sungai, mencari ikan di sana, main bola dan permainan lainnya yang menggunakan alam sebagai pusat belajar, mendewasakan mereka.

“Anak kampung seperti saya nggak dicariin sama orangtua. Mau main ke sungai nggak pulang-pulang, jam 12 malam main bola, nggak papa. Tapi, kalau sekali saja ketahuan nggak ngaji, wah sudah. Dimarahi habis-habisan,”tutur lulusan Madrasah Diniyah Nurul Ilmi, Bojonegoro, Jawa Timur, itu sembari tergelak.

Penulis buku “Pendidikan Islam, Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab” itu menambahkan, membuat kurikulum tidak boleh berbasis keinginan orangtua murid. Sekolah macam itu pada akhirnya tidak memiliki visi karena mengikuti arus pasar.

Adian mensinyalir itulah perbedaannya dengan pengajar zaman sekarang.

“Guru zaman dulu semangat ngajar. Saya pernah punya guru bidang fikih di pesantren. Murid dua sekalipun, semangatnya sama. Tetap total mengajar,”ulasnya lagi.

Walaupun komersialisasi pendidikan marak saat ini, Ia pernah menemui seorang Kiai disebuah Ponpes yang tidak mau menerima bayaran dari orangtua murid. Alasannya sederhana namun sangat bermakna.

“Katanya dia takut kalau nerima bayaran, sekolahnya berkembang. Muridnya nambah. Kalau muridnya nambah, dia merasa nggak sanggup lagi ngajar,”tutur Adian.

Di balik sikapnya itu, sebetulnya mengandung kedalaman makna. Dengan tidak menerima uang dari orangtua murid, pimpinan ponpes itu bisa menggariskan kurikulum tanpa intervensi pihak luar pesantren.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kurikulum
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Anak Pasangan Lesbian Dibaptis, Presiden Jadi Walinya, Gereja Ngaku Menentang Perkawinan Homo
Tulisan selanjutnya Koalisi Partai Islam masih Miliki Posisi Tawar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?