Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Sisi Lain Andani, Dokter Mujahid di Tengah Pandemi

Bambang S
Terakhir diupdate: 20 Januari 2021 09:59 9:59 am
Bambang S
Dipublikasikan 20 Januari 2021 09:59
Bagikan
DR Andani Eka Putra
Bagikan

Hidayatullah.com–Salah satu nama yang melejit pada era pandemi sekarang ini adalah Andani Eka Putra. Ia dokter yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Universitas Andalas

Andani terkenal dengan metode pool test dalam upaya  memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan menerapkan metode pool test.

Metode ini sempat menjadi pembicaraan hangat hingga tingkat level nasional. “Ada dua hal mendasar yang sangat efektif dan menguntungkan dengan metode ini. Pertama, pool test bisa mempercepat temuan dari sample dalam jumlah yang banyak. Kedua, untuk efisiensi biaya. Dengan pool test kita bisa menghemat biaya kerja dan pemeriksaan sampai 70 persen,” jelasnya.

Andani menambahkan, pool test sebenarnya sudah diterapkan di Amerika Serikat sejak 1940-an. Saat itu untuk mendeteksi wabah sifilis, klamidia, dan gonore pada pasien infertility.

Dengan metode pool test itulah, Andani bersama tim telah menyelesaikan hampir seratus ribu sample swab. “Bahkan, di sini kita pernah mencatat rekor memeriksa sampai tiga ribuan sample, dengan kerja non stop selama 24 jam,” kata ayah dari tiga anak ini.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Wawancara ini bukan mengupas lebih jauh metode pool test.  Wawancara yang dilakukan oleh Dodi Nurna, koresponden Hidayatullah.com di Padang ini melihat Andani di sisi lain yang mungkin belum banyak diketaui orang.

Berikut petikannya:

Anda dikenal suka menolong orang lain di tengah hidup yang serba materilistis. Dari mana Anda mendapatkan nilai seperti itu?

Ya, dulu sewaktu masih melaksanakan praktek dokter, saya sudah terbiasa tidak mengenakan tarif. Terserah mau dikasih berapa atau bahkan tidak sama sekali. Jika pasien itu dari kalangan tak mampu, dikasih berapapun tetap saya tolak. Saya gratiskan.

Saat menjalani kuliah S2 di UGM saya tetap meneruskan kebiasaan menggratiskan tersebut, kendati yang saya lakukan membuat orang terheran-heran karena hal-hal seperti itu di luar kebiasaan seorang dokter.

Nilai-nilai ini saya dapatkan dari orangtua dan pengalaman waktu saya masih jadi mahasiswa di Faktultas Kedokteran Universitas Andalas. Ayah saya dikenal sering menolong orang lain.

Pernah mendapat cibiran atau lainnya? Lantas apa yang Anda lakukan?

Cibiran atau hinaan bukan hal baru. Bagi saya, itu tidak masalah karena saya tidak mencari popularitas dan keuntungan. Cibiran hanya menjadi masalah bagi mereka yang mencari popularitas. Kan kalau ada yang tidak senang maka papularitas yang bersangkutan bisa ambyar. Tetapi bagi saya, tidak masalah mau orang sinis, orang tidak senang. Bahkan saya selalu berbaik sangka, yang sinis dan kurang senang itu hanya karena mereka belum mengerti.

Jadi, kita tidak mencari kekayaan, kita tidak mencari popularitas sama sekali. Kita capek-capek begini bukan untuk mencari popularitas. Kita bekerja keras siang dan malam, hanya bertujuan beramal dan bagaimana kita bisa menolong masyarakat serta membantu pemerintah mengatasi pandemi ini. Semua kita lakukan dengan penuh keikhlasan. Jadi, tak ada kepentingan apapun selain untuk masyarakat dan negara ini.

Bagaimana orangtua mendidik Anda dan apa yang paling mereka tekankan?

Sejak masa kecil saya ingat bagaimana orangtua saya itu sering menolong orang, sehingga sifat itu menurun kepada kita, anak-anaknya.

Meski suka memberi dan menolong orang, namun ada pula yang ditolong malah membalas dengan celoteh yang tidak menyenangkan. Sehingga ibu saya, di masa itu pernah menyatakan, “Papamu itu orangnya sok-sial”.  Sok-nya bagi orang yang ditolong, dan sialnya bagi orangtua saya karena dicibir dan sebagainya.

Tetapi prinsip suka membantu orang lain yang ditanamkan oleh orangtua saya itu sebenarnya sangat bagus. Karena tidak akan pernah ada orang jatuh miskin gara-gara suka menolong orang lain. Kuncinya semua harus dilakukan dengan ikhlas.

Siapa orang yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidup Anda sehingga menjadi seperti sekarang?

Tentu pola-pola orangtua saya dan bimbingan yang beliau berikan sejak saya kecil, tentu sangat berpengaruh. Begitu pula didikan para guru dari SD, SMP hingga SMA.

Kemudian ditambah lagi pengalaman sewaktu saya kuliah di Fakultas Kedokteran Unand. Saya giat mengikuti berbagai organisasi mahasiswa. Dari situ memberikan pengaruh terhadap sikap dan pola pemikiran saya.

Apa imun terbaik bagi tubuh hingga dapat menangkal Covid-19?

Ikhlas dan gembira. Kalau gembira, tingkat imunitas akan bagus. Jika ikhlas, kita akan selalu merasa plong, tidak ada pikiran macam-macam sehingga   tidak akan stres. Stres itu membuat tingkat imunitas tubuh cepat menurun.

 

Anak dan Istri Bagian dari Perjuangan

Sejak pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia, waktu Andani pun banyak tersita untuk kegiatan di laboratorium.  berangkat pagi, pulang hingga larut malam pun dilakoninya hampir saban hari.

Bahkan, setelah metode pool test yang diterapkan bersama timnya membuahkan hasil siginifikan, ia pun sering diundang ke berbagai kota untuk melakukan sinergi dan kerjasama. Sehingga, tak jarang Andani meninggalkan istri dan anak-anaknya.

Bagaimana Istri dan anak menyikapi kegiatan Anda yang padat serta apa harapan kepada mereka?

 Alhamdulillah, mereka dapat menerima dan memaklumi tugas-tugas saya. Mereka dapat menjalani kondisi ini dengan sabar. Nyaris tidak ada protes dari anak-anak, kenapa saya sering terlambat pulang, bahkan meninggalkan mereka ke luar kota.

Menghadapi situasi dimana saya harus lebih bekerja keras lagi, tentu diharapkan mereka lebih ekstra sabar lagi. Mereka paham dan memaklumi, bahwa kita ikhlas  capek-capek begini hanya berjuang untuk menolong masyarakat dan membantu pemerintah. Bukan untuk mencari keuntungan pribadi atau mencari popularitas.

Bagaimana mewariskan atau mengajarkan nilai-nilai yang selama ini jadi pegangan hidup?

Saya berupaya menanamkan pengertian bahwa mereka, anak serta istri, adalah bagian dari perjuangan ini. Jika mereka terus bersabar, tetap ikhlas, serta terus memahami perjuangan saya, tentulah mereka adalah bagian dari perjuangan ini.

Ya anggap saja ini masa perang. Dalam perang itu semuanya kita keluarkan, kita kerahkan. Jangan ragu lagi.

Jika disuruh menilai secara jujur, apakah Anda sudah menjadi ayah dan suami yang ideal?

Tentu sulit ya, mencapai tipe ayah atau suami yang benar-benar ideal. Tapi, kita wajib berupaya untuk mencapainya. Memang sekarang ini saya belum dapat memberi waktu yang full bagi mereka, terlebih di masa perang melawan pandemi.

Sebab itu, saya tumbuhkan keikhlasan dan semangat agar mereka menjadi bagian dari perjuangan ini.

Apa pesan Anda bagi orangtua, khususnya ayah, terkait urusan pendidikan anak?

Tentu kita orangtua, perlu menyadari bahwa pendidikan itu sangat penting untuk anak-anak. Menurut saya orangtua yang disebut berhasil itu adalah yang berhasil mendidik anak-anaknya.

Orangtua yang berhasil, bukan orangtua yang gemilang karirnya, tinggi posisinya. Kalau hanya berhasil mendapatkan posisi yang mentereng, itu berarti hanya dia sendiri yang berhasil, bukan keberhasilan dalam mendidik anak-anak. Kita hidup ini untuk mendidik anak kita. Jadi ya anak-anak tidak harus cerdas saja, tapi juga harus berakhlaq mulia.*

 

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:andani eka putradokter andanidokter mujahiddokter padangdr andanilaboratorium halalmetode pool testUniversitas Andalas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tingkatkan Imunitas, Ustadz Fadlan Perkenalkan Terapi Woukouf Khas Papua, Layani Muslim dan Non-muslim
Tulisan selanjutnya New York Jets Pekerjakan pelatih Muslim pertama dalam Sejarah NFL

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?