Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Kelompok HAM Sebut Relokasi Etnis Rohingya Dilakukan secara Paksa

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 5 Desember 2020 16:45 4:45 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 5 Desember 2020 16:45
Bagikan
Diperkirakan 40.000 orang muhajirin Rohingya, minoritas Muslim tanpa kewarganegaraan, tinggal di India
Bagikan

Hidayatullah.com–Sekitar 1.600 pengungsi Rohingya dipindahkan ke Bhasan Char, sebuah pulau yang rawan banjir di Teluk Benggala, pada Jumat ini, lapor Reuters. Pemerintah Bangladesh mengatakan mereka semua telah setuju untuk dipindahkan.

Namun pengungsi Rohingya di Bangladesh mengatakan kepada BBC pada Oktober bahwa mereka tidak ingin dipindahkan ke pulau itu. Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah menyuarakan keprihatinan bahwa banyak keluarga yang direlokasi ke pulau itu di luar keinginan mereka.

Dilansir BBC pada Jumat (04/12/2020), Human Rights Watch mengatakan telah mewawancarai 12 keluarga yang namanya ada di daftar relokasi tetapi tidak mengajukan diri untuk pergi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan telah diberikan “informasi terbatas” tentang relokasi dan tidak terlibat.

Menteri Luar Negeri Bangladesh Abdul Momen mengatakan pada Kamis malam bahwa pemerintah “tidak akan membawa siapa pun ke Bhasan Char secara paksa. Kami mempertahankan sikap ini”.

Etnis Rohingya telah mengungsi dari Myanmar setelah penindasan militer yang dimulai pada tiga tahun lalu, di mana menurut PBB lebih dari 10.000 orang terbunuh, sementara 730.000 lainnya dipaksa untuk menyelamatkan diri.  Ratusan ribu pengungsi Rohingya sejak itu tinggal di Cox’s Bazar, kamp pengungsi yang luas di negara tetangga Bangladesh.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Rashida Khatun, 55, mengatakan kepada BBC pada bulan Oktober bahwa anak-anaknya termasuk di antara 300 pengungsi awal yang dikirim ke Bhasan Char, bertentangan dengan keinginan mereka pada awal tahun ini setelah menghabiskan beberapa bulan di laut berusaha meninggalkan Bangladesh.  Ketika wartawan BBC mengunjungi pulau itu pada Oktober, mereka tidak diberi akses ke pengungsi yang sudah tinggal di sana.

Pada hari Kamis, seorang pria berusia 31 tahun mengatakan kepada Reuters sambil menangis melalui telepon saat dia naik bus dari Cox’s Bazar: “Mereka telah membawa kami ke sini dengan paksa. Tiga hari yang lalu, ketika saya mendengar bahwa keluarga saya ada dalam daftar, saya melarikan diri dari blok, tapi kemarin saya ditangkap dan dibawa ke sini. “

Mohammad Shamsud Douza, wakil pejabat pemerintah Bangladesh yang bertanggung jawab atas pengungsi, mengatakan relokasi itu bersifat sukarela.  “Mereka pergi ke sana dengan senang hati. Tidak ada yang dipaksa. Pemerintah telah mengambil semua langkah untuk menangani bencana, termasuk kenyamanan hidup dan mata pencaharian mereka,” katanya.

Otoritas Bangladesh telah membangun di pulau itu selama tiga tahun, dengan biaya $ 350 juta (£ 270 juta). Tujuan mereka adalah merelokasi lebih dari 100.000 pengungsi untuk meredakan ketegangan di dalam kamp-kamp pengungsian di Bangladesh.

Awal tahun ini, Amnesty International merilis laporan yang memberatkan tentang kondisi yang dihadapi oleh 306 Rohingya yang sudah tinggal di pulau itu. Laporan tersebut berisi dugaan kondisi kehidupan yang sempit dan tidak higienis, terbatasnya fasilitas makanan dan perawatan kesehatan, kurangnya telepon agar pengungsi dapat menghubungi keluarga mereka, serta kasus pelecehan seksual oleh angkatan laut dan pekerja lokal yang melakukan pemerasan. .

Komodor Abdullah al Mamum Chowdhury, juru bicara Angkatan Laut, membantah tuduhan tersebut. “Kami merawat mereka sebagai tamu kami,” katanya. “Mereka diberi makanan yang layak dan akses ke semua fasilitas.”*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BangladeshBhasan ChHAMHuman Rights WatchrelokasiRohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemimpin yang Menghargai Kritik dari Rakyatnya
Tulisan selanjutnya Mengapa Bunuh Diri Semakin Meningkat di Kalangan Kaum Muda Iraq?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?